Ini Rasaku, Aku yang Akan Bertanggung Jawab

08.53 0 Comments

Aku mulai terbiasa menikmati kopi di tempat ini. Sejak jarak dan waktu memaksaku tuk menanggung pilu. Setidaknya aku bisa selalu memberi ruang untuk kopi, anggap saja ini ruang untuknya di hidupku. selagi aku masih minum kopi, berarti masih penuh ia mengepul mengisi ruang yang aku sediakan.
****
"Seingatku, aku tidak pernah menyuruhnya untuk menaruh harapan. Aku tidak pernah menyuruhnya tuk jatuh cinta. Dan aku tidak pernah memintanya tuk menunggu ku. Ini hidupku dan ini caraku." tuturnya dua minggu lalu kepada seorang teman saat kami reuni akbar.
****
Benar. Apa yang dikatakannya benar. Bukan salahnya rasa ini tumbuh di hatiku. Aku menunggunya itu dosaku, bukan dosanya.  Aku menyayanginya itu pilihanku dan dia tidak pernah menuntunku ke arah itu.
Aku masih menunggunya. Menunggu orang yang pernah ku cintai dalam diam. Benar. Selama ini aku mencintainya dalam diam dan diam-diam menunggunya. Dengan harapan semua rasa akan hilang perlahan dan dan hanya aku dan Tuhan yang mengetahuinya.
Aku mengenalnya di masa putih abu-abu. Saat langit selalu terasa biru sebab ada dia yang selalu mengganti awan kelam yang tergantung di langit biru. Bagiku mengenal dia adalah suatu anugerah yang luar biasa meski tak seluar biasa aku memiliki kedua orangtuaku. Bagiku, seistimewa apapun orang yang hadir dan akan hadir di hidupku, tidak akan ada yang bisa mengalahkan rasa syukurku memiliki orangtua dan keluargaku. Karena mereka jiwaku.
Aku lupa bagaimana detailnya aku bisa menyukainya. Jangan tanya kenapa aku menyukainya karena aku tidak akan pernah bisa menemukan alasan saat mencintai seseorang. Tapi tanyalah sejak kapan, mungkin masih bisa ku jawab sebab aku masih memiliki sedikit catatan tentang itu.
Satu kata mungkin cukup saat aku jatuh cinta yaitu nyaman. Aku tidak bisa menentukan aku harus jatuh cinta kepada siapa. Aku tidak bisa menargetkan akan jatuh cinta kepada siapa, kenapa, dan sampai kapan. Namun saat aku nyaman, aku akan bertahan, meski dalam diam.
Satu kalimat yang pernah ia ucap dan masih ku ingat sebab tak sengaja pernah ku catat. Dalam diari tua yang setia merekam setiap zaman yang ku selami. "Jangan pikirkan, tapi rasakan." Kalimat yang sampai saat ini masih bisa ku gunakan saat kepala hendak pecah. Mengingatnya itu menyenangkan. Menyebut namanya itu menenangkan. Meski tak bisa secepat saat aku menyebut nama Tuhan.
Berteman dengannya selama di putih abu-abu sangat menyenangkan. Bertemu dengannya kerap kali buatku gugup dan salah tingkah hingga senyum aneh atau kata-kata tak jelas yang ku ucapkan.
Anehnya, meski aku nyaman dengannya, aku juga tidak bisa mengendalikan hati untuk tidak mendua di akhir cerita. Benar, ada orang lain yang berhasil menembus dinding hati yang pernah ku pagar tebal. Aku mendua sebab ia selalu buatku tertawa. Salahku? Aku rasa tidak. Sebab aku tidak membebankan rasaku pada siapapun. Sebab dalam diam aku bisa menentukan alur ceritanya sendiri. Meski kemudian jarak dan waktu menghapusnya perlahan.
Jarak dan waktu dengan sengaja memisahkan 'kami' bertiga. Benar-benar memisahkan. Jarak dan waktu juga yang dengan sendirinya membantuku menyeleksi mana cinta yang akan bertambah tumbuh dan mana cinta yang akan hilang dengan sendirinya.
Kini sudah tiga tahun setelah putih abu-abu. Tiga tahun aku memeluk diriku sendiri meski tidak tiga tahun dalam diam mencintainya. Bagaimana aku akan diam jika orang-orang memaksaku memberikan alasan mengapa aku betah sendiri. Bagaimana aku akan selalu mengatakan blablabla jika tak punya alasan kuat tuk menolak mereka. Maka ku putuskan tuk bilang aku mencintainya dan aku menunggunya. Hingga entah bagaimana dia mengetahuinya dan tiba-tiba kita menjadi dua orang asing saat reuni dua minggu yang lalu.
Salahku? Mungkin. Sebab dulu aku berjanji dengan diri sendiri akan tetap mencintaimu dalam diam dengan harapan cinta ini akan hilang dengan perlahan. Aku berusaha membunuh Rindu dengan menulis tapi rindu akan selalu hidup sebab aku selalu membaca tulisanku.
Tapi, apa aku harus mendengar kau mengucapkan kalimat-kalimat itu? Ini rasaku dan aku yang akan bertanggungjawab atas rasa yang ku punya.
****
Aku meneguk kopi terakhir. Mengenangnya cukup menenangkan meski dengan alur yang tak pernah ku inginkan.
#Fiksi

Rafika Surya Bono

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 komentar: