The Journey Of Soul
Lalu ku langkahkan kaki
Terbata-bata. Menuju lantai lima.
Takut, canggung, gelisah.
Gemetar membuka pintu.
Tak bisa lagi mundur. Maju atau tidak sama sekali.
Berharap ini hanya mimpi
tapi pintu sudah kubuka
melemahkan seluruh sendi-sendi.
Ingin ku sudahi hidup, sebab mungkin aku tak kan sanggup
Mencumbui seratus anak tangga setiap hari
Izinkan aku lari dari diri ini
Terbata-bata. Menuju lantai lima.
Takut, canggung, gelisah.
Gemetar membuka pintu.
Tak bisa lagi mundur. Maju atau tidak sama sekali.
Berharap ini hanya mimpi
tapi pintu sudah kubuka
melemahkan seluruh sendi-sendi.
Ingin ku sudahi hidup, sebab mungkin aku tak kan sanggup
Mencumbui seratus anak tangga setiap hari
Izinkan aku lari dari diri ini
Itulah beberapa kalimat yang sempat gue tulis sekitar satu tahun empat bulan yang lalu. Tepat tanggal 23 Juli 2013. Untuk kedua kalinya kaki ini menuju lantai lima asrama setelah tanggal 19 Juli melakukan registrasi. Tidak pernah terpikir akan menghabiskan umur sembilan belas tahun di hotel lantai lima ini. Tapi inilah lika-liku hidup.
***
"Ma, urang lah daftar di asrama. Hehe tau ndak ama dapek lantai bara anak Ma?" gue tertawa berusaha menghibur diri.
"Lantai bara Nak?" Suara ibu tak sabar ingin cepat diberi tahu.
"Lantai 5B. Haha keren kan anak ama?" pura-pura tertawa.
Beberapa percakapan yang gue lakukan dengan ibu setelah melihat tempat hidup selama setahun. Gue ingat, gue tertawa saat menelpon. Lalu terisak saat sambungan telpon putus. Iya. Gue selamah itu. Membayangkan kaki ini harus mencium ratusan anak tangga setiap hari. Belum lagi harus mendaki bukit setiap subuh menuju mesjid. Untuk hal yang satu ini, sampai sekarang gue nganggepnya formalitas absen semata. Karena jalan dari asrama ke mesjid, gue ga yakin wudhu ga lepas alias kentut.
Untuk hal yang berkaitan agama, gue ga suka dengan hal-hal yang dipaksakan. Absen-absen dan blablabla. Sampai saat ini gue bersikukuh, urusan agama itu urusan pribadi dengan Tuhan, bukan urusan suatu instansi.
Setelah itu gue pulang ke rumah tante. Gue nginap beberapa hari di sana untuk urusan daftar ulang kuliah. Jum'at itu gue berusaha menghibur diri. Salah satunya dengan fokus membahas soal-soal di buku STAN yang gue punya. Iya, tanggal 21 Juli gue akan mengikuti test USM STAN di UNP. Menghibur diri dan menenangkan hati. Mikirnya, kalau gue terima di STAN gue ga harus lama-lama terpenjara di lantai lima.
Minggu, 21 Juli, gue ikut USM STAN di UNP. Gue masih ingat, waktu itu di ruangan MM. AC nya sangat dingin. Atau mungkin bagi orang biasa aja. Tapi buat gue yang baru beberapa hari berhadapan dengan panasnya ibukota kemudian diaduk dengan dinginnya AC ini adalah kiamat untuk kepala. Ditambah dengan cairan di hidung dan lendir di tenggorokan. AC benar-benar neraka berdarah dingin saat itu.
Hingga dengan angkuhnya gue mengisi semua lembar jawaban dengan sok pasti. Dengan harapam setelah mengisi semua di lembar jawaban, gue bisa langsung keluar. Tapi kampretnya, gue harus nunggu sampai jam yang ditetapkan.
Jujur, mati mungkin lebih baik dibanding harus menahan sakit kepala, ingus, dan batuk di ruangan sunyi nan ber-AC.
Jujur, mati mungkin lebih baik dibanding harus menahan sakit kepala, ingus, dan batuk di ruangan sunyi nan ber-AC.
Kemudian di hari itu juga gue balik ke kampung, salimpaung, Batusangkar. Hanya untuk dua hari di rumah. Sebab tanggal 23 Juli sudah harus balik ke padang, karena esoknya ada ESQ
***
23 Juli 2013
Gue turun dari travel yang gue tumpangi. Sendiri. Badan kecil ini menyandang tas, menarik koper di tangan kanan, dan sebuah dus di tangan kiri. Berat. Teramat berat bahkan. Tapi tentu lebih berat beban di hati saat gue berdiri di lantai dasar, menengadah ke langit, bertanya kenapa, meski membatin bisa.
