Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sebuah Rahasia

Aku bahkan belum kemana-mana. Tapi aku sudah merindukan tempat ini. Tempat dimana kita bertemu setiap hari. Aku merindukanmu!
Aku ingin menulis setiap jengkal perjalanan dan pertemuan denganmu.

Hari ini, ku putuskan untuk menjemput semua ingatan dan kenangan. Karena telah ku ikrarkan tuk melupakan dan mengikhlaskanmu.

Mungkin catatan ini tak kan ku mulai dari awal. Akan ku tulis setiap yang ku ingat. Dan setiap yang mampu ku tulis.

Hari ini aku berjanji akan membuka semua rahasia dalam hati. Karena sudah cukup aku memendam, dan yang terpenting, sudah tak lagi kau mengisi hatiku. Hatiku kini bagai udara. Bebas siapapun yang ingin memilikinya.

Dan aku harap kau akan membacanya. Tak perduli bagaimana caranya. Aku ingin kau tahu, bahwa aku pernah mencintaimu dengan sebegini dalam. Dan kau harus tahu, ada orang sebodoh aku yang merindukanmu setiap waktu, tapi tak sedikitpun mencoba untuk menanya kabarmu, apalagi mengajak bertemu.

Aku ingin kau tahu, bahwa aku pernah beberapa kali menangisimu. Merindukanmu dalam diam, dan ku pendam dalam tawa dan air mata. Aku ingin kau tahu, bahwa aku pernah sangat merindukanmu, hingga aku terisak di bawah bantal, dan terlelap dalam pelukan hangat impian.
Aku ingin kau tahu, bahwa merindukanmu adalah satu dari banyak agenda wajib dalam tiga tahun masa kuliahku.

Aku ingin kau tahu, bahwa namamulah yang ku sebut saat aku takut, cemas, sedih, bahkan bahagia. 
Aku ingin kau tahu, bahwa alam bawah sadarku dikuasai satu, namamu.
Yang ku isyaratkan dengan 'Waktu' di setiap tulisanku.


Aku sungguh merindukanmu!
Merindukan suaramu, Merindukan matamu yang hilang saat tertawa. Aku rindu tubuhmu yang kokoh.

Aku merindu debar saat melihatmu, atau saat memandangmu diam-diam lalu kau menoleh kepadaku.
Aku rindu!


Hanya saja, saat Aku menulis ini, tak banyak yang kurindukan darimu. Tak banyak yang bisa kutulis tentangmu. Tak ada sedikitpun kenangan denganmu. Selain kalimat "elok-elok" yang kau ucapkan sekitar enam tahun yang lalu. Saat kau mengantarku ke  halte sehabis acara kelas kita.

Apalagi kenangan tentang kita?
Ku rasa tak Ada. 
Apa benar Aku mencintaimu lebih dari Lima tahun, sedang Aku Tak miliki kenangan apapun denganmu?


Ah sudahlah. Nanti kutulis apa yang bisa dan apa yang harus ku tulis. Biar kau yang tentukan nanti, apa benar aku mencintaimu sebegini gila.

Ma Hero

Dia bagai malaikat di kelurga kami.

Tingginya 157 cm, kulitnya sawo matang, dan memiliki rambut bergelombang yang sudah sekitar sepuluh tahun ia sembunyikan di balik jilbabnya. Ia wanita yang  cantik, ceria dan yang terpenting ia cerdas. Teramat cerdas bahkan. Ia baik melebihi perempuan lain sebaya dirinya. Ia berkorban demi keluarga melebihi tanggung jawab nya. Mungkin baginya keluarga adalah segalanya.

Kecerdasan yang ia miliki membuat keluarganya mulai bangkit dari keterpurukan. Sikapnya yang terhormat dan pembawaannya yang tenang membuat orang-orang di sekitar menyeganinya. Keberhsilan yang ia raih membuat keluarganya mulai disegani orang-orang. Dan cintanya kepada keluarga membuat ayah,ibu, dan adik-adiknya berani tersenyum dan tertawa tanpa beban.
Benar. Selama ini kami tertawa namun ada kesedihan dan ketakutan yang kami pendam. Takut besok harus makan apa. Takut besok tidak bisa ke sekolah karena tidak ada ongkos. Takut besok akan ada orang marah-marah meminta uang yang kami pinjam untuk segera dikembalikan karena tidak bisa membayar sesuai janji. Benar. Dulu hari-hari kami dipenuhi oleh ketakutan.

Dulu aku bahkan tak berani berani  bisa kuliah dengan fasilitas  mewah yang kini ku nikmati. di kelas setara ekonomi keluargaku, aku termasuk orang yang kini mewah dalam kuliah. Mewah dalam pandanganku kini bukan seperti di kota-kota besar lainnya atau seprti fasilitas yang dimiliki teman-teman kampus ku yang lain. Tidak. Tolong jangan bayangkan aku mewah dalam arti aku mengendarai mobil Honda jazz ke kampus, nongkrong di café-café elit, dan gonta-ganti  gedjet keluaran terbaru. Tidak. Tidak. Aku ke kampus menggunakan angkot atau bus kampus karena aku memang tak punya Honda Jazz. Aku tidak pernah nongkrong di café-café mewah karena uang jajanku menag tidak memungkinkan aku tuk bisa melakukanny. Dan handphone ku smartphone yang hanya bisa menampung tiga aplikasi karena memorynya yang terbatas.

Bagiku bisa kuliah dan makan setiap hari dengan baik adalah kemewahan harganya tak terkira. Menikmati waktu kuliah tanpa harus memikirkan apakah minggu ini ibu ada uang untuk dikirimkan kepadaku. Aku tak perlu pusing memikirkan uang untuk membayar kosan. Aku bahkan tidak harus mencari kosan yang murah.

 “Terserah kamu mau cari kosan yang mana. Yang penting aman dan nyaman,”suara tulus kakak di ujung telepon.

“Ada kosan yang murah Ni. Dari halte bus jalan dulu sekitar lima menit. Kosannya lumayan  bagus dan harganya ekonomis ditambah ga perlu bayar ongkos karna bisa naik bus kampus,” jawabku.

“Ga ada kosan yang di tepi jalan? Biar kalo telat pulang dari kampus ga harus jalan jauh,”
“ada sih Ni. Tapi lumayan mahal dan ga bisa naik bus. Harus naik angkot,”

“Ga papa naik angkot asalkan aman. Kalo soal uang kamu ga perlu mikirin. Nanti uni kasih juga uang buat bayar angkot.”

Kira-kira percakapan tersebut terjadi setahun yang lalu. Saat aku masih tinggal di asrama dan harus segera pindah karena jatah tinggal di asrama hanya setahun.

“Assalamualaikum Ni,”
“Waalaikum salam,”

“Ni, ko Fika,”

“Oh iya ada apa ka?”

“Uni sadang sibuk? Lai ndak manggaduh ka do?”

“oh ga kok,”

“Uni, urang nio mangecek an uang kos.,”

“Oh iya bulan Mei kan?”

iyo ni. Hehe urang takuik uni lupo tu takajuik se pas bulan Mei,”

“hmm ga kok. Uni inget. Berapa jumlahnya? Oh oke-oke nanti awal Mei uni transfer yaa”

Itu percakapan melalui telepon beberapa hari yang lalu dan aku menangis setelah telepon ku tutup. 


*bersambung

Punya, tapi Mungkin Tidak


Karin, gadis berusia 19 tahun, berbadan kurus, sawo matang, dan memiliki tinggi sekitar 155 cm. Rambutnya bergelombang sebahu dan memiliki bibir tipis berwarna merah hati. Tertawa adalah hobinya. Keras kepala adalah wataknya. Cuek menjadi ciri khasnya. Itulah sedikit gambaran tentang Karin.

Ia terbiasa tertawa terbahak-bahak di dekat teman-temannya. Setidaknya dengan tertawa seperti itu, tidak akan ada yang tahu tentang luka yang ia derita. Meski kadang ia kesal kepada dirinya sendiri yang bisa tertawa dan membuat orang tertawa di luar. Akan tetapi hanya menangis yang ia bisa saat sendiri.

Bagaimana tidak.  Ibunya 'pulang' sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Saat ia butuh perhatian dan kasih sayang dari ibu. Saat ia  seharusnya bisa merengek manja meminta dibelikan boneka dan pergi ke kebun binatang saat liburan tiba. Tapi Tuhan menyuruh ibunya pulang begitu cepat. Ia tidak diberi kesempatan untuk mengadu malu kepada ibu saat ia baru pertama kali datang bulan. Ia tidak diberi Izin meminta bantuan kepada ibu untuk memasang pembalut seperti gadis remaja lainnya. Ia dipaksa meneruskan hidup dengan cara dia sendiri. Ah, kadang Tuhan memiliki selera humor terlalu tinggi. Hingga kadang saking lucunya, ia membuat beberapa orang tertawa dengan definisi yang berbeda.

Karin masih memiliki ayah sampai detik ini. Tuhan masih berbaik hati kepadanya. Ia juga diberikan beberapa orang kakak dan abang sebab ia adalah si bungsu di keluarganya. Namun apa daya. Ayahnya menikah lagi sehingga memiliki tanggung jawab baru di kehidupan barunya. Kakak dan abang-abangnya pergi merantau meski masih satu pulau.

