Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Aku Butuh Seseorang

Terkadang…
Aku butuh seseorang,
yang duduk diam di kursi seberang,
sabar menanti, berusaha memahami
sendiri.
Aku butuh seseorang, 
yang tabah menungguku di kursi seberang,
saat aku asik menekan tuts-tuts di laptopku,
tanpa mengusik, apalagi berisik.
Aku ingin seseorang,
yang tidak bertanya saat aku menangis, 
menatapku hangat dengan senyuman,
seolah berbisik, “Kau akan baik-baik saja,”
dari kursi seberang.
Aku butuh seseorang, 
di kursi seberang, dengan cangkir kopi,
dan lesung di pipi,
mengerti.
Aku ingin seseorang, 
menemani,
bersama hangat dua cangkir kopi,
tanpa basa-basi,
mencintai.
Tapi itu terkadang,
saat aku merasa sepi,
lelah sendiri,
dan ingin memiliki.

Silakan..


Silakan angkat hati ku setinggi-tingginya, dan kelak urusanku untuk menjatuhkannya sejatuh-jatuhnya. 
Silakan buat hatiku terbang melayang, soal patah, biar nanti aku yang berusaha tuk rekatkan
Silakan buat aku selalu ingin melihatmu, soal kepergian yang akan kau temui, itu akan ku tangani.
Silakan mencintai orang lain, soal hatimu, itu hak mu
Perihal rasa yang ku punya untukmu, biar itu tanggung jawabku.
Soal aku terluka, ah, akan ku pertimbangkan tuk mengemis, merintih, dan memaksa waktu tuk membantu
Tak perlu kau terbebani dengan rasa yang ku punya, 
Cukup buat aku bisa terus memandangmu, mendengarmu, dan berada di dekatmu.
Risk and return, right?
Aku berani berinvestasi,
maka aku juga berani menerima resiko
Sekalipun semua orang sudah tahu,
return dari investasi yang sedang ku lakukan
tapi ku kira, hatiku terlalu luas
dan tak pantas untuk takut.
Ini rasaku, dan aku yang akan bertanggung jawab.
Maka, izinkan aku mencintaimu dengan berlebihan, 
hingga aku merasa cukup.
Aku ingin jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, meski kelak aku (mungkin) hanya bisa merangkak
Setelah ter-enyak mendekati lenyap

Senja Memisahkan Kita

A

ku mencoba bercengkrama dengan senja

Membicarakan beberapa hal

Meski kadang menanyakan hal-hal yang tak patut tuk dipertanyakan

Aku sadar, senja tak sedamai pagi,
pun tak sedingin malam

Namun setidaknya senja senja bisa memutuskan beberapa keraguan

Ku akui,. aku tidak terlalu menggilai senja

sebab belum ku temukan senja yang damai,
tenang, dan hening.

Senja selalu riuh
oleh pekikan-pekikan kendaraan tak tahu malu
dihiasi wajah-wajah lelah dipecundangi hari

Ah,senja pun selalu memisahkan kita,
dan aku membutuhkan pagi

yang memberikan harapan tuk sebuah pertemuan
Aku, dan Waktu.



07/04/15


Mata Sayumu, Surga yang Pernah Ada


Hembusan angin menyadarkanku dari lamunan
Ketika sejenak aku berpikir
Aku kembali masuk dalam dunianya
Inikah surga? Pikirku
Padahal hanya sebatas tatapan biasa
Namun semua terasa berbeda ketika melihat matanya
Benar. Aku sempat tersesat mencari jalan keluar
Keluar dari pesona mata sayu dan datarnya
Berusaha kembali tersadar dan memperhatikan sekitar
Supaya tak ada yang tahu aku sempat berkelana di surga
Saat kedua mata memandang   
~~~
Hiruk pikuk sekitar tak ku hiruakan
Aku masih asik memikirkan hal luar biasa yang baru kualami
Berkelana ke surga, yang entah di mana
Ini aneh, banyak syair lagu yang mengatakan
Ada hal seindah pelangi dalam mata seorang wanita
Tapi aku justru melihat surga ketika menatap mata sayunya



Padang, 21 November 2014
Qamarul Hadi

Wahai Lelaki yang Membacakan Puisi


Wahai lelaki yang membacakan puisi
Mendengar suaramu yang begitu lantang
Membacakan kata demi kata perjuangan
Membuat hati ini terguncang
Hingga mata tak kuasa berhenti memandang

Wahai lelaki yang membacakan puisi
Ingin sekali rasanya mendengarmu membacakan puisi begitu lama
Ingin ku mendengar setiap  kata
yang mungkin biasa saja
Namun saat kau yang mengucapkannya, aku tergila-gila

Wahai lelaki yang membacakan puisi
Memandangmu dengan nyata
Menikmati wajahmu yang begitu tegas
Suarmu tak kalah tegas dengan wajahmu
Ingin ku rekam setiap kata yang kau ucapkan
Ingin ku ingat setiap tatapan
yang tidak sengaja pernah mempertemukan
Andai kau tahu betapa terguncangnya hati ini
saat mata tak sengaja saling menyapa
Hanya saja mulut terlalu angkuh
Tuk mengucapkan kata semisal 'hai'

Wahai lelaki yang membacakan puisi
Memandangmu itu menyenangkan
Bagai melihat gunung. Begitu menenangkan
Ada senyum yang selalu refleks saat otak ini mengingat namamu
Ada rasa yang selalu ingin melihatmu, memandangmu
Meski dari kejauhan, diam-diam selalu mencari sosok dirimu
Konyolnya ada gemuruh saat berada di dekatmu
banyak tingkah yang salah saat bersamamu
Wahai lelaki yang membacakan puisi
Saat aku tergila-gila, aku gila.
Ingin sekali selalu berada di dekatmu
Selalu ingin tahu apa yang sedang kau lakukan
Ingin tahu kau di mana, meski tak peduli dengan siapa

Wahai lelaki yang membacakan puisi
Tidak. Aku tidak sedang jatuh cinta
ku harap tidak
Ini hanya rasa kagum yang membuatku gila
Tidak. Aku tidak sedang jatuh cinta
Sebab yang ku tahu cinta tak serumit ini
Cinta tak memiliki alasan
Sedang aku, begitu banyak alasan yang bisa ku ungkapkan

Tidak. Cinta seharusnya tidak seperti ini
Aku hanya sedang berada dalam euforia
Yang aku bahkan tidak mengerti
Mengapa bisa segila ini

Wahai lelaki yang membacakan puisi
Dengan gila aku mengakui
Bahwa kau begitu mengagumkan.

Jejak di Nadi yang Berdetak


Kebohongan itu seperti penghianatan 
yang sudah pasti mewarisi kekecewaan
Bagiku mencintaimu itu seperti penghianatan
yang pernah ku lakukan
Tak bisa ku lupa meski berusaha tuk berdusta

Seperti menulis dengan pena
Aku bisa menutup setiap kesalahan dengan tipe ex
tapi tipe ex selalu meninggalkan jejak
Seperti aku yang pernah mencintaimu
meski dengan penuh dusta kukatakan tidak
Tapi aku tahu bahwa dustaku
selalu meninggalkan jejak di nadi yang berdetak

Hobiku adalah berbohong pada diriku sendiri
berbohong tentang tak pernah mencintaimu
Dan rindu ini adalah hianat
yang ku simpan dengan rapat

Pergimu adalah kecewaku
sebab meninggalkan benih penghianat
pada diri yang menyimpan kebohongan
atas rasa yang menari dalam kecewa
Penghianatanku, melukis jejak di nadi yang berdetak

Di sini, Sayang ku Pijak


Aku mencintaimu dalam diam
Diam-diam aku mencintaimu
Mencintaimu yang mencintai orang lain
Lain saja rasanya saat melihatmu dulu
Dulu saat kau begitu dekat
Dekat dengannya hingga aku hanyalah bayangan
Bayangan yang dengan bodohnya mengikutimu
Mengikutimu tanpa rasa lelah
Lelah  hanyalah amarah
Amarah pada diri sendiri
Sendiri yang menyamarkan sepi
Sepi yang ku anggap ilusi
Ilusi akhirnya memaksaku tuk meratapi
Meratapi waktu yang tanpa kamu
Kamu yang di sana dan aku yang di sini
Aku mencintaimu bukan karena nyaman
Nyaman (mungkin) akan menenggelamkanku dalam angan
Angan tuk mendapatkanmu yang tanpa alasan
Alasan menurutku adalah cinta tanpa dasar
Dasar yang orang-orang banyak tak paham
Pahamku bahwa cinta harus berdasarkan
Berdasarkan keyakinan misalnya
Misalnya aku yang dengan penuh kebencian mencintaimu, sayang !
Sayang !
Kata yang bagiku seksi
Seksi setelah kata ibu
Ibu adalah kata terseksi dan teromantis di dunia
Dunia yang sedang ku pijak dan yang (mungkin) akan ku pijak.
****

Aku Ingin Menulis Puisi

"Aku ingin menulis puisi," bentakku dalam hati sedari tadi. "Aku ingin kertas putih itu mendapat sentuhan. Sentuhan lembut dari pena yang ku genggam" hatiku menuntut.
Benar. Malam ini aku ingin menulis puisi. Menulis puisi yang akhir-akhir ini terasa sulit bagiku.
Ah, sudah lama sekali rasanya tidak ku lakukan. Lama sekali tangan ini tak berkoneksi dengan hati.
"Aku ingin kertas tak bernoda itu mendapatkan coretan tangan ini," batinku kembali merontak.
Namun tangan ini tak kunjung connect dengan hati. Ingin ku tumbukkan saja tangan ini ke dinding. Ingin sekali aku menyakiti tangan ini. Ingin sekali aku membuat tangan ini mengerti dengan apa yang ku inginkan.
Namun lagu yang baru saja diputar Amoy menyadarkanku. Bahwa bukan tangan ini yang salah. Bukan tangan ini yang berdosa sebab tak kunjung menggoreskan kata.
Kemudian hatiku angkat bicara dan mengakui kesalahannya. Benar, hatilah yang salah sebab ia memutuskan kosong terlalu lama. Hatilah yang terlalu angkuh sebab ia menutup begitu rapat. Hatilah yang tak juga menjalin komunikasi dengan tangan ini.
Ingin ku, hati ini kembali dilukis. Terserah lukisan  apa. Entah luka entah cinta.  Bagiku, luka dan cinta itu tak jauh beda. Sama-sama meninggalkan kenangan.
Bukankah memiliki kenangan itu baik? Sebab itu artinya, kau diberikan ingatan yang bagus oleh Penciptamu.
Aku ingin kembali menulis puisi. Hal yang dulu merupakan hobi. Tapi, bisakah tangan ini kembali menulis, jika hati tak juga memiliki intuisi?
Yang pasti,
aku ingin menulis puisi..

Kepergianmu Ku Maknai Kenangan


Terkadang ketiadaan berarti kehampaan
entah hampa berarti tiada,
bagiku sama saja
Ku pikir, ketiadaanmu adalah nyawa yang kau bawa
membawa separuh nyawaku, hingga terpuruk adalah kemampuan baruku.
Aku ingat,
ketika kau memilih pergi
dan cinta memutuskan ikut bersamamu
Mungkin hanya kenangan yang kau izinkan untuk kembali
Kepergianmu ku maknai kenangan,
kenangan yang kau suruh kembali
saat kau memutuskan pergi.
Untuk menemaniku  meratapi sepi
Keluhku beberapa waktu lalu
untuk membakar segunung kenangan yang kau cipta
Sebab ku  sadari, akan ada masa
di mana aku harus merelakan
dengan membakar setiap kenangan
yang meski melekat dalam ingatan.
Membiarkannya menjadi debu,
meski hatiku pernah kau buat menggebu-gebu
Seperti kata mereka,
bahwa hidup hanya cerita
Cerita tentang meniggalkan dan yang ditinggalkan

Dariku, yang baru saja membakar setiap kenangan
yang pernah kau izinkan kembali

Tak selamanya, Waktu


Di malam yang riuh akan butiran-butiran hujan,
ku coba untuk menuliskan apa yang ku pikirkan
Tak ingin jadi beban,
hingga kata-kata jadi sasaran
Ibarat hujan,
yang pernah aku gilai dengan nista
Saat masih ada kau, aku, dan kita
Aku masih menyukai hujan, tentu
Meski kini hanya ada kau dan aku
Namun ada saat di mana aku lelah menggilai hujan
Ku beri misal,
saat hujan mencumbui jemurun
dengan nistanya
Membuatku tak percaya pernah menggilai hujan segila itu
Tak selamanya aku akan mencintai hujan, yakinku
Sama. Seperti. Tak selamanya Rindu itu Kamu, Waktu.

Andai Ada Kamu di Sini

Andai ada kamu di sini
Mungkin aku punya jiwa untuk menyusuri
setiap sudut gedung ini

Andai ada kamu di sini
mungkin aku tidak akan menggunakan tatapan ini
Setiap hari..
Tatapan ini..
tatapan kosong yang kamu selalu ada di dalamnya

Andai ada kamu di sini
mungkin setiap gedung abu-abu ini..
akan terasa warna-warni

Andai ada kamu di sini
mungkin aku tidak memerlukan mereka
mereka yang bermuka dua

Andai ada kamu di sini
mungkin setiap pagi aku tidak membutuhkan kopi

Andai ada kamu di sini
Tak perlu satu ruangan
Tak perlu satu "tujuan"
Yang penting aku tau kamu di sini
Yang penting aku punya harapan
Harapan bisa bertemu denganmu
di suatu tempat di "hutan" ini

Tapi kau jauh...tidak terlalu jauh..
Tapi cukup jauh
Cukup untukku merasakan kekosongan ini

Andai ada kamu di sini
Mungkin aku tidak perlu mencari tempat untuk bisa kembali

Andai ada kamu di sini
Mungkin setiap kesendirian ini akan terasa berdua
Walau hanya 'terasa' meski tak nyata berdua

Andai ada kamu di sini

Andai..

Kamu...

Ada..

di..

Sini..

Pasti Mati

Terkadang, begitu melelahkan berada di sini. Di dunia ini.
Banyak hal-hal sepele yang membuat nyawa ini ingin pergi.
Tidak mampu mencairkan kebekuan hati.
Aku kadang benci dengan hati ini.
Yang tak bisa mengerti meski sekali..
Aku kadang benci mata ini
Yang melihat tanpa henti
Tapi hanya ada kekosongan tak berarti
Aku kadang benci kepala ini
Tak mampu berhenti berpikir, tapi tak memiliki arti.
Aku kadang benci mulut ini
Yang tak bisa menyuarakan kata hati.
Aku kadang benci hidup ini.
Yang suatu saat nanti pasti mati.

aku harap kamu dengar

Aku harap kamu dengar
Udah berapa tetes air mata karena dia yang udah aku usap buat kamu..
Udah berapa senyum yang hilang dan akhirnya aku yang berusaha munculin lagi..
Kamu mungkin gapernah sadar apa yang aku lakuin ini selalu aja tentang kamu...
Semoga kamu bukan gamau tau..
Aku ga terlalu ngerti sebenarnya apa yang aku lakuin.. Aku selalu resah  ngelakuin hal untuk kamu,
bukan soal untuk pembalasannya.. tapi aku gelisah ngelakuin ini semua karena cinta atau terpaksa.
Kemudian aku bercermin.. mata aku ga nunjukin sedikitpun keterpaksaan.. aku bertahan buat kamu.
Entah ini tulus atau bodoh, aku gatau benar tentang cinta.. 
Namun yang aku tau, cinta memang berkorban sampai segininya.. pengorbanan yang tak pernah tentu batas. 
Sayangnya.. beberapa cinta berakhir tak berbalas.
Tapi.. apa cinta yang hebat harus bertahan sampai sekarat? 
Kamu selalu senyum ke aku, tapi bukan tersenyum bersamaku.. apalagi karena aku.. 
Ketika kamu bahagia yang ada cuma dia.. 
jangan salahin aku ngedoain kamu sedih terus..
Karena... cuma ketika kamu sedih.. Aku kamu anggap ada..


copas dari soundcloudnya @landakgaul



pertama kali denger dari soundcloudnya Dara Prayoga, gue langsung nutup mata dan menikmati setiap kata-kata yang dia ucapkan.
"ini orang kampret amat ya nulis puisi sebagus ini", itu komen pertama gue.
gue sih ga terlalu ngerti puisi yang bagus itu kayak apa. 
ya kalo kata-katanya sesuai dengan apa yang pernah gue rasain atau menurut gue kata-katanya bener, maka itu berarti puisinya bagus. wkwkw

ga nyambung fik,