Sejujurnya, sejak kemarin ibu bersikeras mengantarkan anaknya ke rumah baru ini.
"Bialah Ama antaan, Nak. Bia sanang lo ati ama siap tu. Ndak kan taangkek gai dek ka barang sabanyak ko do."
Sejujurnya, sejak kemarin ibu bersikeras mengantarkan anaknya ke rumah baru ini.
"Bialah Ama antaan, Nak. Bia sanang lo ati ama siap tu. Ndak kan taangkek gai dek ka barang sabanyak ko do."
Namun gue menolak tawaran tersebut. Gue lebih suka menyelesaikan luka seorang diri. Ibu tidak boleh melihat wajah pecundang anaknya saat anaknya menapaki titik baru dalam hidupnya. Itu yang gue pikirkan.
Meski dalam beberapa hal gue sangat manja kepada orang tua, tapi dalam beberapa prinsip hidup, tegarnya karang tidak ada apa-apanya dibandingkan ketegaran yang gue punya meski hanya berpura-pura tegar. Tapi prinsip tetaplah prinsip.
Meski dalam beberapa hal gue sangat manja kepada orang tua, tapi dalam beberapa prinsip hidup, tegarnya karang tidak ada apa-apanya dibandingkan ketegaran yang gue punya meski hanya berpura-pura tegar. Tapi prinsip tetaplah prinsip.
Gue menaiki satu per satu anak tangga. Menangis dalam hati sambil menyemangati kaki. Setengah perjalanan menuju lantai lima, ingin sekali rasanya menelpon kakak saja. Merengek meminta dikirimi uang dan bisa langsung cari kosan.
Tapi gue kembali ingat. Sejak SMA gue ingin hidup mandiri dan jauh dari keluarga. Gue ingin hidup bebas dan melakukan banyak kenakalan layaknya gue di sekolah dasar dulu. Sebab kenakalan masa SMP tidak bisa tersalurkan di SMP unggulan itu. Meski asrama bukanlah tempat yang tepat untuk menyalurkan kenakalan, setidaknya gue tidak harus merengek kepada kakak saat itu.
Yaa walaupun merengek kepada kakak adalah hobi di masa kini. Hahaha
Tapi gue kembali ingat. Sejak SMA gue ingin hidup mandiri dan jauh dari keluarga. Gue ingin hidup bebas dan melakukan banyak kenakalan layaknya gue di sekolah dasar dulu. Sebab kenakalan masa SMP tidak bisa tersalurkan di SMP unggulan itu. Meski asrama bukanlah tempat yang tepat untuk menyalurkan kenakalan, setidaknya gue tidak harus merengek kepada kakak saat itu.
Yaa walaupun merengek kepada kakak adalah hobi di masa kini. Hahaha
Akhirnya, gue sampai di lantai 5B. Mencampakkan semua barang yang gue perjuangkan nasibnya menaiki 90 anak tangga. Dan terhempas di lantai meski tak sesantai saat di pantai. Kemudian gemetar memutar kunci dan menekan pegangan pintu.
"Selamat datang, di rumah baru wahai jiwa yang blablabla."
Mungkin itulah kalimat yang dikatakan hantu-hantu asrama saat gue membuka pintu.
"Selamat datang, di rumah baru wahai jiwa yang blablabla."
Mungkin itulah kalimat yang dikatakan hantu-hantu asrama saat gue membuka pintu.
23 Juli 2013.
Hari di mana gue harus mulai berpur-pura kuat. Hari di mana hidup terasa bukan 24 jam sehari. Amat panjang.
Apalagi di kala malam.
Hari di mana gue nulis kalimat "The Journey Of Soul" dalam buku cokelat yang membantu gue dalam mengingat.
Hari di mana gue harus mulai berpur-pura kuat. Hari di mana hidup terasa bukan 24 jam sehari. Amat panjang.
Apalagi di kala malam.
Hari di mana gue nulis kalimat "The Journey Of Soul" dalam buku cokelat yang membantu gue dalam mengingat.
Dan tanggal 23 selalu terasa istimewa sejak saat itu. Anggap saja anniversary nya gue dengan hotel hijau itu.
Sekian
***
Epilog
Epilog
Haha ingin sekali rasanya menulis semua hal yang gue alami di hotel hijau lantai 5B48 itu.
Misalnya, betapa berartinya suara monyong di kala malam tiba. Sebab gue sulit dan takut tidur. Jadi setidaknya suara monyong bisa mengalihkan pikiran. Hahahahha
Misalnya, betapa berartinya suara monyong di kala malam tiba. Sebab gue sulit dan takut tidur. Jadi setidaknya suara monyong bisa mengalihkan pikiran. Hahahahha
Aku pelupa. Sebab itu aku menulis. Hahaha (ini kan bionya Zarry Hendrik)
.png)






0 komentar: