Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Cara Membuat Jurnal Akuntansi dengan Mudah

Cara Membuat Jurnal Akuntansi dengan Mudah

Dalam akuntansi dan pembukuan, jurnal adalah semua transaksi keuangan suatu badan usaha atau organisasi yang dicatat secara kronologis dan bertujuan untuk pendataan, termasuk di dalamnya jumlah transaksi, nama-nama transaksi baik memengaruhi atau dipengaruhi, dan waktu transaksi berjalan. Proses pencatatan ini disebut penjurnalan. Jurnal dikenal juga sebagai buku pemasukan utama books of original entry karena menjadi tempat terjadinya pencatatan transaksi pertama atau penyesuaian pemasukan adjusting entries
Untuk memahami jurnal akuntansi kita harus memahami dasar akuntansinya terebih dahulu yaitu Siklus akuntansi. Siklus akuntansi merupakan suatu proses pengolahan data yang terdiri dari urutan transaksi yang berdasarkan bukti transaksi, sehingga dapat menghasilkan informasi laporan keuangan.
Kegiatan menjurnal merupakan kegiatan pencatatan yang pertama kali dilakukan dalam siklus akuntansi . Artinya, sebelum menjurnal kita harus mengumpulkan data transaksi dan menganalisa data transaksi tersebut yang harus dilakukan terlebih dahulu. Tanpa data yang benar dan pasti, mustahil mampu menghasilkan jurnal yang benar serta akurat. Oleh sebab itu, untuk menghasilkan jurnal yang benar, pastikan bukti transaksinya ada, datanya jelas dan benar (bisa dipertanggungjawabkan).
Beberapa hal yang perlu dipahami agar menjurnal lebih mudah dan mengasyikan :
1. Format Laporan Neraca  Laba Rugi
anda wajib hafal dan pahami isi masing masing laporan Neraca dan Laba Rugi berikut :
Format-neraca-laba-rugi-sedehana
2. Persamaan Akuntansi
Dalam persamaan Akuntansi, bagian yang dimiliki perusahaan diberi nama asset (harta) di sisi kiri dan di sisi kanan terdapat sumber pembelanjaan yang terdiri dari hak kreditur atau disebut kewajiban (liabilities) dan hak pemilik yang disebut equities atau Capital (modal). Alat yang digunakan sebagai dasar analisis adalah persamaaan akutansi. Persamaan akuntansi menunjukkan persamaan antara aktiva atau harta dengan pasiva yang terdiri dari utang dan modal
persamaan akuntansi
Kekayaan Perusahaan (AKTIVA) = kewajiban (alias UTANG) + Ekuitas Pemilik (alias MODAL)
Dengan kata lain: di satu sisi perusahaan memiliki aktiva (kekayaan), di sisi lainnya perusahaan juga memiliki utang (kewajiban) dan modal (ekuitas pemilik). Kondisi ini akan terus berlansung secara seimbang dari waktu-ke-waktu. Perhatikan kembali gambar contoh NERACA di atas, di sisi sebelah kiri (Aktiva) jumlah nilainya 70, di sisi kewajiban dan ekuitas jumlah nilainya juga 70, seimbang (balance). Setiap perubahan di satu elemen selalu diimbangi oleh perubahan pada elemen lain.
3. Peraturan Debit dan Kredit
Jika logika persamaan akuntansi di atas bisa dipahami dengan baik, maka menghafalkan prosedur debit dan kredit akan menjadi mudah.
AKTIVA = KEWAJIBAN + (MODAL – PRIVE) + (PENDAPATAN – BIAYA )
Pendapatan dan biaya nampak dalam tanda kurung di dalam persamaan akuntansi karena hal tersebut mempengaruhi modal pemilik . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini
debet kredit
Catatan:
Pada Aktiva: Debit jika nilainya bertambah, atau Kredit bila nilainya berkurang.
Pada Kewajiban:Debit jika nilainya berkurang, atau Kredit bila nilainya bertambah.
Pada Modal Pemilik:Debit jika nilainya berkurang, atau Kredit bila nilainya bertambah.
Pada Prive : Debit jika nilainya berkurang, atau catat Kredit bila nilainya bertambah.
Pada Pendapatan: Debit jika nilainya berkurang, atau Kredit bila nilainya bertambah.
Pada Biaya : Debit jika nilainya berkurang, atau Kredit bila nilainya bertambah.
Agar mudah memahamai bagaimana membuat jurnal akuntansi ada 3 hal yang harus dilakukan :

Ilustrasi

Lihat ilustrasi Transaksi berikut : “Katakanlah bukti transaksi sudah ada ditangan anda, yaitu berupa surat pinjaman dari bank. Perusahaan meminjam uang sebesar Rp 250,000,000 dari bank. Bagaimana membuat jurnal atas transaksi ini? “
1. Identifikasi Transaksi melibatkan akun mana
Perhatikan contoh format NERACA sebelumnya. Pinjaman dari bank tergolong utang maka akun yang terlibat adalah akun ‘Utang’ Uang yang diterima dari bank akan dimasukan ke kas, maka akun lainya yang terlibat adalah akun ‘Kas’. Sehingga ada 2 akun yang terlibat dalam transaksi ini, yaitu: Utang dan Kas.
2. Identifikasi Prosedur Debit Kredit terhadap transaksi tersebut
Untuk masing-masing akun yang terlibat, apakah nilai akun tersebut akan menjadi bertambah atau berkurang, akibat dari transaksi yang akan anda jurnal? Akun ‘Utang’ sudah pasti bertambah, di sisi lainnya akun ‘Kas’ juga bertambah.
3. Hitung nominal atas transaksi tersebut
Untuk masing-masing akun nilainya adalah Rp 250,000,000.
Dengan demikian,maka jurnalnya: Debit akun Kas sebesar Rp 250,000,000 dan Kredit akun Utang sejumlah senilai yang sama. Saya biasa menuliskannya dengan cara:
[Debit]. Kas = Rp 250,000,000
[Kredit]. Utang = Rp 250,000,000
Mudah sekali bukan? anda pasti bisa dan tidak pusing lagi sekarang…
Sumber: jurnalakuntansikeuangan
http://zahiraccounting.com/id/blog/cara-membuat-jurnal-akuntansi-dengan-mudah/

Sebuah Rahasia

Aku bahkan belum kemana-mana. Tapi aku sudah merindukan tempat ini. Tempat dimana kita bertemu setiap hari. Aku merindukanmu!
Aku ingin menulis setiap jengkal perjalanan dan pertemuan denganmu.

Hari ini, ku putuskan untuk menjemput semua ingatan dan kenangan. Karena telah ku ikrarkan tuk melupakan dan mengikhlaskanmu.

Mungkin catatan ini tak kan ku mulai dari awal. Akan ku tulis setiap yang ku ingat. Dan setiap yang mampu ku tulis.

Hari ini aku berjanji akan membuka semua rahasia dalam hati. Karena sudah cukup aku memendam, dan yang terpenting, sudah tak lagi kau mengisi hatiku. Hatiku kini bagai udara. Bebas siapapun yang ingin memilikinya.

Dan aku harap kau akan membacanya. Tak perduli bagaimana caranya. Aku ingin kau tahu, bahwa aku pernah mencintaimu dengan sebegini dalam. Dan kau harus tahu, ada orang sebodoh aku yang merindukanmu setiap waktu, tapi tak sedikitpun mencoba untuk menanya kabarmu, apalagi mengajak bertemu.

Aku ingin kau tahu, bahwa aku pernah beberapa kali menangisimu. Merindukanmu dalam diam, dan ku pendam dalam tawa dan air mata. Aku ingin kau tahu, bahwa aku pernah sangat merindukanmu, hingga aku terisak di bawah bantal, dan terlelap dalam pelukan hangat impian.
Aku ingin kau tahu, bahwa merindukanmu adalah satu dari banyak agenda wajib dalam tiga tahun masa kuliahku.

Aku ingin kau tahu, bahwa namamulah yang ku sebut saat aku takut, cemas, sedih, bahkan bahagia. 
Aku ingin kau tahu, bahwa alam bawah sadarku dikuasai satu, namamu.
Yang ku isyaratkan dengan 'Waktu' di setiap tulisanku.


Aku sungguh merindukanmu!
Merindukan suaramu, Merindukan matamu yang hilang saat tertawa. Aku rindu tubuhmu yang kokoh.

Aku merindu debar saat melihatmu, atau saat memandangmu diam-diam lalu kau menoleh kepadaku.
Aku rindu!


Hanya saja, saat Aku menulis ini, tak banyak yang kurindukan darimu. Tak banyak yang bisa kutulis tentangmu. Tak ada sedikitpun kenangan denganmu. Selain kalimat "elok-elok" yang kau ucapkan sekitar enam tahun yang lalu. Saat kau mengantarku ke  halte sehabis acara kelas kita.

Apalagi kenangan tentang kita?
Ku rasa tak Ada. 
Apa benar Aku mencintaimu lebih dari Lima tahun, sedang Aku Tak miliki kenangan apapun denganmu?


Ah sudahlah. Nanti kutulis apa yang bisa dan apa yang harus ku tulis. Biar kau yang tentukan nanti, apa benar aku mencintaimu sebegini gila.

Almost!!


Alrait.
it a late nite. i almost break my promise. it has been tuesday, and i just write this.
Hmm i have a little story about today, but i don't have time to write.
because tomorrow my class is an early morning.

okay. I go home too late tonigth.
oh noooo.. i can't tell this.
let's finish it.
I must sleep right now!!!

Sleep thigt and terima ciyum :*
hahahah  #Day2

The Promise


Hello people. Everywhere you are.
Okay, i'll tell you about my day. I don't care if there is no one read my blog.
I really realy don't care. I'm on challenge my self to write everyday or every nigth, whatever.
I must write in english everything i can, i want, and i need.
It just about me and my self. I don't interest to challenge someone with me like before i ever had.
i ever challeng Amoy at that time but there is no effect for me.
i stilll lazy to write, i still hard to tell everything in words.
May be because at that time i had motivation to write like i don't wanna be a looser in front of Amoy.
So i wrote so bad and no sense and no value too.
and tonigth i announce you that i'm on challenge my self.

And you have ti note this! I don't care if i have bad grammar, vocab, rule or everything. I'm bad on that, so let me write as long as i can do.
If you want to correcy my grammar, i really really thankful to you. And i'll never ashame if i write wrong. because i'm in studying fase.

So, tonigth i'll tell about how i spend my Sunday!!!
Okay.
i woke up at 5.45 AM at my 2nd home. I recieve a message in line from my partner in HIMA. She name is Fiqa. Using 'q' not 'k' so we have the same name but different meaning may be.
She asked me about our jobdesk and i finish that.
Then i sat down in from of computer. I do nothing except browsing. 
i knew that it's not important to me. I just wasted my time without meaning. No benefit, really really have no benefit !!
I wacthed movie, hear a song, open facebook, periscope, twitter, etc. But i don't know for what, but i did it again, did it again, and repeat!

I felt like a phatetic girl in front of computer. Have no goal, no motivated, and no feature.
i did it untill 12.15 AM (I really2 don't know it have to use AM or PM. ) untill kak Nuri came.
than we bougth rice one for us. And it's so delicious i think.
than Ully come home.
i talked with her for several minuete then i go slept.

*To be continue
i'm so sleepy tonigth. Bye. good nigth. sleep tight :*



#Day1

Marapi dan Bunga Abadi, Keberanian Tanpa Restu


Menginjakkan kaki di sebuah ciptaan Tuhan yang megah, tidak semua orang memimpikannya. Saya dan beberapa rekan lainnya menjadi sekelompok manusia yang diciptakan Tuhan dengan keinginan menyentuh keindahan ciptaan-Nya yang 'tersembunyi'.

Kala itu, Jum'at,22 Maret 2015, dua minggu setelah salah satu event tingkat nasional yang usai kami gelar dan beberapa hari sebelum cetak tabloid yang dilanjutkan dengan Musyawar Besar. Bulan Maret, bulan yang cukup mengurus tenaga dan pikiran saat itu. Maka jauh-jauh hari saya tetapkan hati untuk bergabung melepas penat sebentar ke Gunung Marapi, agar Maret menjadi bulan yang tak terlupakan. (EYAAAA!!!!)

Sebelum keberangkatan, kami telah mempersiapkan logistik sesempurna mungkin. Meminjam dan membeli berbagai perlengkapan yang kami butuhkan selama berada di Marapi. Jujur saja. Semuanya kami cari di hari H keberangkatan meski kami telah memiliki list nya seminggu sebelumnya. Namun karena kesibukan yang tak menentu, semua baru bisa kami lakukan di hari H. Saya ingat, Kak Icha dan Bg Ruli ada ujian di hari itu. Juga Bg Fikri yang harus mengikuti beberapa kunjungan ke beberapa Lembaga Pers  Mahasiswa di Kota Padang. Bg Fikri baru selesai saat Magrib yang membuat beberapa orang yang sudah lama menunggu di rumah Bg Arief galinggaman (hihihi).

Kami berkumpul di rumah Bg Arief di daerah Pasir Putih (kalau ndak salah lo sih haha). Saya, Amoy, Bg Ruli, dan Bg Fikri datang terakhir ke sana karena harus menunggu Bg Fikri selesai kunjungan. Sesampainya di sana tour guide kami kala itu, Bg Riski (Eh, lupo namo abg tu sia hehehe) membongkar dan kemudian merapikan kembali isi tas carrier kami untuk memastikan semua logiistik cukup.

Kami berangkat dari Tabiang sekitar 23.00 menuju Koto Baru Padang Panjang dan sampai setelah menempuh satu setengah jam perjalanan. Para leleki menggunakan sepeda motor dan perempuan dengan mobil tavel. Kemudian Bg Riski mendaftarkan nama kami semua ke 'penjaga Gunung Marapi'. Ada Bg Arief, Bg Pran, Bg Irfan, Bg Fikri,  Bg Ruli, Kak Desi, Kak  Meli, Kak Icha, Kak Tan, Amoy, gue, ada dua orang cowokdan dua orang cewek lagi yang baru gue kenal saat itu dan alhamdulillah gue lupa semua namanya.

Hawa dingin sudah mulai tercium di kaki Gunung Marapi. Jaket dan kaos kaki yang gue gunakan tidak ampuh untuk menangkal dingin merasuki tuvuh gue. Dengan penuh syukur dan bahagia, gue menutup mata dan menarik nafas dalam. "Ini adalah hawa kebebasan. Ini KEBEBASAN. Nyata. HAHAHA," ucap gue dalam hati seraya tak bisa menyembunyikan senyuman licik.

Kemudian kami memulai perjalanan. Tidak lupa kami berdoa kepada Sang Maha Kuasa. "Jalan jan pisah-pisah samo kawan. kalau beko ado yang mancaliak atau mandanga yang aneh diam se surang jan disabuik-sabuik. Bisuak kalau lah turun baru buliah carito apo nan nampak," begitu Bg Riski berpesan sebelum kami naik.

"Lah. Kan lai ngecek ka urang tuo sadonyo kan?" tanya Bg Riski kemudian.
"lai bang," jawab yang lain sepersekian detik kemudian.
Sedangkan gue hanya diam. 
"lah. kalau lai minta izin aman mah," lanjut Bg Riski.

What the hell!
Setelah Bg Riski berkata seperti itu, ada gemuruh yang menghantam hati gue. Bagaimana tidak. Bg Riski bilang "Kalau lai minta izin aman mah,"
Lah, gue yang ga minta izin ini apa kabar?
Kemudian gue berdoa ekstra kepada Yang Punya Gunung Marapi.
Dan perjalanan pun dimulai dengan perasaan "Oke. Apapun yang terjadi di sana, ini pilihan gue. Lanjutkan,, atau mati di tempat." gue mencoba meyakinkan diri sendiri.

Kami berjalan dalam gelap di bawah cahaya langit yang dipancarkan bulan dan bintang, dan tentu dengan cahaya senter yang kami bawa. kami berjalan perlahan, menolong satu sama lain, juga saling mengingatkan.  Malam itu saya sedikit tidak percaya dengan medan yang kami lalui. Saya pernah membayangkan mendaki gunung seperti yang di film-film. Butuh tali atau semacamnya untuk naik. Butuh alat bantu tertentu. Ternyata hal itu belum dibutuhkan. Karena mendannya tidak terlalu berat dan jalannya sudah pasa.
Sebelumnya saya sering mendengar senior bilang "kalau marapi aman mah. jalannyo lah pasa, medannyo ndak barek bana lo do,"
Saat itu hati saya berkata: "Dek lah baliak tu yo bisa ngecek mode itu. Sadonyo tu nampak mudah kalau alah siap malakuannyo, kami nan alum nyak ma maraso aman," hehehe maap yaa :D


Setelah beberapa jam berjalan (mungkin satu jam lebih dengan beberapa kilo), kami memutuskan untuk mendirikan camp dan melanjutkan perjalanan saat sinar matahari telah cukup untuk membakar kulit kami.

Sialnya, kami membawa tenda A dan harus mencari kayu pancang untuk bisa mendirikan tenda. Para lelaki pun menebang pohon di malam itu agar tenda kami dapat berdiri. Sementara kami para cewek, menunggu sambil duduk dan sempat memejamkan mata beberapa menit. Satu pelajaran yang benar-benar harus direkam di kepala: Jangan Ulangi Membawa Tenda A ke Gunung. It will troublesome!
Setelah para lelaki itu berjuang dan bercucuran keringat untuk mendirikan tenda, tibalah saatnya kami untuk beristirahat.

Udara kebebasan terlalu kejam malam itu yang memaksa saya harus memakai celana dua lapis. Tak sampai di situ. Kami pun harus berdempet-dempetan tidur di dalam tenda. Ada sembilan orang cewek di satu tenda tersebut. Belum lagi tas carrier yang besarnya melebihi badan gue itu harus juga ikut tidur bersama kami dalam satu tenda. Dan istirahat pun dimulai.



***
Setelah tidur beberapa jam, matahari pun malu-malu menampakkan diri. Sudah ada yang bangun sebelum gue dan kemudian memasak nasi.

Kak icha dan kak (aku lupa namanya)

Bg Ruli, Gue, dan aku lupa namanya 'berjemur' di bawah cahaya matahari



Begitulah penampakan tenda kami.


Jam telah menunjukkan pukul sepuluh. Perut kami sudah cukup kenyang dengan makan seadanya dan siap melanjutkan perjalanan. Wait, FYI aja sih. Nasi kami badatuih karna terbiasa masak pakai listrik, sesekali pakai kompor begitulah jadinya. Tapi apa boleh buat. Makan atau mati di tempat. hahaah

Setelah berkemas, kaki pun melaporkan kesipannya untuk meraja lela di hutan belantara (ah lebay).

Ada satu tradisi yang sudah diketahui banyak orang di sana. Sesama pendaki saling menyapa satu sama lain dengan sebutan Pak untuk laki-laki dan Buk untuk perempuan. Awalnya saya merasa geli dipanggil Buk oleh orang yang lebih tua dari saya. begitupun harus memanggil  yang lebih muda dari saya. Tapi akhirnya ssaya terbiasa dan malah menjadi hobi untuk menyapa sesama pendaki.
"Soalnyo awak ndak tau sia yang wak sapo do," begitu jawaban yang saya dapatkan waktu itu. 

Di sana kita (mungkin) harus beramah tamah ke sesama pendaki. "Semangat Pak! Semangat Buk! Aman Pak?" itulah kalimat yang sering saya ucapkan dan juga saya dapatkan di sana.
FYI aja sih. Di sepanjang perjalanan saya selalu bertemu dengan  orang-orang. Bahkan bisa berkali-kali bertemu dengan orang yang sama. Bahkan gue ga  merasa sedang di gunung karna banyak sekali bertemu orang.

Bg Irfan di perjalanan
Bg Ruli di Perjalanan

Kami juga banyak bertemu dengan anak-anak Unand. Yang pakai tas putih itu kayaknya anak Unand juga. Tapi TITI (Tah Iyo Tah Indak) hahaha.

Rombongan kami terbagi-bagi. Karena ada yang terlalu bersemangat dan tinggallah yang beberapa orang di belakang. Gue, Bg Ruli, Bg Fikri, Bg Pran, Bg Arief menjadi rombongan itu. Kami cukup jauh di depan. 

Selain cahaya matahari, rintik hujan pun turut menemani kisah kami ke Marapi.  Jalan pun mulai mempermainkan kami. Kaki yang bisa memijak lebih kuat pun dibutuhkan. Uluran tangan untuk menanjak tak bisa dielakkan.  

Sekitar Pukul setengah tiga sore, kami berhenti cukup lama. Kira-kira dua jam sebelum menuju cadas. Kami berhenti di dekat camp pendaki lain yang saat itu sudah mau turun. Mereka remaja SMA asal Solok. Ketika kami mengetahui mereka akan segera pergi dari camp  tersebut kami memutuskan untuk mendirikan camp di sana setelah mereka pergi. 
Bg Arief bilang kalau kita bersikeras untuk melanjutkan pendakian, maka akan sulit menemukan tempat untuk bisa mendirikan camp. Karena Marapi teramat ramai waktu itu. Belum lagi tenda kami tidak mudah untuk mendirikannya.
Hujan, dingin, lelah, menngantuk.  Dan tentunya lapar.

Sebelum Magrib,  tenda sudah berhasil kami dirikan. Kami kembali makan seadanya. Hujan semakin lebat. Kami tidur ditemani hujan dan dingin yang teramat. Beberapa dari kami bahkan ada yang tidur sudah di luar tenda tanpa mattres saking sempitnya juga ada yang hanya bisa duduk sambil memejamkan mata. Saat itu saya menyadari betapa indahnya kasur dan slimut yang ada di rumah.
Di tenda cowok malam itu
Cowok tidur di dua tenda. Tiga abg2 yang sudah tua tidur di tenda lain.
Dan sembilan cewek tidur di satu tenda. Haduuhh teganya. Hahaahaha


Oh iya, sebelum tidur Abg2 itu berpesan: "Bisuak jago janm tigo yo. Satangah ampek awak ka puncak lai,"
"Oke Bg!"


Damn!
Kami bangun pukul empat. Prepare  untuk ke puncak juga cukup memakan waktu. Dingin turut menggoda untuk kembali tidur saja. Tapi untungnya rayuan bunga Edelweis lebih kuat daripada rayuan tenda.

Di perjalanan menuju puncak, satu per satu dari kami mulai berjuang untuk melawan kata menyerah. Saya tetap berada di rombongan paling depan. Bukan apa-apa. Karena kalau saya di belakang saya akan merasa perjalanan masih jauh sebab melihat teman lain sudah hampir sampai. 

Saat berjalan, hawa dingin perlahan menyiingkir. Dan sebentar saja berhenti, dingin pun mulai mendekat.

Sekitar satu jam perjalanan kami sampai di cadas. 
"Cadas tu nan kayak di film 5cm mah, yang inyo harus marangkak naiak ka ateh nyo. Batu se sadonyo," Bg Ruli pernah memberi tahu sebelumnya.

Menakjubkan! Dimana-mana ada orang saling bersahutan satu sama lain. Dimana-mana ada tenda. Cahaya senter di tengah kegelapan begitu indah di cadas saat itu. Ramai. Cadas Marapi sudah seperti pasar. Dan saya lupa sedang berada di gunung. 

Kaki terus menginjak tanpa tahu dengan jelas apa yang ia injak saat itu. Yang saya tahu, kaki harus tetap melangkah menuju 'bunga abadi'. 
Melihat ke belakang, Ya Tuhan! Pemandangan Cahaya lampu Kota Bukittinggi menghilangkan penat dan kesal sisa semalam.

Kak Desi
Kak Meli, gue, Bg Arief, Bg Pran, Kak Desi





Sekitar pukul enam pagi, kami sampai di dekat Tugu Abel






Kami tidak kebagian sun rise karena katanya, sun rise bisa dilihat dari Puncak Merpati. Ah tak apalah.


Hmm yang lain ga kebagian foto karena belum sampai.
on the way

Mungkin percakapannya waktu itu "Kapan kita ke Singgalang" haha

Dan tak lupa

Di lapangan bola menuju kawah



Karena pake timer hasilnya begini. Ini setelah semua pasukan lengkap


Melanjutkan perjalanan. Next Puncak Merpati
Wait, ini tampang mati gaya karena takjub liat pemandangannya beberapa langkah sebelum Puncak Merpati.
Permintaan maaf dari Marapi untuk mereka :*
Ini si Amoy Alay :D

Ini Kak Icha dan Kak Tan yang hampir give up
Amoy di Puncak Merpati
Gue lebih takut turun daripada naik. Jadi harus merangkak menuju Taman Edelweis. hihihi
Ya Tuhan. Aku Takjub
Fotonya kayak editan :D
Touch down!!
Kakak dan abang ini romantis banget. Duh MAU! haha
Hari itu kalo ga salah anniv mereka. hihi
Kak Icha

Jangan bawakan aku Edelweis, tapi bawalah aku ke tempat edelweis berada :))
Cukup. Mari kita pulang

OTW ke camp
Singgah dulu di Tugu Abel
Setiba di Camp. Siap-siap turun
Gue dan Amoy nomor tiga sampai di bawah setelah Bg Pran dan Bg Irfan

Alhamdulillah



Aku lupa mau  nulis apa karna milih-milih foto. Ada yang pake saya ada yang pake gue. Isi ga sesuai dengan judul. HAHAHA

Senja Ini, di Halte

Hujan lagi.. Lagi hujan.
Saat aku menulis ini, hujan lagi turun
Tidak terlalu deras hanya saja dingin mengelilingiku.
Sebab tadi aku sempat menari di tengah hujan
Aku sedang duduk di halte Pasar Baru.
Hmm sejujurnya tadi aku ingin langsung pulang ke kos dari sekre.
Namun aku lupa menyetop bus di kosan tadi hingga tibalah aku di sini.
Sebenarnya aku bisa tetap duduk manis di bus supaya langsung pulang
Tapi melihat cuaca yang cukup dingin, aku putuskan untuk menghabiskan waktu saja di halte ini.
Tidak banyak yang akan ku lakukan di halte ini.
Hanya akan duduk, melihat kendaraan lewat, meski lebih banyak menatap layar hape karena aku sedang menulis tulisan ini.
Entah apa yang akan ku tulis.
Tunggu, aku sedang berusaha melihat-lihat sekitar.
Siapa tau akan ada seseorang yang lewat
Atau akan terjadi sesuatu, agar aku bisa menulis tentang itu.
Daripada hanya menulis gaje seperti ini
Wait...
Hmm sepertinya tidak ada objek yang menarik untuk ditulis.
Baiklah. Kalau begitu aku akan tulis tentang Halte.
Aku suka duduk di halte sendiri. Meski tentu tidak hanya aku yang duduk di halte ini. Halte selalu ramai ditunggui para fakir bus kampus. Bagaimana tidak, harga BBM sudah naik. Sekarang ongkos angkot jauh dekat tetap tiga ribu. Jadi tentu lebih baik menunggu bus daripada naik angkot.
Namun walaupun halte ramai, aku akan tetap menganggap aku sendirian di halte ini. Toh tidak ada satupun yang aku kenal. Jadi aku bisa melakukan apapun yang ku mau dengan hape ini tanpa ada yang mengganggu keasikanku.
Seperti sore ini, biasanya aku juga hanya duduk dan melihat-lihat sekitar. Dan biasanya halte ku jadikan tempat untuk merenung ataupun berpikir. Bahkan kadang hanya untuk merefresh otak. Dan biasanya aku duduk sendiri seperti ini jika hati sedang tak karuan.
Seperti biasa, senja ini hatiku juga sedang tak karuan. Entah apa yang terjadi dengan hati hingga ia membutuhkan sendiri di halte seperti ini.
Hmm masih tidak ada objek yang menarik untuk ditulis.
Sedang aku masih ingin duduk di halte ini. Hmm hanya sampai azan Magrib tiba. Sekarang sudah pukul 5.50.
25 menit lagi magrib akan tiba.
Jadi aku masih memiliki waktu untuk duduk dan (mungkin) menulis apapu  yang aku inginkan.
Kedai fotocopy di depan halte ini baru saja tutup. Mungkin karena ini adalah malam minggu. Jadi tak banyak mahasiswa yang akan membutuhkan jasa fotocopy.
Ah.. tidak ada lagi yang bisa ku tulis.
Tapi aku akan tetap duduk di halte ini hingga adzan magrib.
Menikmati udara basah ini.
Bye.

Saat Mereka Diberi Kekuasaan


Entah mana yang akan memimpin negeri ini kelak.
Entah yang beberapa hari lalu berkoar-koar dan dengan sok pintarnya mengatakan blablabla.
Akan ini akan itu dan lain sebagainya jika ini itu tidak dipenuhi dan blablabla.. Namun saat orang-orang turun ke jalan, tidak ada terlihat puncak hidungnya. Dan saya bertanya, mana dia yang kemarin dengan blagunya bilang akan obrak-abrik gedung rakyat tersebut.
Atau yang tidak banyak cakap. Memberontak saat menyadari suatu kebijakan tidak seharusnya dilaksanakan.  Menjadi penggerak dan pemimpin saat turun ke jalan. Menjadi tombak sebuah aksi dengan idealisme dan ketegasan yang dimilikinya. Dan dengan toa yang dipegangnya.
Atau mungkin yang hanya mengawal dari beberapa titik. Hanya ikut turun, namun tidak terlihat pemikirannya saat turun tersebut. Akan tetapi di media sosial dia bagaikan orang yang sudah berjuang di jalanan hingga kalimat-kalimatnya membuat orang mengagung-agungkannya.
Atau mungkin orang-orang yang hanya diam tidak melakukan apa2 kecuali mendengar dan melihat tanpa bertindak. Menerima dan membiarkan apa saja yang terjadi di negeri ini.
Ada empat tipe orang-orang yang saya temui beberapa waktu lalu. Mereka semua hebat di bidangnya. Mereka semua adalah pemimpin di masa kini dalam berbagai organisasinya.
Hal ini cukup menarik bagi saya pribadi.
1. Saat tipe orang pertama yang berkoar koar tapi hanya bisa berkoar-koar saat ditemui media. Anehnya, saat turun ke jalan tidak terlihat aksi nyata dari ucapannya yang ketika itu saya sempat mengatakan "wow" atas cara dia berbicara dan berpikir. Namun mana tindakannya??
Jika kelak orang Ini menjadi pemimpin, mungkin itu juga yang akan dilakukannya. Hanya bisa berkoar-koar !
2. Mungkin saya lebih suka tipe ini. Sebab saya mengatakan "WOW" saat orang-orang ini turun ke jalan dengan aksi nyata tanpa retorika sebelumnya. Turun dengan idealisme2 yang dimilikinya. Gaya mereka yang tegas saat menolak sesuatu dan bagaimana mereka bisa membuat kaumnya tunduk dengan apa yang mereka arahkan.
Namun saya khawatir jika kelak mereka diberi kekusaan, apa yang akan mereka lakukan. Tetap idealis seperti sekarang? Apakah mereka tetap akan melawan, berteriak dengan toa? Atau mungkin bungkam dikuasai sistem saat mereka ada di dalam sistem tersebut. Entahlah
3. Tipe ke tiga. Pemikirannya begitu membuat orang-orang terkagum-kagum. Dulu saya juga. Namun saat turun, dia ada tetapi tidak mengeluarkan pemikirannya.
Kelak jika ia diberi kekuasaan, apakah ia akan seperti itu juga? Melakukan pencitraan di berbagai media, 'terlihat' ikut, namun tanpa upaya. Entahlah
4. Tipe orang2 yang diam dan menerima2 saja. Jika mereka diberi kekuasaan mungkin mereka hanya akan menuruti semua sistem yang ada. Sebab itu yang mereka lakukan saat ini
Entah tipe seperti apa yang akan memimpin negeri ini kelak.
Jujur saya penasaran melihatnya suatu hari nanti.
Tanpa saya sadari, ternyata saya akan menjadi seseorang yang akan mengawal negeri ini.
Dengan macam-macam tipe calon-calon pemimpin yang sedang berkeliaran.
Jujur saya teramat penasaran menyaksikan apa yang akan mereka lakukukan jika diberi kekuasaan, kelak.
Tulisan ini hanya tentang beberapa hal yang mengusik pikiran beberapa waktu yang lalu. Namun baru sempat saya ubah ke bentuk kata-kata siang ini karrna benar-benar mengganggu.
Sabtu siang, (22/11) sekitar pukul 11.30-12.15
Di kamar kosan

Malam Terakhir Bersama Amoy


Selamat malam.
Selamat ongkos kosan-kampus tiga ribu :((((((((
Malam ini malam ke 21. Sesuai perjanjian, tantangan 21 Malam akan berakhir malam ini.
Sebenarnya dari td malam gue udah ancang-ancang buat nulis yang keren untuk malam terakhir ini.
Tadi siang bahkan rencananya bakalan nulis tentang yang terjadi hari ini.
BANYAK yang bisa ditulis tentang hari ini (sebenarnya)
Karena bagi gue pribadi ini adalah hari yang (cukup) bersejarah.
Mungkin karena gue adalah orang awam dan seperti hari inilah yang dari dulu pengen gue rasakan.
Meski yang gue lakukan dalam definisi yang sedikit berbeda dari apa yang gue inginkan dari dulu.
But, well done fik ! (Haha)
Ingin sekali mencatat pengalaman hari ini. Mulai dari alasan ikut, kegembiraan dan tantangan, hal-hal pertama, mimpi yang terwujud, sisi lain, hingga beberapa kekecewaan atas ekspektasi diri sendiri. Tapi waktu dan fisik sepertinya tidak mengizinkan. Bahkan gue hampir lupa untuk nulis dan nge-post malam ini. Saat gue nulis kalimat ini di jam gue udah nunjukin pukul 11.35.
Mata udah 0,1 watt (emangnya ada?) yang dengan konyol meminta tuk ditutup.
Huaa kulit udah eksotis banget. Re: Sooo BLACKKK
Yaa walopun dasarnya udah eksotis juga sih..
Hmm kalo diibaratkan dalam tabloid, ini adalah laporan utama. Banyak angel-angel yang bisa gue hasilkan dari hari ini. Tapi tak sanggup tuk menarasikannya sekarang juga.
Maka nulis gaje kayak gini adalah solusi.
Terserah Amoy mau ngeledekin atau gimana. Setidaknya gue ga badmood kayak dia tadi.
Duh, kesel banget liat lo malam ini moy.
Btw, 21 malam langsung berakhir setelah tulisan ini gue publish.
Harapannya, semoga kelak bisa nulis tiap malam.
Serah mau nulis apa. Minimal ada alat untuk menertawakan diri sendiri
Ketika suatu hari nanti ngobrak-abrik blog. Hehehe
Selanjutnya, gue pengen belajar nulis yang pake teori semisal opini dll. Harus bisa!
Karena selama ini gue selalu gaje dan kalo mau nulis semau guenya aja. Nan ka lamak dek kapalo se nyo. Yang penting hati sanang paruik kanyang #nahloh
Hmm aa lai yo?
Lah mah lalok lai moy
Hidup Mahasiswa !
Hidup Pers Mahasiswa !
Hahahaha

(Mungkin) Cinta Itu Seperti Bayangan Diri

Tadi, saya erhasil menangkap bayangan diri sendiri.
Di sebuah sungai yang cukup lebar
Ada batu yang lumayan besar di tengah sungai tersebut
Membuat kaki ini refleks melangkah menuju batu tanpa memedulikan sepatu.
Bahagia saja rasanya bisa menginjakkan kaki di batu yang besar
Sebab orang-orang banyak
mengibaratkan hidup itu sekeras batu
(Namun sayangnya saya tidak sedikitpun berusaha mengabadikan batu yang menelanjangi ke plin-planan mood)
Ah, mereka lupa bahwa di kerasnya batu, kita juga bisa bermain-main di atasnya.
Bahwa dikerasnya hidup kita masih bisa menari dan melompat di atasnya
Meski saya tidak bisa mendefinisikan kerasnya hidup itu seperti apa.
Kembali ke bayangan.
Mungkin cinta itu seperti bayangan diri sendiri saat berdiri di tepi sungai.
Tidak akan ada yang memedulikan bayanganmu selain dirimu.
Tidak ada yang peduli dengan cintamu selain dirimu
Saya baru sadar, bahwa tidak semua bayangan yang saya anggap keberadaannya.
Sering kali saya meremehkan setiap bayangan diri, tidak memberinya arti.
Karena memang tidak semua cinta harus diartikan.
Seperti menangkap bayangan di sungai tadi sore,
Tidak sengaja menyadari keberadaan bayangan, lantas dalam sekejap mengabadikannya .
Mungkin  kelak cinta juga begitu.
Sejatinya ia selalu dekat, namun (mungkin) menolak tuk menyadari. Lalu saat tersadar,  dalam sekejap saya akan mendapatkannya.
Kenapa tidak.
Wkwkkw
****
Malam ke lapan belas kembali gaje :D
Haha maaf moy. Gue otw demam haha

The Journey Of Soul

Prolog
Lalu ku langkahkan kaki
Terbata-bata. Menuju lantai lima.
Takut, canggung, gelisah.
Gemetar membuka pintu.
Tak bisa lagi mundur. Maju atau tidak sama sekali.
Berharap ini hanya mimpi
tapi pintu sudah kubuka
melemahkan seluruh sendi-sendi.
Ingin ku sudahi hidup, sebab mungkin aku tak kan sanggup
Mencumbui seratus anak tangga setiap hari
Izinkan aku lari dari diri ini

Itulah beberapa kalimat yang sempat gue tulis sekitar satu tahun empat bulan yang lalu. Tepat tanggal 23 Juli 2013. Untuk kedua kalinya kaki ini menuju lantai lima asrama setelah tanggal 19 Juli melakukan registrasi. Tidak pernah terpikir akan menghabiskan umur sembilan belas tahun di hotel lantai lima ini. Tapi inilah lika-liku hidup.
***
"Ma, urang lah daftar di asrama. Hehe tau ndak ama dapek lantai bara anak Ma?" gue tertawa berusaha menghibur diri.
"Lantai bara Nak?" Suara ibu tak sabar ingin cepat diberi tahu.
"Lantai 5B. Haha keren kan anak ama?"  pura-pura tertawa.
Beberapa percakapan yang gue lakukan dengan ibu setelah melihat tempat hidup selama setahun. Gue ingat, gue tertawa saat menelpon. Lalu terisak saat sambungan telpon putus. Iya. Gue selamah itu. Membayangkan kaki ini harus mencium ratusan anak tangga setiap hari. Belum lagi harus mendaki bukit setiap subuh menuju mesjid. Untuk hal yang satu ini, sampai sekarang gue nganggepnya formalitas absen semata. Karena jalan dari asrama ke mesjid, gue ga yakin wudhu ga lepas alias kentut.
Untuk hal yang berkaitan agama, gue ga suka dengan hal-hal yang dipaksakan. Absen-absen dan blablabla. Sampai saat ini gue bersikukuh, urusan agama itu urusan pribadi dengan Tuhan, bukan urusan suatu instansi.
Setelah itu gue pulang ke rumah tante. Gue nginap beberapa hari di sana untuk urusan daftar ulang kuliah. Jum'at itu gue berusaha menghibur diri. Salah satunya dengan fokus membahas soal-soal di buku STAN yang gue punya. Iya, tanggal 21 Juli gue akan mengikuti test USM STAN di UNP. Menghibur diri dan menenangkan hati. Mikirnya, kalau gue terima di STAN gue ga harus lama-lama terpenjara di lantai lima.
Minggu, 21 Juli, gue ikut USM STAN di UNP. Gue masih ingat, waktu itu di ruangan MM. AC nya sangat dingin. Atau mungkin bagi orang biasa aja. Tapi buat gue yang baru beberapa hari berhadapan dengan panasnya ibukota kemudian diaduk dengan dinginnya AC ini adalah kiamat untuk kepala. Ditambah dengan cairan di hidung dan lendir di tenggorokan. AC benar-benar neraka berdarah dingin saat itu.
Hingga dengan angkuhnya gue mengisi semua lembar jawaban dengan sok pasti. Dengan harapam setelah mengisi semua di lembar jawaban, gue bisa langsung keluar. Tapi kampretnya, gue harus nunggu sampai jam yang ditetapkan.
Jujur, mati mungkin lebih baik dibanding harus menahan sakit kepala, ingus, dan batuk di ruangan sunyi nan ber-AC.
Kemudian di hari itu juga gue balik ke kampung, salimpaung, Batusangkar. Hanya untuk dua hari di rumah. Sebab tanggal 23 Juli sudah harus balik ke padang, karena esoknya ada ESQ
***
23 Juli 2013
Gue turun dari travel yang gue tumpangi. Sendiri. Badan kecil ini menyandang tas, menarik koper di tangan kanan, dan sebuah dus di tangan kiri. Berat. Teramat berat bahkan. Tapi tentu lebih berat beban di hati saat gue berdiri di lantai dasar, menengadah ke langit, bertanya kenapa, meski membatin bisa.
Sejujurnya, sejak kemarin ibu bersikeras mengantarkan anaknya ke rumah baru ini.
"Bialah Ama antaan, Nak. Bia sanang lo ati ama siap tu. Ndak kan taangkek gai dek ka barang sabanyak ko do."
Namun gue menolak tawaran tersebut. Gue lebih suka menyelesaikan luka seorang diri. Ibu tidak boleh melihat wajah pecundang anaknya saat anaknya menapaki titik baru dalam hidupnya. Itu yang gue pikirkan.
Meski dalam beberapa hal gue sangat manja kepada orang tua, tapi dalam beberapa prinsip hidup, tegarnya karang tidak ada apa-apanya dibandingkan ketegaran yang gue punya meski hanya berpura-pura tegar. Tapi prinsip tetaplah prinsip.
Gue menaiki satu per satu anak tangga. Menangis dalam hati sambil menyemangati kaki. Setengah perjalanan menuju lantai lima, ingin sekali rasanya menelpon kakak saja. Merengek meminta dikirimi uang dan bisa langsung cari kosan.
Tapi gue kembali ingat. Sejak SMA gue ingin hidup mandiri dan jauh dari keluarga. Gue ingin hidup bebas dan melakukan banyak kenakalan layaknya gue di sekolah dasar dulu. Sebab kenakalan masa SMP tidak bisa tersalurkan di SMP unggulan itu. Meski asrama bukanlah tempat yang tepat untuk menyalurkan kenakalan, setidaknya gue tidak harus merengek kepada kakak saat itu.
Yaa walaupun merengek kepada kakak adalah hobi di masa kini. Hahaha
Akhirnya, gue sampai di lantai 5B. Mencampakkan semua barang yang gue perjuangkan nasibnya menaiki 90 anak tangga. Dan terhempas di lantai meski tak sesantai saat di pantai. Kemudian gemetar memutar kunci dan menekan pegangan pintu.
"Selamat datang, di rumah baru wahai jiwa yang blablabla."
Mungkin itulah kalimat yang dikatakan hantu-hantu asrama saat gue membuka pintu.
23 Juli 2013.
Hari di mana gue harus mulai berpur-pura kuat. Hari di mana hidup terasa bukan 24 jam sehari. Amat panjang.
Apalagi di kala malam.
Hari di mana gue nulis kalimat "The Journey Of Soul" dalam buku cokelat yang membantu gue dalam mengingat.
Dan tanggal 23 selalu terasa istimewa sejak saat itu. Anggap saja anniversary nya gue dengan hotel hijau itu.
Sekian
***
Epilog
Haha ingin sekali rasanya menulis semua hal yang gue alami di hotel hijau lantai 5B48 itu.
Misalnya, betapa berartinya suara monyong di kala malam tiba. Sebab gue sulit dan takut tidur. Jadi setidaknya suara monyong bisa mengalihkan pikiran. Hahahahha
Aku pelupa. Sebab itu aku menulis. Hahaha (ini kan bionya Zarry Hendrik)

Dear You,


Surat ini saya tulis di malam ke empat belas.
Empat belas?
Baguslah. Sedikit lagi tantangan ini akan berakhir.
Dear you, yang masih tidak tahu kelak menjadi apa
Catatlah kekeliruan pola pikirmu beberapa bulan ini
dan beberapa bulan mendatang
Agar saat kau sadar, kau tahu harus mulai
memperbaiki dari titik mana
Agar saat hatimu membaik,
kau bisa dengan mudah memperbaiki kekeliruanmu.
Dear you, yang akhir-akhir ini tidak punya kejelasan aktivitas
Ingatlah waktu tidak akan berhenti,
apalagi mundur
Hanya untuk membantumu membenarkan aktivitas yang seharusnya kau lakukan,
bahwa waktu tidak akan kembali,
hanya untuk kau merancang kembali masa depanmu
Dear you, yang sudah beberapa bulan tidak lagi membaca dengan teratur
Percayalah, kau akan bagaikan katak dalam tempurung,
saat semua orang merasakan luasnya dunia,
saat semua orang mulai merancang tuk keliling dunia,
kau hanya akan menjadi penunggu di pikiranmu dan jadi benalu di 'rumahmu'
Dear you, yang merasa kehilangan arah di bangku kuliah.
Teguhlah pada apa yang telah kau pilih,
selesaikan tanggung jawab kepada orangtuamu dengan baik
Jangan biarkan ego menelantarkan keringat orangtuamu :')
sebab jenuh hanya sementara,
menyesal untuk selamanya :')
Dear you, yang tak kunjung lepas dari kopi.
Tapi mungkin ini masih di jalur yang baik,
sebab kau masih punya 'hal' yang bisa menenangkan jiwamu,
meski merusak ginjalmu perlahan.
Dear you, yang ingin ke Rinjani suatu hari nanti.
Mulailah belajar berjalan, agar kakimu kuat,
sebab masih panjang perjalanan yang yang harus kau tempuh,
sebab kau harus menjadi pejalan yang benar
karena satu hal yang tidak dimiliki para pejalan
adalah menyerah
Dear you, yang menjanjikan angka 3,4 kepada kakakmu.
Setiap janji adalah janji (huaaaaa :'((((
Sebab hanya pecundang sejati,
yang mengingkari janji saat
kesempatan tuk penuhi, sejengkal dari kaki. (Hiks)
Dear you, yang selalu mengatakan bahwa hidup untuk hari ini.
Sadarlah, bahwa setelah sekali menghirup nafas,
kau akan kembali menghirupnya.
Bahwa setelah hari ini berlalu,
kau masih membutuhkan hari esok tuk selesaikan hari ini mu
Dear you, yang belum mau ikut les bahasa inggris
suatu hari kau akan tahu akibat dari
kenyolotanmu dalam beretorika terhadap kakakmu :')
Dear you, yang sering bilang tidak mau bekerja setelah tamat kuliah, namun akan mempekerjakan.
Ketahuilah bahwa segala hal dimulai dari bawah.
Dear you, yang masih takut membuka hati.
Percayalah, suatu hari kau akan lelah sendiri. Dan ketakutanmu akan menertawakan lelahmu.
Dear you, yang tadi katanya mau nulis puisi.
Ketahuilah kau tidak lagi berbakat dalam menulis puisi,
sebab kehampaan menguasaimu terlalu jauh,
hingga menggoreskan kata menjadi hal yang tak wajar,
bagimu yang dikukung oleh kebebasan tak beralasan.
Dear you, yang sudah harus publish tulisan ini sebelum jam 12 malam.
Publish-lah sekarang.
Agar Amoy tidak mengatakanmu pecundang,
sebab kau adalah pemenang.
Your secret souls
My self and I