Tuhan juga memberikannya otak yang cerdas. Buktinya, ia juara umum di bangku SMP dan bisa ke luar negeri sebagai reward dari pemerintah kabupaten saat itu. Kerasnya hidup tidak bisa mengalahkan semangatnya untuk menjadi pemenang di bangku SMP. Mungkin di kala itu ia hanya memikirkan masa depan saat keluarga masih setia membimbingnya. Saat keluarga masih sadar bahwa ia masih gadis belia yang tidak bisa menjalani hidup sendiri.

Jangan rengekkan pengalaman pertama kalian hidup di kosan dan jauh dari orang tua. Jika kalian tidak pernah merasakan hidup seorang diri sejak tamat SMP. Setidaknya, kalian masih bisa menelpon ibu saat rindu atau meminta ibu untuk datang saat kalian tidak bisa pulang saat teramat rindu. Tapi tidak dengan Karin.

Memasuki bangku SMA, sepertinya Tuhan mulai mengujinya lebih jauh. Empat semester lebih tinggal di rumah sebatangkara. Saat kalian menghabiskan malam dengan gelak-tawa bersama keluarga, ia terpaku di depan TV seorang diri. Saat kalian bisa lari ke kamar ayah dan ibu saat ketakutan ketika petir dan hujan di tengah hujan, ia hanya bisa bersembunyi di bawah selimut seorang diri. Meski masih diizinkan Tuhan tuk memeluk. Memeluk dirinya sendiri.

Saat remaja SMA lainnya kesal diomeli ibu tuk bangun pagi agar tidak terlambat ke sekolah, ia tidak bisa kesal kepada semangat yang telah membangunkannya. Ia tidak bisa merengek kepada ayah untuk diurut kepalanya saat kepala terasa mau pecah. Tidak sekalipun menerima telpon untuk bertanya kenapa pulang terlambat seperti anak SMA pada umumnya. Tidak. Tidak ada.

Tapi di sanalah letak specialnya Karin. Tidak akan ada yang percaya dengan kisah hidupnya jika orang melihat ia tertawa. Tidak akan ada yang menyangka bagaimana ia bisa bertahan di saat dunia mempecundanginya begitu jauh. Sebab, hanya orang-orang terdekat yang ia izinkan menembus sorot matanya yang terkadang sendu. Hanya dengan orang-orang tertentu ia bisa menjatuhkan air matanya.

Jangan pernah mengeluh soal hidup jika kalian tidak pernah melihat caranya menjawab persoalan hidup. Begitu cuek. Terserah dengan apa yang akan terjadi detik berikutnya, yang pasti ia berhasil melalui detik sebelumnya.

Hanya saja masa SMA dihabiskannya dengan sedikit nista. Mungkin karena kebebasan yang ia  miliki. Tidak ada yang peduli dengan apa yang ia lakukan dan apa yang terjadi dengan hidupnya. Yang penting ia masih terlihat hidup, begitu (mungkin) keluarga menganggapnya.

Setamat SMA ia kembali terombang-ambing di dalam kapal tak bertuan. Hanya mengikuti ke mana angin membawanya. Sudah dijelaskan tadi bahwa ia cerdas. Bagaimana tidak, ia lulus test masuk perguruan tinggi negeri tanpa harus mengikuti bimbel seperti anak orang kaya lakukan. Atau seperti orang-orang pesimis dengan kemampuan diri sendiri lainnya. Yaitu mereka menghabiskan masa liburan setelah UN SMA dengan buku-buku bimbel yang tebal dan ujian-ujian prediksi setiap minggunya. Tidak. Dia tidak membutuhkan hal itu. Tanpa bimbel pun ia diterima di PTN meski kemudian ia melepas PTN tersebut karena berbagai alasan.

Satu tahun ia habiskan dengan terombang-ambing tapi tentu tidak akan bisa menenggelamkannya. Karin itu kuat. Dunia terlalu pecundang untuk mempecundanginya. Lihatlah, dia masih bersiri kokoh hingga detik ini. Begitu banyak kenakalan takdir yang berhasil ia jinakkan.

Satu tahun kemudian, ia kembali mengikuti test masuk PTN. Satu tahun  tidak membuka buku dan menjalani hidup sekeras batu, ia melenggang masuk ke sebuah PTN di kota ini. Saat teman seangkatan yang (mungkin) mengikuti bimbel satu tahun untuk bisa lulus di PTN, dengan santainya ia lulus di PTN di saat temannya terpaksa menggunakan uang orang tua di swasta. Mungkin karena sudah berhektar-hektar ujian Tuhan yang ia selesaikan, jadi apalah arti lembaran soal ujian PTN itu.

Tapi Tuhan tidak puas sampai di situ. Kenakalan-kenakalan takdir tidak berhenti mengikutinya.
Sekuat-kuatnya Karin, tetap saja dia Karin, gadis berusia 19 tahun.  Yang jika diibaratkan obat, ia seharusnya sudah overdosis dengan ujian-ujian Tuhan. Setegar apapun hatinya ia pasti membutuhkan keluarga tempat kembali tuk menghempaskan hidupnya. Dan itulah yang ia butuhkan saat ini. Ia ingin keberadaannya di dunia dirasakan oleh keluarganya.

****

Entah mana yang lebih baik. Benar-benar sebatangkara atau memiliki keluarga serasa tak punya.

Ini Rasaku, Aku yang Akan Bertanggung Jawab

Aku mulai terbiasa menikmati kopi di tempat ini. Sejak jarak dan waktu memaksaku tuk menanggung pilu. Setidaknya aku bisa selalu memberi ruang untuk kopi, anggap saja ini ruang untuknya di hidupku. selagi aku masih minum kopi, berarti masih penuh ia mengepul mengisi ruang yang aku sediakan.
****
"Seingatku, aku tidak pernah menyuruhnya untuk menaruh harapan. Aku tidak pernah menyuruhnya tuk jatuh cinta. Dan aku tidak pernah memintanya tuk menunggu ku. Ini hidupku dan ini caraku." tuturnya dua minggu lalu kepada seorang teman saat kami reuni akbar.
****
Benar. Apa yang dikatakannya benar. Bukan salahnya rasa ini tumbuh di hatiku. Aku menunggunya itu dosaku, bukan dosanya.  Aku menyayanginya itu pilihanku dan dia tidak pernah menuntunku ke arah itu.
Aku masih menunggunya. Menunggu orang yang pernah ku cintai dalam diam. Benar. Selama ini aku mencintainya dalam diam dan diam-diam menunggunya. Dengan harapan semua rasa akan hilang perlahan dan dan hanya aku dan Tuhan yang mengetahuinya.
Aku mengenalnya di masa putih abu-abu. Saat langit selalu terasa biru sebab ada dia yang selalu mengganti awan kelam yang tergantung di langit biru. Bagiku mengenal dia adalah suatu anugerah yang luar biasa meski tak seluar biasa aku memiliki kedua orangtuaku. Bagiku, seistimewa apapun orang yang hadir dan akan hadir di hidupku, tidak akan ada yang bisa mengalahkan rasa syukurku memiliki orangtua dan keluargaku. Karena mereka jiwaku.
Aku lupa bagaimana detailnya aku bisa menyukainya. Jangan tanya kenapa aku menyukainya karena aku tidak akan pernah bisa menemukan alasan saat mencintai seseorang. Tapi tanyalah sejak kapan, mungkin masih bisa ku jawab sebab aku masih memiliki sedikit catatan tentang itu.
Satu kata mungkin cukup saat aku jatuh cinta yaitu nyaman. Aku tidak bisa menentukan aku harus jatuh cinta kepada siapa. Aku tidak bisa menargetkan akan jatuh cinta kepada siapa, kenapa, dan sampai kapan. Namun saat aku nyaman, aku akan bertahan, meski dalam diam.
Satu kalimat yang pernah ia ucap dan masih ku ingat sebab tak sengaja pernah ku catat. Dalam diari tua yang setia merekam setiap zaman yang ku selami. "Jangan pikirkan, tapi rasakan." Kalimat yang sampai saat ini masih bisa ku gunakan saat kepala hendak pecah. Mengingatnya itu menyenangkan. Menyebut namanya itu menenangkan. Meski tak bisa secepat saat aku menyebut nama Tuhan.
Berteman dengannya selama di putih abu-abu sangat menyenangkan. Bertemu dengannya kerap kali buatku gugup dan salah tingkah hingga senyum aneh atau kata-kata tak jelas yang ku ucapkan.
Anehnya, meski aku nyaman dengannya, aku juga tidak bisa mengendalikan hati untuk tidak mendua di akhir cerita. Benar, ada orang lain yang berhasil menembus dinding hati yang pernah ku pagar tebal. Aku mendua sebab ia selalu buatku tertawa. Salahku? Aku rasa tidak. Sebab aku tidak membebankan rasaku pada siapapun. Sebab dalam diam aku bisa menentukan alur ceritanya sendiri. Meski kemudian jarak dan waktu menghapusnya perlahan.
Jarak dan waktu dengan sengaja memisahkan 'kami' bertiga. Benar-benar memisahkan. Jarak dan waktu juga yang dengan sendirinya membantuku menyeleksi mana cinta yang akan bertambah tumbuh dan mana cinta yang akan hilang dengan sendirinya.
Kini sudah tiga tahun setelah putih abu-abu. Tiga tahun aku memeluk diriku sendiri meski tidak tiga tahun dalam diam mencintainya. Bagaimana aku akan diam jika orang-orang memaksaku memberikan alasan mengapa aku betah sendiri. Bagaimana aku akan selalu mengatakan blablabla jika tak punya alasan kuat tuk menolak mereka. Maka ku putuskan tuk bilang aku mencintainya dan aku menunggunya. Hingga entah bagaimana dia mengetahuinya dan tiba-tiba kita menjadi dua orang asing saat reuni dua minggu yang lalu.
Salahku? Mungkin. Sebab dulu aku berjanji dengan diri sendiri akan tetap mencintaimu dalam diam dengan harapan cinta ini akan hilang dengan perlahan. Aku berusaha membunuh Rindu dengan menulis tapi rindu akan selalu hidup sebab aku selalu membaca tulisanku.
Tapi, apa aku harus mendengar kau mengucapkan kalimat-kalimat itu? Ini rasaku dan aku yang akan bertanggungjawab atas rasa yang ku punya.
****
Aku meneguk kopi terakhir. Mengenangnya cukup menenangkan meski dengan alur yang tak pernah ku inginkan.
#Fiksi

Spesies Cinta yang Tak Ingin Bersama



Aku masih terbaring lemah, meski sebenarnya aku ingin sekali kuat seperti mereka. Infus dan ratusan tablet obat  cukup membantuku beberapa bulan terakhir. Aku mulai ganas membutuhkan obat-obat ini  terutama sebulan terakhir. Salah satunya disebabkan tuntutan kanker yang sudah menganbil alih kepemilikan tubuhku.
Aku bersyukur kanker ini semakin parah. Setidaknya itu berarti sedikit lagi aku akan mati.  Percuma saja rasanya hidup setelah tak ada lagi harapan dengannya. Kejadian sepuluh hari yang lalu membuatku menginginkan tak usah saja ada hari kamis. Hari di mana aku benar-benar kehilangan harapan dengannya.
Mengenal dia sejak aku belum mengerti caranya menyisir rambut. Berlari bersamanya sejak kaos kaki masih ibu yang memasangkannya. Merancang masa depan sejak semua cita-cita adalah menjai dokter. Aku menghabiskan hampir satu per lima abad dengannya.
“Aku juga mencintaimu. Entah sejak kapan rasa ini tumbuh, tapi yang pasti aku selalu memberinya pupuk agar tetap hidup dengan baik.”
Aku benci sekali diberikan ingatan yang kuat untuk  peristiwa itu. Adakah spesies cinta yang tak ingin bersama orang yang dicintainya? Ah, ibuku dimana? Aku tak bisa ditinggal sendiri seperti ini. aku butuh seseorang yang bisa mengalihkan pikiranku pada peristiwa itu. Ibuku dimana?
**
“Hisna, kita menghabiskan hampir seluruh umur kita bersama. Sejak kita masih belum bisa mengikat tali sepatu dengan baik. Sejak menggambar adalah gambar gunung dan laut.”
“Aku bersyukur Tuhan telah menciptakanmu untukku.”
“Kau tau? Ketika waktu terus berjalan, aku semakin tidak mengerti dengan apa yang ku rasakan. Aku selalu berusaha untuk membuat kau tidak mnyukai setiap lelaki yang mendekatimu. Aku selalu brusaha membuat setiap usaha mereka adalah sia-sia”
“Aku tahu.”
“Tapi harus kau tahu bahwa semua orang itu memang tidak ada yang layak memilikimu.”
“Lalu mengapa kau biarkan Ruli hampir saja memilikiku?”
“Sebab dia mencintaimu dengan tulus. Sebabbagiku, dia adalah laki-laki yang layak mendapatkanmu.”
“Apakah hidupku kau yang menentukan? apakah layaknya seseorang di hidupku kau yang tentukan siapa?”
“Hisna, aku tak bermaksud merancang masa depanmu. aku sudah mengenalmu sejak kecil. Aku tahu apa yang kau butuhkan dan orang seperti apa yang layak bersamamu.”
“Apa matiku nanti juga kau yang putuskan kapan pantasnya?”
“Hisna mengertilah,”
“Apa aku harus mengerti seseorang yang tak pernah mengerti dengan apa yang ku rasakan? Apa aku harus mengikuti keinginan seseorang disaat dialah yang aku inginkan?”
Dia hanya diam. Menghapus air mataku saja tidak. Dia hanya berdiri seperti patung.
“Aku juga mencintaimu Hisna. Entah sejak kapan rasa ini tumbuh, tapi yang pasti aku selalu memberinya pupuk agar tetap hidup dengan baik.”
Dia memelukku erat.  Aku tahu ini pelukan basa basi

Berharap Pada Waktu, Palsu !

"Tidak ada yang merindukan dan dirindukan. Yang ada hanyalah kau terlalu berharap pada  waktu ." (Chintia Lestari, 7 November 2014)

Read this before
http://fiikasb.blogspot.com/2014/05/tuk-terakhir-kali.html

"Sreeeettt"... Dengan bodohnya aku berhenti di taman ini.  Aku tidak bisa mengendalikan kaki agar tak menginjak rem di titik ini. Dua tahun berlalu sejak malam terakhir aku menunggumu di taman ini. Umur kita sekarang 27 tahun. Kita? Aku baru sadar bahwa tidak pernah ada kita.
Aku turun dari mobil menggenggam setengah hati yang masih ku miliki. Menulusuri setiap keindahan taman ini. Menikmati setiap pancaran cahaya lampu yang telah setia menerangi taman ini. Ya Tuhan, bagaimana mungkin dua tahun lamanya aku tidak menginjakkan kaki di tempat seindah ini.
Banyak perubahan yang terjadi selama kakiku tidak menyentuh jalan beton yang muat untuk dua orang  berjalan kaki ini. Taman ini makin indah saja. Daun-daun berisik manja sebab ia dibuai dinginnya angin malam.
Aku menutup mata, membentangkan kedua tangan lalu menghirup udara semesta. Tenang. Malam ini teramat tenang. Menularkan ketenangan ke dada ini. Ya Tuhan, terimakasih untuk semua udara yang telah dan akan ku hirup.
Aku mengelilingi taman. Ah, bahkan aku saja tak lagi ingat detail setiap sudut taman ini. Hatiku terlalu kebas hingga tak mengizinkan otak ini untuk kembali mengingatnya. Aku harus berkeliling dua kali agar aku mengingat secara detail tempat ini. Tempat pertama dan terakhir kau memelukku erat. Ah, Kau memberikan ku ingatan yang kuat atas peristiwa sembilan tahun  yang lalu itu.
Sembilan tahun? Benar. Sudah sembilan tahun lamanya aku (masih) merindukanmu meski tak sepenuhnya menunggumu. Jari manisku kini tak lagi kosong. Sudah ada lingkaran yang mengikatnya sejak dua bulan yang lalu. Andai kau tahu, aku memutuskannya dengan terburu-buru. Andai kau tahu, betapa aku ingin waktu berhenti saja saat seseorang memasang lingkaran pengikat di jari manis ini. Tapi tentu kau tidak tahu dan tidak ingin tahu.
Sempurna. Aku sempurna berdiri di tengah salah satu taman terindah kota ini. Bagaimana mungkin aku lupa tempat ini. Bersama dengan cinta pertama dan pelukan pertama sekaligus pelukan terakhir. Ku rasa, ini juga cinta terakhir.Bullshit memang, tapi aku yang memiliki rasa. Jadi suka-suka aku mau tulis apa.
Aku kembali menutup mata. Kini aku merasakan pelukan sebab aku baru saja memeluk diri sendiri. Dingin memang hingga memeluk diri sendiri tak ampuh untuk menghangatkan badan. Sedang angin masih asik mempermainkan rambutku seperti layangan yang menggelantung di udara. Tidak ada yang aku pikirkan sebab aku mengizinkan dingin malam menguasai pikiran malam ini.
Tenangnya malam membuatku bisa mendengar suara langkah kaki mendekat meski angin sedikit merusaknya. Ada langkah yang mendekat. Bukan langkah satu orang, sepertinya dua. Ah, sepertinya malam ini tidak akan setenang yang aku inginkan. 

*bersambung*

*****

Trilogi cerpen Tuk Terakhir Kali, Puisi Aku Ingin Menulis Puisi, dan cerpen Berharap Pada Waktu, Palsu !
Ini gegara eteklontong.com

Tuhan Sekreatif Itu



"Buk, amak mintak uang dua ribu."
"Dua ribu? Untuk apa uang dua ribu?"
"Amak tidak punya uang untuk ongkos pulang"


 Aku mengerti apa yang sedang terjadi. Sedari tadi aku menguping percakapan si pemilik kedai dengan amak yang biasa membantu-bantu di kedai ini.
Ini adalah kedai lotek favorit kami. Kami suka menghabiskan beberapa menit bahkan bisa sampai beberapa jam untuk sekedar makan lotek dan menghabiskan waktu bersama.

Siang itu aku hanya berdua dengan Anggi. Akhir-akhir ini, aku lebih suka beraktivitas sedikit lebih bersama Anggi dari pada teman-teman lainnya. Sebab, dia gila dan apa adanya. Ku rasa untuk berteman, aku tak punya banyak kriteria. Yang penting apa adanya dan jauh dari berpura-pura. Bagiku, pertemanan sesederhana itu.

Aku dan Anggi memesan lotek dua porsi.  Entah apa yang saat itu aku bicarakan bersamanya, aku lupa. Yang pasti kami menikmati lotek ini.

"Kalau Mak Ijuih benar  tadi menelpon ke sini dan tidak saya angkat, pasti nomor mak Ijuih ada di daftar panggilan tak terjawab." kata si pemilik kedai.

"Tadi saya ingin memberi tahukan kalau saya tidak bisa datang pagi. Karena saya menghadiri rapat wali murid di sekolah si Ros." jelas Mak Ijuih

"Emangnya pergi rapat jam 7 pagi hingga tidak sempat pergi ke sini. Piring banyak yang harus di cuci tadi pagi, dan saya yang harus mengerjakannya." kata pemilik kedai kesal

"Iya tadi pagi saya pergi jam 7," bela Mak Ijuih

Ah, aku tahu Mak Ijuih ini berbohong. Mana mungkin rapat wali murid sepagi itu, batinku.

"Alaahh.. Mak Ijuih. Saya tahu rapat wali murid itu seperti apa. Mustahil rapatnya jam tujuh. Saya juga punya anak yang sedang sekolah." ketus pemilik kedai.

Mak Ijuih hanya diam berdiri dan menatap TV.

"Sudah jam setengah satu mau ngapain lagi Mak Ijuih di sini. Pulang saja! Percuma masih di sini." ucap pemilik kedai.

Mak Ijuih pun pergi.

Aku sadari tadi menguping pembicaraan mereka dengan hikmat. Sehingga aku mengerti apa masalahnya. Mak Ijuih baru datang jam satu siang. Padahal seharusnya ia sudah datang pagi-pagi sekali untuk menyapu kedai dan mencuci piring kotor sisa jualan kemarin. Si pemilik kedai kesal karena tiga hal yaitu Mak Ijuih tidak datang tadi pagi   untuk menyapu dan mencuci piring. Kemudian Mak Ijuih berbohong karena mengatakan sudah berusaha memberi tahu pemilik kedai bahwa dia tidak datang dan juga berbohong mengatakan  rapat dimulai jam tujuh pagi.
Ku rasa ini memang salah Mak Ijuih hingga wajar pemilik kedai marah.

Piring Anggi sudah kosong. Sedangkan masih bersisa setengah porsi lotek lagi di piringku.

Seorang gadis berjilbab merah membawa tumpukan piring bersih. Sepertinya baru siap ia cuci. Ia berhenti di depan kedai ini. Aku tahu, ember berisi piring-piring itu berat, terlihat dari mimik wajah si gadis yang menahan berat. Dia sama dengan Mak Ijuih tadi. Profesinya sebagai penolong pemilik kedai sebelah. ( Aku orang minang. Dan di Minang, menyebut pembantu itu terasa kasar).

"Ngapain sama Amak buk." tanyanya.

Oh jadi Mak Ijuih itu ibunya, ucapku dalam hati

"Amak mu itu ada-ada saja perangainya. Aku suruh pulang saja. Sekarang dia di mana?" \tanya pemilik kedai.

"Sedang duduk di tangga sana."  Ia menunjuk dengan memonyongkan bibirnya mengarah kanan. Sebab tangannya memegang ember berisi tumpukan piring.

"Ngapain dia duduk di sana?" tanya pemilik kedai

"Buk, Amak minta uang dua ribu." jawabnya

"Untuk apa uang dua ribu?" Pemilik kedai kembali bertanya.

"Untuk ongkos pulang, Buk. Amak tak punya uang untuk ongkos pulang." balasnya.

Jlebbb... bagai petir menyambar pohon kelapa. Bagai baru saja tak sengaja bertemu seseorang yang dicintai dalam diam. Hatiku bergetar kemudian berdegub kencang.

Ya Tuhan. Nyatakah yang baru saja ku dengar? Mak Ijuih tak punya uang dua ribu untuk ongkos pulang. Ku harap aku salah dengar.

"Mengapa bukan dia saja yang memintanya sendiri." lanjut pemilik kedai.
"Mungkin dia lupa buk." bela si gadis

Wahai Pemilik Bulan, ternyata ini nyata. Aku tidak salah dengar. Si pemilik kedai memberikan uang kertas dua ribu rupiah kepada si gadis.

Setelah meletakkan ember berisi piring ke kedai sebelah, si gadis bergegas menuju tangga tempat Mak Ijuih, ibunya, menunggu uang dua ribu untuk ongkos pulang.


Aku menggeleng tak percaya. 
Ternyata Tuhan sekreatif itu, batinku. Benar-benar kreatif. Di saat ribuan orang di hari itu mungkin sedang berada di toko baju atau sepatu, Mak Ijuih tak punya uang dua ribu untuk ongkos pulang.
Coba bayangkan jika tadi saat hendak ke kadai ini dia menyenggol telur orang dan harus menggantinya. Apa yang bisa dilakukannya?

Aku tak bisa menerima kenyataan bahwa Tuhan sekreatif ini. Tak pernah sekalipun benakku membayangkan ada kenyataan sepert ini.

Aku sadar Tuhan itu kaya. Tidak ada seorang pun yang bisa menandingi kekayaannya. Bagaimana tidak, matahari, bulan, dan bintang itu miliknya.
Tidak ada satupun yang sanggup mengakusisi kepemilikan tersebut.

Laut dan gunung yang dipuja manusia itu baru satu per satu triliyun kekayaan yang dimilikinya.

Namun Tuhan. Sampai detik ini kejadian tersebut masih menyisakan tanya mengapa di benak ini.

*sekian*


Keyword : Bulan


Sepak Bola, Bahasa Tak Terucap



"Benar kata ayah. Bahwa sepak bola berhasil menjadi bahasa tak terucap. Saat bermain bola, tidak ada beda mana miskin mana kaya."


****
Yaqub, pria empat puluh tahun bermata tak terlalu besar juga tak terlalu kecil. Beralis tebal, kulit sawo matang. Berambut lurus, memiliki  tubuh yang kekar dan ideal. Ia sedang duduk di kursi VVIP bersama ribuan penonton lainnya yang memenuhi stadion. Penonton riuh meneriakkan kata "Indonesia" dan tangannnya setia di dada.

Senyumnya begitu mengembang saat kesebelasan Merah Putih memasuki lapangan. Terlebih saat anaknya, Rahmad,  melambaikan tangan ke arahnya. 

Ada haru yang tiba-tiba menghampirinya. Ada bangga yang tak mampu ia jelaskan dengan kata

Ia tak pernah menyangka, setelah 3 tahun mengecap pahitnya hidup, ia bisa kembali tersenyum selepas ini. Ini adalah kebahagiaan nyata yang ia rasakan tanpa embel-embel harta.

Benar. Kebahagiaan tanpa harta. Sudah 3 tahun Yaqub mengecap kejamnya hidup. Mengumpulkan botol-botol plastik, menyusun lembaran-lembaran karton, dan menjadi kuli angkat di pasar.

Pertemuan tiga puluh menit bersama para investor lainnya tiga tahun lalu telah mengubah hidup Yaqub 180 derajat. Perusahaannya bangkrut sebab Auditor kepercayaannya bermain mata dengan perusahaan lain. Memberikan laporan keuangan palsu yang membuatnya tidak mengetahui kondisi keuangan perusahaan.  Uang ratusan milyar yang ia tanamkan lenyap dalam hitungan menit setelah PT Karimuntiang dinyatakan pailit. Seperti sinetron lebai indonesia lainnya, rumah dan seluruh harta benda yang dimiliki Yaqub disita bank beberapa bulan kemudian. Hingga tersisa baju yang ia pakai hari itu. Terpuruk. Pasti.

Lebih terpuruk lagi saat sang istri, Egeham, tak mampu melewati masa-masa suram bersama dirinya. Dua hari setelah penyitaan, Egeham memilih mengakhiri hidupnya dengan lingkaran tali setrika di lehernya.

Tersisa Rahmad, anak semata wayangnya yang menemani melewati sunyi yang saat itu berumur 7 tahun. Seperti cerita di novel indonesia kebanyakan, Yaqub tak mendapat pinjaman dari kolega-kolega yang dulu bermanis muka saat ia punya segalanya. Hingga hidup di jalanan adalah jalan terakhir menyambung hidup.

Untung saja Yaqub pernah diajarkan untuk tatap berdiri kokoh meski stunami menghampiri. Didikan ayahnya yang keras membuatnya bertahan meski dalam keterpurukan. Dihina mantan rekan kerja dan mantan bawahan menjadi rutinitas biasa meski hatinya menjadi kebas.
Pernah juga dimarahi pemilik warung sebab terlalu sering ngutang beras.

Sore itu, Yaqub baru saja pulang dari jalanan tuk mencari makan.


"Ayah, tadi aku mencetak dua gol di pertandingan antar kelas. Mudah saja bagiku mengelabui penjaga gawang tambun itu. Sorak-sorai, pujian, dan pelukan membanjiriku." cerita Rahmad bersemangat. Itu adalah kemenangan sepak bola pertamanya.

"Oh ya? Kau pandai bermain bola? Ayah tidak pernah melihatmu bermain dan kau juga tidak pernah bercerita." Yaqub  heran.  Rahmad hanya diam dan tersenyum.

"Hmm kau memang anak yang selalu bisa ayah banggakan." Ungkapnya sambil mengusap dan memeluk anaknya. Yaqub teramat menyayangi Rahmad, satu-satunya alasan ia meneruskan hidup.


"Tunggu, kakimu kenapa berdarah? Sini ayah lihat." katanya langsung memeriksa kaki Rahmad. Dengan sigap Yaqub langsung bergegas ke warung membeli perban. Dalam sekejap ia sudah memasang perban di kaki Rahmad.


"Tadi aku memakai sepatu bola Budi. Ternyata sepatunya sudah tipis. Entah bagaimana caranya aku menginjak silet di lapangan." Ceritanya sambil mengaduh sakit.

"Nak, mengapa kau tak pernah bercerita kepada ayah kalau kau menyukai sepak bola. Kalau ayah tahu, kan bisa ayah belikan sepatu" tuturnya kecewa.

"Tak apa ayah. Aku juga baru-baru ini mulai bermain bola. Lagi pula aku tidak ingin membebani ayah kalau harus membelikanku sepatu." ujarnya tersenyum.

"Siapa bilang ayah akan terbebani. Jangan sok tau kamu." katanya sambil menggelitik dan menggoda Rahmad.

Percakapan sore itu cukup membebani pikiran Yaqub. "Bagaimanapun caranya, besok aku harus bisa mengumpulkan uang untuk membeli sepatu bola." batinnya. Membahagiakan Rahmad adalah satu-satunya tujuan hidup yang ia miliki.

Semalaman ia tidak bisa tidur. Pukul Setengah empat pagi ia sudah berngkat menyusuri jalan. Mengumpulkan barang bekas dan mengangkut beras seperti di serial FTV Indoneaia alay lainnya. 
Hasil kerja keras sehari ditambah pinjaman dari bos beras cukup untuk membeli sepatu bola bekas.


Rahmad menerima sepatu bola itu dengan haru. Ia memeluk ayahnya erat-erat lalu menangis. "Nak, jangan menangis. Kau adalah laki-laki. Jangan pernah menangis apapun yang terjadi dalam hidupmu. Kecuali karena satu hal."

"Satu hal?" tanya Rahmad bingung.

"Benar. Satu hal. Jika kau gagal membawa Indonesia juara di final piala dunia," katanya sedikit tertawa. (Tu yo. Indonesi Masuak Piala dunia se lah mustahil apalagi juara dunia. Hehehe).


Yaqub sering menyaksikan permainan sepak bola Rahmad sejak hari itu. Ia pulang lebih cepat dari jalanan jika rahmad mau bertanding.

Ia tak menyangka anaknya bermain sebegitu hebatnya. Menjadi pemain cadangan di tingkat kecamatan, pemain terbaik tingkat kota, peraih sepatu emas tingkat provinsi, dan lihatlah. Anaknya baru saja mencetak gol di Gelora Bung Karno.


Teriakan, sorakan, dan pujian  penonton membuat air mata yang sedari tadi ditahannya, memberontak jatuh dari kelopak matanya. Ia masih tak percaya. Berada di antara ribuan penonton yang memuja anak tunggalnya. Anak yang pernah tak dianggap oleh sekitar sebab berasal dari ayah seorang pemulung.

Lihatlah.. Mentri Pemuda dan Olahraga pun memeluk anaknya saat pemasangan medali emas. Ribuan orang meneriakkan nama anak pemulung. Hal yang tak pernah diduga Yaqub sejak ia terpuruk dulu.

Yaqub menghampiri Rahmad dan memeluknya erat. Air mata meluncur mulus dari mata Yaqub. Milyaran kata tak mampu membahasakan kebahagiaan yang ia rasakan.

Cahaya kamera wartawan memecah keharuan antara Yaqub dan Rahmad. Wartawan berusaha menangkap momen luar biasa tersebut untuk dijadikan headline besok lagi. Mungkin judulnya akan seperti ini "2 Gol Anak Pemulung, Indonesia Juara".

Anak dan bapak tersebut dibanjiri pertanyaan dari pemburu berita. Hingga satu pertanyaan dari wartawan tentang bagaimana Yaqub memaknai hari ini. Sambil merangkul Rahmad.

"Rahmad hanyalah seorang anak pemulung. Tapi mungkin kakeknya benar. Dulu ayah saya juga menyukai sepak  bola meski penikmat saja. Saya ingat beliau pernah berkata 'Sepak bola berhasil menjadi bahasa tak terucap. Saat bermain bola, tidak ada beda mana miskin mana kaya'. Dan ternyata itu benar adanya." ucapnya bangga.


*sekian*



Isinya lagi-lagi aneh. hahaha

Cerita ini hanya fitnah belaka. Jika ada kesamaan nama dan peristiwa hanyalah kebetulan belaka

Dua Cangkir Kopi



Dua Cangkir Kopi“Ini hidupku, itu hidupmu. Ini bukan hidup kita, karna kita belum seutuhnya bersama.”Itu kalimat yang diteriakkan  seorang gadis, yang baru saja meninggalkan kekasihnya yang masih duduk di kursi dekat  kaca kafe ini. Mungkin mereka bertengkar. Bukan mungkin, tapi memang bertengkar. 
Dari tadi si cewek hanya diam, menunduk, seperti seseorang yang baru saja aibnya terbongkar. Sedang si cowok sibuk memeriksa isi hape si cewek. Dan mereka membiarkan makanan yang sudah dari tadi diantarkan pelayan dingin di atas meja. Mungkin si cewek selingkuh dan si cowok mengetahuinya. Sekali lagi, mungkin. Entahlah. Gue juga tidak tau pasti, karna gue hanya memperhatikan mereka dari tadi. Bukan berniat untuk menguping atau ngurusin urusan mereka, tapi tingkah mereka membuat ketenangan gue menikmati senja di cafe ini cukup terganggu. Gue juga sedang duduk di cafe ini.
 Ini adalah tempat favorit gue menikmati senja di akhir pekan. Gue duduk di belakang pasangan kekasih itu, dua meja di belakang mereka. Dan dari tadi perhatian gue terpusat pada mereka.Menurut gue, ya sayang aja. Niat awal mereka ke sini untuk bersantai, tapi berakhir dengan pertengkaran.Tapi tenang saja. Gue ga akan bahas pasangan kekasih itu. Ini bukan tentang mereka, tapi tentang gue. Nama gue Axcel, Axcel Lautner lengkapnya. Gue asli Indonesia, meskipun dari nama cukup untuk membuat orang-orang yakin kalo gue adalah bule. Bukan, bukan. Gue asli Indonesia. Nama itu dikasih orang tua gue karena saat mengandung gue, ada film asal Inggris yang tokoh utamanya bernama seperti nama gue sekarang. Dan orang tua gue menyukainya.Saat ini gue sedang menikmati senja di cafe ini. Ini adalah cafe favorit gue. 
Dari sini, gue bisa melihat indahnya sunset. Iya, cafe ini berada di tepi pantai. Senja gue kali ini hanya ditemani oleh dua cangkir kopi di atas meja. Juga senja-senja sebelumnya. Hanya ada dua cangkir  kopi di meja gue. Gue sudah duduk selama dua jam di sini. Sendiri. Diam. Menikmati senja.Gue selalu sendiri ke sini. Dulu sempat berdua, cukup lama berdua. Tapi sudah dua tahun ini gue selalu sendiri ke sini. Tapi itu tidak jadi masalah. Gue bisa menikmati sendiri itu. Selagi masih ada kopi, maka hati gue tidak akan merasa sendiri. Gue selalu bisa merasakan hadirnya saat gue minum kopi. Seperti yang pernah dikatakannya dulu, bahwa jika ada dua cangkir kopi di meja, jangan pernah merasa sendiri.Gue masih duduk di cafe ini. Oke, gue ralat. Ini bukan cafe favorit gue. Tapi cafe favorit kami. Meja dan kursi favorit kami. Tempat ini adalah bagian penting dalam perjalanan kisah cinta kami. Kami bertemu di sini. Dan kami juga berpisah di sini.
Enam tahun yang lalu.

Hujan memaksa gue harus singgah di cafe ini. Gue hendak pergi ke suatu tempat, menggunakan sepeda motor dan ini adalah keperluan mendesak. Namun, derasnya hujan membuat gue luluh untuk mampir ke cafe ini. Gue masuk dengan pakaian basah. Dan sialnya, cafe penuh oleh pasangan muda yang entah memang berniat untuk pergi ke sini, atau hanya untuk menunggu hujan reda. Hanya ada satu kursi yang tersisa di dekat kaca, menghadap ke pantai. Dan di sana juga duduk seorang gadis yang cantik dan lembut. Berambut sebahu, kulit putih, dan mata yang bulat dan cokelat. Dia sedang menatap pantai. 
Entahlah, dia menatap pantai atau menikmati butiran air hujan yang jatuh.“Maaf, boleh saya duduk di sini? Hanya kursi ini yang tersisa, yang lain penuh” gue mencoba meminta bergabung. Dan dia mengiyakan hanya dengan senyuman, dan kembali menatap ke luar. Kemudian gue duduk dan memesan secangkir kopi. Dia kembali tersenyum, dan kali ini senyuman yang mengajak gue untuk berkenalan. “ Grace, Easter Grace”, ucapnya sambil mengulurkan tangan dan senyuman yang membuat gue merasa canggung. Gue memberi tahu nama gue.Dia begitu ramah, mudah senyum dan hangat. Entahlah, mudah sekali untuk kami bercerita banyak dipertemuan pertama. 
Dua orang asing yang baru kenal tapi sudah seperti dua orang teman yang kenal sejak kecil. Tidak habis-habisnya yang kami bicarakan. Tertawa lepas dengan lelucon-lelucon yang kami buat. Dan semua pembicaraan hangat itu dimulai oleh kopi yang gue pesan. Kami menyukai jenis kopi yang sama. Dan lihatlah, secangkir kopi mampu membuat kami memiliki ikatan. Entah ikatan yang seperti apa, lihat saja nanti.
Gue tahu hujan telah berhenti sejak satu jam yang lalu. Tapi gue memutuskan untuk tidak peduli. Gue membiarkan urusan penting tadi terabaikan. Apalagi yang lebih penting selain bercerita banyak dengan gadis di depan gue ini. Apalagi yang lebih penting selain menikmati senja dengan gadis bermata cokelat ini. Apalagi yang lebih penting selain menyeduh kopi dengan gadis yang bahkan dengan satu senyumannya mampu membuat gue lupa dengan masalah-masalah yang gue punya.
Itu pertemuan pertama yang menakjubkan. Ini terkesan lebay, tapi itulah adanya. Kami saling memberikan nomor handphone, siapa tahu berguna, pikir kami saat itu. Dan tentu saja berguna. Kami melanjutkan percakapan melalui sms. Sesekali melalui telepon. Dua setengah jam belum cukup untuk kami becerita di cafe kala itu. Itulah ajaibnya cinta. Kalian bisa betah berbicara dengan orang yang kalian cintai melebihi 6 sks kuliah Akuntansi. Kalian betah menatap orang yang kalian cintai melebihi betahnya menatap pemandangan dari puncak gunung Rinjani. Kalian betah mendengarkan suara melalui telopon berjam-jam melebihi betahnya kalian mendengarkan lagunya Ed Sheeran.
Kami baru bertemu kembali setelah tiga bulan pertemuan pertama. Dia sibuk, gue juga. Di cafe yang sama, kursi, dan meja yang sama. Kami lebih membicarakan tentang kesibukan kami akhir-akhir ini. Gue sibuk menyelesaikan skripsi dan dia juga sibuk dengan kuliahnya. Gue kuliah tingkat akhir di jurusan Teknik salah satu Institut di kota ini. Dia jurusan Akuntansi tahun dua di salah satu universitas kota ini. Banyak hal yang kami bicarakan. Dari hal-hal sepele hingga hal-hal yang serius.Selalu menyenangkan berbicara dengannya, melihat senyumnya, dan menghabiskan senja dengannya. Kami mulai sering menghabiskan senja berdua. Rutinitas wajib yang tidak boleh ada penghalangnya. 
Dalam seminggu kami bisa bertemu tiga kali, minimalnya sekali. Dengan dua cangkir kopi di atas meja. Kami sepakat, setiap kali ke cafe ini hanya akan memesan dua cangkir kopi, tidak boleh lebih, apalagi kurang. Kami tidak akan memesan makanan, kalau ingin makan kita ke tempat lain. Itu kesepakatannya.Gue dan Grace tidak pernah membahas tentang masa lalu. “ Masa lalu itu bukan untuk diingat, bukan juga untuk dilupakan, tapi hanya untuk dikenang diri sendiri,” itu yang diucapkan Grace saat gue iseng bertanya tentang mantannya. Mungkin gue lancang menanyakan hal itu. Tapi entahlah. Itu tidak jadi masalah.
Setelah tamat kuliah, gue bekerja di salah satu perusahaan di London. Dua tahun sejak pertemuan pertama kami. Kami sudah memiliki ikatan. Setidaknya cincin di jari manis kami dapat menjelaskan semuanya. Gue sangat sibuk meski masih sempat menanyakan kabar Grace. Dia juga sibuk dengan skripsinya. Kesibukan yang membuat gue tidak tahu satu hal tentang Grace. Kekeliruan dipertemuan pertama. Gue salah mengartikan senyuman kedua dipertemuan pertama. 
Senyuman yang siapa saja melihatnya akan percaya bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja. Tapi kebenarannya malah pada senyuman pertama dipertemuan pertama. Senyuman canggung dan tatapan mata kosong. Itulah kebenarannya.Grace divonis kanker rahim stadium tiga saat tamat SMA. Dan bodohnya gue baru tau kebenaran itu dipertemuan terakhir kami di cafe ini. Emat tahun sejak pertemuan pertama kami. Bahkan gue tidak sadar dengan kalimat-kalimat terakhir yang dia ucapkan adalah sebuah isyarat. 
“Kita seperti dua cangkir kopi. Aku dan kau. Hampa saat hanya ada secangkir kopi di meja, tapi tidak jika dua. Kau ingat, saat pertemuan pertama kita, aku duduk sendiri di sini dan hanya dengan  secangkir kopi,” ucapnya dengan tersenyum. 
“Iya, dan kau hanya menatap ke luar kaca”, gue menyambung. “Aku menatap kosong butir air hujan. Hampa”, balasnya. “Tapi kemudian kita berbicara banyak,” gue mengingatkan. 
“Iya, setelah secangkir kopimu datang,” dia menjelaskan detail pertemuan pertama kami. Dan gue bingung mengapa dia membahas kejadian empat tahun yang lalu itu.
“Acxel, ingatlah satu hal. Kita adalah dua cangkir kopi. Selagi ada dua cangkir kopi di meja, jangan pernah merasa sendiri,” pesannya. Gue bingung dengan kalimat-kalimat itu. Dan lebih bingung lagi saat dia tiba-tiba jatuh dari kursi. Gue berusaha secepat mungkin membawanya ke rumah sakit. Tapi percuma. Dia sudah pergi untuk selamanya. Gue merasa menjadi cowok paling bego  sedunia.
Dan kini, setelah dua tahun kepergian Grace, gue masih sering datang ke sini. Gue memutuskan kembali pindah ke kota ini beberapa bulan setelah Grace pergi. Bukan untuk menyiksa diri sendiri, tapi gue merasa lebih nyaman di kota ini. Setidaknya, dengan datang ke cafe ini dan dua cangk kopi di meja, akan selalu ada Grace.

Tuk Terakhir Kali


Aku memarkir mobilku di tempat biasa. Di dekat pohon pinus di ujung  jalan salah satu taman terindah di kota ini. Aku melangkah pasti menuju taman. Menikmati keindahan setip sudut taman ini. Sudah menjadi ritual wajib bagiku mampir ke sini setiap tanggal sebelas dalam dua tahun terakhir. Memakai baju berwarna hijau dan syal putih yang menghiasi tubuhku. Persis seperti tujuh tahun yang  lalu, saat kau memelukku erat di tengah salah satu taman terindah kota ini. Dan kini aku sempurna berdiri di tempat yang sama. Mengenang semuanya.
***
Kita berumur 14 tahun, berada di kelas yang sama, SMP kelas dua. Aku memandangi kendaraan yang asik berlalu lalang dari balik  kaca jendela.  Entah apa yang hendak dilakukan para penghuni mobil hingga klakson mobil sumringah mengganggu telinga.
 “Bantuin gue ngerjain nomor tiga dong,” kau mengagetkanku. Tidak ada yang berani mengajakku berbicara tujuh bulan terakhir sejak peristiwa itu. Peristiwa yang merenggut kehormatanku.
Kau memberanikan diri mengajakku berbicara. Mungkin kau tidak tau kisah suramku, karena kau baru pindah lima hari yang lalu ke sekolah ini. Aku takut-takut menatap wajahmu, lalu terpaku. 
“Ayolah. Kok jadi bengong. Gue ga ngerti nih sama pelajaran ini. Kemaren nilai Fisika lo ini bagus,” kau membangunkanku dari terpakunya aku menatap wajahmu. Ragu-ragu aku mencoba menjelaskan semampuku. Berusaha menjauhkan tubuh dari tubuhmu. Berusaha agar tangan kita tak bersentuhan sedikitpun. Aku takut jika kemudian kau mengetahui kisah suramku, kau akan merasa jijik karena pernah bersentuhan tangan denganku, seperti yang mereka lakukan.
Bel tanda berakhirnya istirahat  berdering. Kau kembali ke tempat dudukmu, dan aku mendengar bisikan-bisikan dari teman yang lain. Biasanya aku tak mempedulikan apa kata mereka. Tapi kali ini, aku merasa gugup. Takut kau akan mulai merasa jijik denganku. Ya Tuhan, tanganku gugup, hatiku bergetar untuk pertama kalinya.
Kau berlari menuju arahku saat pulang sekolah. Aku menambah kecepatan kakiku berjalan. Namun kau tetap mendapatkanku.
 “Hei, jalannya cepet amat” ucapmu sembari memperlancar irama napasmu. “Hmm kenalin, gue Fino. Gue baru pindah dari Samarinda enam hari yang lalu.”
 “Aku sudah tau, kau kan sudah mengenalkan diri di depan kelas waktu itu” kutukku dalam hati.
“Hei, ayolah.” Kau menarik tanganku (karena aku membiarkan tangnnya terjulur sedari tadi) dan menjabatnya sebagai tanda perkenalan. Ya Tuhan, ini pertama kalinya ia menyentuh tanganku, dan sesuatu membuncah di hatiku.
Kita berdua berjalan ke arah yang sama. Tidak ada satu patah kata pun yang kita ucapkan. Hanya senandung irama yang kau lantunkan. Mungkin kau merasa canggung karena aku hanya senyum basa-basi saat kau menjabat tanganku tadi. 
“Aku masuk rumah dulu,”kataku cuek tanpa memandangmu saat aku sampai di rumah. Aku tau, rumahmu sudah jauh terlawat dari tadi. Dan aku tidak mempedulikannya. Aku hanya memperhatikan kepergianmu dari balik jendela. Entah apa yang kau pikirkan tentangku, aku tidak tau. Sama dengan tidak taunya aku dengan apa yang sedang ada di hatiku.
Esok hari, kau berdiri di depan gang rumahmu. Aku lewat tanpa memedulikanmu . Kau mengikutiku lalu berjalan di sampingku. Aku diam saja. Kau juga. 
Saat pulang sekolah, kau melakukan hal yang sama. Berjalan di sampingku, lalu berbalik arah saat aku telah sampai rumah. Dan aku selalu memperhatikanmu dari balik jendela.
Lima belas hari berlalu sama dengan hari pertama saat kau pertama kali mengajakku berbicara. Tak ada perubahan. Hingga hari itupun tiba. Hari ke tujuh belas di perjalanan pulang sekolah. Kemuak-an mu mampu menghentikan langkahku. Kau sempurna berdiri di depanku, menyuruhku menatap matamu lamat-lamat. Kau berbicara keras tapi aku tak mendengar jelas apa yang kau katakan. Jantungku seolah berhenti saat mataku menatap matamu. Ya Tuhan, terimakasih telah menciptakan matanya yang menenangkan.
Hari-hari berlalu. Aku mengerti apa yang kau mau. Aku tau kau juga tau kisah suramku. Dan aku berterimaksih kau tak pernah mempermasalahkannya.
 Aku mulai terbiasa denganmu. Berbicara sediktit demi sedikit, lalu tak bisa berhenti bicara jika sudah dengamu. Aku seperti hidup kembali. Punya jiwa baru yang lebih indah karena kau adalah separuh jiwa itu.
 Kau seperti nikotin bagiku, tak ada dirimu, aku sakau. Dan kau tak pernah mempermasalahkan itu. Kau selalu senang mendengarkan kalimat-kalimatku, kau tak pernah membiarkan air keluar dari mataku, dan senyummu seperti surga bagiku.
Kita melanjutkan sekolah di SMA yang sama. Aku tau perjuanganmu agar bisa sekolah di tempat ini denganku. Meski kau bisa melanjutkan sekolah di tempat yang lebih elit dan bagus seperti yang disarankan orangtua mu. Aku menghargai itu dan aku selalu bersyukur karena kau ada di antara milyaran manusia.
Umur kita tujuh belas tahun, duduk di SMA kelas dua. Tiga tahun berlalu sejak kau mengajakku berbicara. Dan aku semakin mengerti dengan apa yang aku rasakan. Aku mulai gugup jika kau menghampiriku. Aku selalu bercermin sebelum bertemu denganmu. Aku memperbaiki baju, rok hingga rambut agar semua sempurna di depan matamu. Kau masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Setia mendengarkan ocehan-ocehan tak pentingku. Selalu mengingatkanku ini itu, tak pernah lelah sekalipun.
“ Aku mencintaimu, Fino. Sangat-sangat mencintaimu. Sejak pertama kali kau mengajakku berbicara, aku sudah memiliki rasa ini. Aku bahagia jika denganmu, aku seperti melihat surga jika manatap wajahmu, dan setiap kata yang kau ucapkan adalah nada piano yang mengalun di telingaku. Dan kini aku sudah mengerti dengan apa yang aku rasakan. Aku mencintaimu, Fino”. Kalimat itu berjalan mulus dari mulutku di suatu senja. Saat kita pulang dari bimbingan belajar. Karena sebentar lagi adalah Ujian Nasional.
Ya Tuhan, aku tidak tau kalimat-kalimat itu menjadi bumerang dalam hubungan kami. Aku tidak tau bahwa kalimat-kalimat itu adalah teka-teki untukku sendiri. Aku tidak mengerti kenapa aku harus mengucapkannya.Dan aku lebih tidak mengerti lagi kenapa dia hanya tersenyum dan menarik tanganku untuk melihat pelangi meski ia tahu  aku tak menyukai pelangi.
Hari itu adalah pengumuman kelulusan di perguruan tinggi. Aku tau kau sangat menyukai hal-hal yang berbau teknik, hingga aku sangat mendukungmu memilih salah satu Universitas dengan jurusan teknik terbaik di negeri ini, meski itu artinya kita akan dipasahkan oleh pulau. Aku mendoakanmu dengan tulus agar kau bisa meraih apa yang kau inginkan. Dan tentu saja kau dengan mudah menembus perguruan tinggi itu karena kau lah yang terbaik di sekolah ini.
Dan hari yang tak pernah ditunggu itupun tiba. Besok kau akan berangkat menuju kota kembang. Dan malam itu, sebelas Juli, tujuh tahun yang lalu, di tempat aku berdiri saat ini, kau juga berdiri di depanku. Menatapku pasti, seraya memegang kedua bahuku.
“Hanya lima tahun Giska, lima tahun. Hiduplah di sini tanpa bayang-bayangku. Nikmati setiap detik hidupmu dan ceritakan nanti saat aku kembali. Ceritakan apa saja yang kau lewati setiap detik hidupmu tanpa aku. Saat semuanya sudah sempurna, aku akan kembali ke sini. Tepat di tempat kita berdiri saat ini. Berjanjilah, demi aku, kau akan hidup bahagia. Berjanjilah, tidak akan ada air mata selama aku tidak berada di sampingmu. Berjanjilah.”
 Kau memelukku erat. Memelukku seperti tak ingin melepaskannya. Ya Tuhan, ini pelukan pertama darinya.
***
Lima tahun berlalu. Aku sangat bahagia di hari itu, sebelas Juli. Lama sekali waktu berlalu bagiku. Aku menjalani hidup seperti yang kau minta. Tentu saja, aku akan melakukan apapun yang kau mau. Dan akhirnya hari itupun tiba. Aku melangkah pasti menuju salah satu taman terindah di kota ini. Aku menunggumu dengan bahagia. Duduk di tengah taman dan senyum yang selalu tersaji di wajahku. Ya Tuhan, aku sangat bahagia. Hari yang Aku tunggu-tunggu akhirnya tiba.
Tapi hanya hari yang tiba, tidak dengan momen yang aku tunggu. Kau tidak datang malam itu. Kau tidak datang, Fino! Aku dibangunkan seorang petugas keberisihan di pagi hari. Aku menunggumu semalaman di sini. Ya Tuhan, dia melanggar janjinya. Untuk pertama kali, dia ingkar janji.
Sejak saat itu, setiap tanggal sebelas aku selalu pergi ke taman ini. Mungkin aku salah menghitung bulan, pikirku. Bukan bulan Juli, tapi Agustus.  Bukan Agustus tapi September. Bukan September, tapi Oktober. Begitu seterusnya. Tak pernah aku lelah untuk berbaik sangka kepadamu. Hingga berita mengejutkan itu sampai di telingaku. 23 bulan sejak aku tetap datang ke taman ini setiap bulan. Berita yang sempat membuatku hampir menitikkan air mata. Tapi, karena aku sudah berjanji kepadamu, aku tidak jadi menangis.
Dan malam ini adalah malam di bulan ke 24. Umur kita sekarang dua lima. Aku sempurna menunggumu selama tujuh tahun. Tujuh tahun. Mungkin berita itu benar, kau sekarang sudah bersamanya. Bersama seorang pesohor negeri ini. Kenapa tidak, karirmu melejit bagai roket. Kau  terkenal dari pelosok hingga luar negeri.
Kau tidak paham, bahwa aku tahu dan aku mengerti. Tapi aku tidak peduli, aku akan tetap kembali ke tempat ini. Seperti janjimu, kau akan datang dan aku akan tetap menunggumu. Bahkan jika kenyataannya kau tak bisa lagi mencintaiku (atau bahkan tak pernah mencintaiku), aku akan tetap kembali ke tempat ini. Lagi dan lagi. Tempat di mana kau berjanji akan memelukku kembali. Suatu saat nanti.
‘Tuhan kembalikan segalanya tentang dia seperti sedia kala. Izinkan aku tuk memeluknya mungkin tuk terakhir kali. Agar aku dapat merasakan cinta ini, selamanya. Ketika malam telah tiba aku menyadari kau takkan kembali” (Samsons – Di Ujung Jalan)
           Alunan lagu Samsons di radio mobil mengiringi kepergianku dari salah satu taman terindah dikota ini.

Asrama Hijau
2 Mei 2014

Cerpen SMA "Tentang Kita Aku"

Gue punya sebuah cerpen yang dulu pernah gue tulis buat tugas Bahasa Indonesia di SMA. Sekarang gue tulis ulang. Hihihi.. ada beberapa "gaya tulisan" novelis yang gue tiru di sini.  

TENTANG KITA AKU

Zzzzzztt… malam ini terasa begitu dingin. Satu jaket seperti tak mampu menyelimuti tubuh ini. Tapi aku suka dingin. Sudah lama aku merindukan dingin ini. Lama, malam tak sedingin ini. Lama. Sangat lama. Lama? Entahlah, aku juga lupa. Yang saat ini ku ingat hanyalah dia. Ia, dia. Aku ingat bahwa aku pernah bersama dia. Ia, bersamanya. Dulu. Iya, dulu!
Dulu… itu dulu.
Inilah yang aku suka dari dingin. Dingin itu membangkitkan kesedihan. Aku bisa merasa. Ia, merasakan kesedihan. Dikala dingin, aku bisa mengenang itu semua.
Sudah pukul sebelas malam. Malam ini begitu mencekam. Rasanya aku mengingat sesuatu. Tapi apa? Otakku mulai bekerja begitu keras. Sesekali pikiran itu timbul namun langsung hilang seperti angin lalu. Ah, ada apa yang sedang terjadi pada diriku? Ku coba tenangkan jiwa. Menghirup nafas panjang, lalu ku hembuskan. Huffffft. Aku beranjak duduk ke atas kursi berwarna merah tua nan kusam di pojok kanan kamarku. Seperti kursi tua itu, begitulah diriku kini. Kesepian tanpa seorangpun di sisiku.
Aku melihat sekeliling kamarku. Kamar itu begitu hampa. Entahlah, mungkin diriku yang terlalu hampa sehingga apapun yang aku lihat tak ada artinya.
Seketika tatapan ku terhenti pada sebuah benda  di bawah tempat tidur 45 dari kursi yang kududuki saat ini. Entah angin apa yang mengisyaratkanku untuk melihat ke sana. Cahaya bulan seperti mengarahkan ku pada sebuah benda. Entah benda apa itu, hati ini berbisik. Aku mendekatinya dan mengambil sebuah dus yang dulu pernah aku campakkan ke kolong tempat tidurku. Begitu jauh ke dalam dan sempit sehingga menyulitkanku untuk mengambilnya. Hanya dengan itu semuanya bisa ku kenang kembali. Hanya saat dingin, dan dus kecil itu.
“fiuuuhh. Uhuk uhuk”. Akh, butiran debunya begitu mempesona. Membuatku semakin menginginkan dus ini. Sebuah dus yang hamper saja aku buang dulu. Saat ruangku begitu resah hingga terburu-buru mengakhiri segalanya. Untung aku hanya mencampakkannya ke kolon tempat tidurku.
Aku tertawa sendiri melihat tulisan di kardus itu. Begitu bodoh dan kekanak-kanakann. Aku bahkan lupa pernah menulis kalimat seperti ini:


Don’t open it…! Barang yang gak penting
Dari orang yang gak penting
Jangan di buka..!!



Tapi mala minmi aku sangat ingin membukanya. Hanya malam ini. Mungkin inilah yang membuat banyak orang tak bisa sukses, kawan. Melanggar janji yang pernah ia buat dengan dirinya sendiri. Dan mungkin juga saat hati dan otak tak bisa bersatu. Otak tau kalau itu salah, tapi hati tetap ingin mencobanya.  Itulah yang saat ini sedang aku lakukan.
Sreett.. aku monyobek lakban di kardus itu. Entah apa yang sedang aku rasakan saat ini. Pikiranku tau kalau yang sedang aku lakukan ini salah. Tapi hati tetap ingin melakukannya. Apapun itu,lakban ini sudah aku buka. Sudah terlambat jika aku ingin menghentikannya.
Aku megeluarkan  satu persatu barang yang ada di dalamnya. Tidak terlalu banyak, tapi cukup bagiku untuk mengenang semuanya.
Hatiku tersentak saat melihat sebuah diary dan beberapa lembar kertas. Ku tutup kardus itu cepat. Terisak. Luka sepertikembali  menghujam jantungku. Seketika aku menyelasal telah membuka kardus itu. Karena dari duku aku tau, bahwa membuka kardus ini sama saja dengan aku menggores luka di tempat luka pernah ia goreskan. Sama saja dengan aku menancapkan belati di hati ku sendiri.
Aku berusaha menghentikan air mataku. Tapi air mata ini seperti tak ingin diakhiri. Seperti angin yang terus menggila malam ini. Seperti ingin menghadirkan masa lalu itu. Seperti ingin aku utnutk mengkaji ulang semuanya.
Dan aku memberanikan diri untuk kembali membuka kardus itu. 3 lembar kertas HVS dan sebuah siary. Akhh,, aku benar-benar benci jika harus mengingat semua ini. Aku tak ingin kembali lamah. Tapi udara dingin dan seluruh isi kamarku seperti ingin aku melakukannya. Seperti ingin ikut merasakan apa yang dulu pernah aku rasakan.
Dan malam ini, agar kau juga ikut merasakan kawan, akan ku lengkapi mengenang semuanya. Biarlah, malam iniakan kuceritakan semuanya. Biarlah, dingin ini membuatku mengenang semuanya. Biarlah, biarlah. Hanya malam ini !
Aku mengeluarkan kertas HVS itu. Apa yang sedang kau pikirkan tentang kertas itu kawan? Sebuah lukisan? Sebuah foto? Atau denah harta karun? Tidak kawan. Kertas itu adalah sebuah surat cinta. Surat cinta? Engan sebuah kertas HVS? Iya, itu surat cinta. Sederhana. Hanya ditulis dengan tulisan tangannya yang kecil dan jelek. Aku sedikit tertawa melihat bentuk tulisannya. Tapi itulah yang membuat kau menyukainya. Sederhana. Ia begitu sederhana. Dulu, tapi itu dulu. Dulu Ia begitu sederhana.
Aku membaca tulisannya. Dengan perlahan membaca kata demi kata. Pernahkah kau tersenyum dalam menangis, kawan? Ya, itu yang sedang aku lakukan. Kata-katanya begitu indah menurutku, dan lagi, sederhana. Begitu sederhana. Tidk ada sedikitpun kata-kata yang memujiku. Akh, aku benci mengenang ini semua.
Otakku seperti terus memaksaku untuk kembali ke masalalu. Iya, ini tentang masa laluku.
Tiga setengah tahun yang lalu, aku mengenalnya. Tidak. Tidak. Aku sudah kenal jauh sebelum itu. Kenal dan dekat dengannya, mungkin.
Dizaman ini, jarak yang jauh bisa menjadi dekat. Dan sabaliknya, jarak yang dekat bisa menjadi jauh. Sebuah telepon genggam membuat aku dan dia menjadi dekat. Beribu-ribu kata telah kami kirimkan lewat pesan singkat setiap hari. Hingga akhirnya, aku jatuh cinta kepada dia. Iya, begitu cepat aku mencintainya. Ia memnuatku membutuhkannya. Membuatku menginginkan setiap hari mendapatkan pesan darinya.

Dan mungkin Ia juga merasakan apa yang sedang aku rasakan kala itu. Hingga terciptalah tulisan  di kertas HVS ini. Tapi semua proses begitu lamban. Butuh waktu setahun untuk kami berdua untuk saling mengungkapkan apa yang kami rasakan. Sampai akhirnya, kami memutuskan untuk menjalin hubungan alias berpacaran. Kau pasti tau apa yang aku rasakan kala itu, kawan. Bahagia, sangat bahagia. Mendapatkan dia. Terlalu indah saat aku mendapatkan dia.dunia seperti milikku, kawan.
Tapi, seiring berjalannya waktu, semua tak seperti yang aku harapkan. Terkadang, apa yang terjadi tidak seindah apa yang kita inginkan dan harapkan. Tidak seindah angan-angan saat kita menghayal.
Ia lebih indah saat menjadi seorang sahabat daripada menjadi lebih dari itu banyak hal yang disembunyikan saat berpacaran. Banyak hal yang dituntut saat pacaran. Banyak hal yang harus diterima. Tidak seperti bersahabat, yang selalu menerima.
Karena sebuah moment, aku meras jenuh dengan sikapnya. Aku erasa jenuh denga pacarku sendiri. Aku tidak menyukainya setelah aku mendapatkannya. Semua tak seindah saat kami masih bersahabat. Hingga pada akhirnya, aku mengakhiri segalanya. Ia, segalanya. Aku mengakhiri segalanya.
Aku baik- baik saja. Iya, aku baik-baik saja. Tidak, aju tidak baik-baik saja. Tapi, aku baik-baik saja. Tidak. Tidak. AKU TIDAK BAIK-BAIK SAJA. Hatiku berkelahi.
Apa dia baik-baik saja? Entahlah, yang aku tau Dia begitu sibuk. Karirnya meroket. Dulu, Ia bukan siapa-siapa, dan sekarang liahtlah. Dia menjadi siapa. Dia menjadi seseorang yang dihargai banyak orang. Ia begitu sibuk dengan orang-orang hingga Ia lupa denganku. Lupa? Tidak! Melupkan lebih tepatnya.
Ia menjauh dariku. Sibuk dengan segala kesibukannya. Hingga pada suatu saat, aku tiba pada titik dimana aku sangat membutuhkan kehadirannya. Aku butuh dia, kawan. Aku sangat membutuhkannya. Aku menginginkan dia lagi. Aku menginginkan dia kembali peduli padaku. Hanya Dia. Aku ingin waktu kembali diulang. Betapa bodohnya aku waktu itu. Ruangku begitu resah, hingga aku mengakhiri segalanya. Bodoh.
Aku memasukkan lagi barang-barang itu ke dalam kardus. Sudah cukup bagiku untuk mengenang semuanya. Sudah cukup bagiku untuk kembali mengingat Dia. Sudah cukup bagiku untuk tau bahwa Dia baik-baik saja tanpa aku. Dia baik-baik saja tanpa kau kawan. Tapi lihatlah aku. Menyedihkan untuk menjadi aku. Terlalu kekanak-kanakan dan ceroboh.
Sering aku berdo’a kepada Tuhan. Kalimat yang sama tanpa bisa merubahnya. “Ya Tuhan, izinkanlah aku menghilang. Pergi, dari semua kehidupan”.
Aku rindu, tapi juga takut akan sebuah pertemuan.
Aku mencoba untuk tenang, namun jantungku berdetak keras. Aku mencoba untuk normal, namun semua melihat wajahku pucat. Mencoba menguatkan diri, tapi tanganku bergetar. Pukul 1 pagi ini. Setelah mengingat semua kenangan yang menguras air mata, membuat badan dan pikiran berjalan tidak searah. Pikiranmu tidak lagi menguasai badanmu, dan badanmu, enggan mengenali pikirnmu.
Dan kini, aku hampa. Aku, bagai raga tanpa jiwa. Aku, bagai hati tanpa rasa.

Kau sedih dan menangis itu bagus. Setidaknya kau bisa merasa. Sedang aku hampa dan kosong.