From Mancunian to be Madridista
Berhubung secara teknis gue jomblo jadi di sabtu malam ini gue mau nulis satu kasus yang bikin gue sedikit kesel karna harus ngejelasin berkali-kali kepada orang-orang.
Gue suka nonton bola, dan saat ini gue adalah Madridista. Tidak hanya untuk saat ini, tapi juga untuk selamanya.
Jujur, dulu gue adalah Mancunian banget. Tidak bisa dipungkiri, gue mulai suka Madrid sejak CR7 pindah ke Madrid. Sebelum itu, bahkan gue ga tau apa itu Madrid. Karena kekurangan akses informasi sehingga yang gue pahami dulu cuma Liga Inggris dan Liga Champion.
Dan gue sering di-bully karena banyak yang menganggap gue mencintai klub karena sosok seorang pemain. Menurut gue, yang gue lakukan itu wajar. Ibaratnya, kita mencintai sebuah keluarga setelah kita mencintai salah seorang anggota keluarganya. Atau sebaliknya, kita lebih dulu mencintai sebuah 'keluarga' lalu sangat mencintai salah seorang anggota keluarga yang baru. Dan dua hal itu terjadi pada diri gue sebagai seorang Madridista.
Dan berikut beberapa alasan basi yang bisa gue jelaskan tentang From Mancunian to be Madridista
1. TVOne menyiarkan dua liga sekaligus
Gue inget banget, sebelum CR7 ke Madrid, TVOne hanya menayangkan liga Inggris. Sehingga gue tau banyak tentang klub-klub Inggris dan darah gue menyatu di dalam Liga Inggris. Namun di 2009 TVOne mulai mendua. Malam minggu jadwalnya Liga Inggris dan minggu malam jadwalnya Liga BBVA. Musim berikutnya, TVOne hanya menyiarkan liga BBVA yang membuat gue mulai kehilngan akses dengan Liga Inggris. So, gue mulai mempelajari Liga Spanyol
Gue inget banget, sebelum CR7 ke Madrid, TVOne hanya menayangkan liga Inggris. Sehingga gue tau banyak tentang klub-klub Inggris dan darah gue menyatu di dalam Liga Inggris. Namun di 2009 TVOne mulai mendua. Malam minggu jadwalnya Liga Inggris dan minggu malam jadwalnya Liga BBVA. Musim berikutnya, TVOne hanya menyiarkan liga BBVA yang membuat gue mulai kehilngan akses dengan Liga Inggris. So, gue mulai mempelajari Liga Spanyol
2. Gue pindah ke Jakarta
Juli 2009 gue melanjutkan SMA di Jakarta. Yang membuat gue jarang banget nonton bola karena beberapa hal. Gue cuma sempat nonton berita bola ataupun baca berita di koran. Dari situ gue mulai mencari tau sejarah Madrid
Juli 2009 gue melanjutkan SMA di Jakarta. Yang membuat gue jarang banget nonton bola karena beberapa hal. Gue cuma sempat nonton berita bola ataupun baca berita di koran. Dari situ gue mulai mencari tau sejarah Madrid
3. MU batal ke Jakarta
Karena bom di hotel JW Marriot, MU batal menginjakkan kaki di Jakarta dan main dua kali di Malaysia. Gue kesel aja waktu itu.Mungkin ini alasan paling basi yang gue punya.
Karena bom di hotel JW Marriot, MU batal menginjakkan kaki di Jakarta dan main dua kali di Malaysia. Gue kesel aja waktu itu.Mungkin ini alasan paling basi yang gue punya.
4. 2010 gue mulai aktif nonton bola
Gue mulai ngerti La Liga. Bagaimana persaingan Madrid-Barca dan hal-hal mendasar lainnya.
Gue mulai ngerti La Liga. Bagaimana persaingan Madrid-Barca dan hal-hal mendasar lainnya.
5. Faktor 'membenci' Messi
Sudah tidak rahasia lagi kalo gue adalah antiMessi. Sejak final Liga Champion MU vs Barca 2008, gue langsung gak suka sama Messi. Alasannya klasik, karena dia yang cetak 2 gol ke MU dan Barca juara. Iya, sesederhana itu :D
Jadi, mudah buat gue mulai mencintai Madrid da Antj Barca. Hehe
Sudah tidak rahasia lagi kalo gue adalah antiMessi. Sejak final Liga Champion MU vs Barca 2008, gue langsung gak suka sama Messi. Alasannya klasik, karena dia yang cetak 2 gol ke MU dan Barca juara. Iya, sesederhana itu :D
Jadi, mudah buat gue mulai mencintai Madrid da Antj Barca. Hehe
Hmm cuma itu aja sih. Intinya itu karena gue lebih punya akses ke Madrid dibanding MU. Sekarang akses informasi udah luas. Meskipun gue juga lumayan jarang nonton bola karena sedang di 'penjara' tapi internet sudah di tangan.
Dan gue merasa gue sangat sangat mencintai klub gue saat ini.
Dan gue merasa gue sangat sangat mencintai klub gue saat ini.
Awal-awal gue jadi Madridista, gue adalah ultras, penghuni tribun Selatan Santiago Bernabeu. Hal ini karena gue punya banyak 'seteru abadi' di SMA. Temen-temen gue lumayan banyak yang cules. Jadi karena biasanya gue sering di-bully, gue harus tahan banting dengan bully-an mereka, gue harus bisa balik mem-bully.
Sedikit memory SMA yang masih lekat di ingatan.
Saat Madrid kalah 5-0 di Camp Nou, gue males banget harus berangkat ke sekolah. Karna sudah pasti di-bully habis-habisan. Dan bener aja, kelas yang awalnya heboh banget, pas gue masuk tiba-tiba kelas serasa kuburan. Heniiingggg sekali.. Beberapa detik kemudian terdengar kicauan-kicauan para lelaki. Tawa-tawa yang bikin gue lemes beranjak ke tempat duduk. Hanya bisa senyum basa-basi dan diam. Semakin gue diam, anak-anak makin menggila mem-bully gue. Oh my God. Kalo inget-inget itu, gue jadi seneng sendiri. Ga tau kenapa tapi moment itu lucu aja.
Saat Madrid kalah 5-0 di Camp Nou, gue males banget harus berangkat ke sekolah. Karna sudah pasti di-bully habis-habisan. Dan bener aja, kelas yang awalnya heboh banget, pas gue masuk tiba-tiba kelas serasa kuburan. Heniiingggg sekali.. Beberapa detik kemudian terdengar kicauan-kicauan para lelaki. Tawa-tawa yang bikin gue lemes beranjak ke tempat duduk. Hanya bisa senyum basa-basi dan diam. Semakin gue diam, anak-anak makin menggila mem-bully gue. Oh my God. Kalo inget-inget itu, gue jadi seneng sendiri. Ga tau kenapa tapi moment itu lucu aja.
Kemudian pas Madrid kalah pinalti di semi final LC vs Bayern. Dimana CR7 sama Kaka gagal dalam eksekusi pinalti. Juga pas CR7 bikin own goal. Pokoknya SMA itu masa-masa terindah dalam hidup gue sampai saat ini. Walaupun sering di-bully, tapi itulah yang memperindah pertemanan.
Udah gitu aja :)
.png)





0 komentar: