Spesies Cinta yang Tak Ingin Bersama

09.32 0 Comments



Aku masih terbaring lemah, meski sebenarnya aku ingin sekali kuat seperti mereka. Infus dan ratusan tablet obat  cukup membantuku beberapa bulan terakhir. Aku mulai ganas membutuhkan obat-obat ini  terutama sebulan terakhir. Salah satunya disebabkan tuntutan kanker yang sudah menganbil alih kepemilikan tubuhku.
Aku bersyukur kanker ini semakin parah. Setidaknya itu berarti sedikit lagi aku akan mati.  Percuma saja rasanya hidup setelah tak ada lagi harapan dengannya. Kejadian sepuluh hari yang lalu membuatku menginginkan tak usah saja ada hari kamis. Hari di mana aku benar-benar kehilangan harapan dengannya.
Mengenal dia sejak aku belum mengerti caranya menyisir rambut. Berlari bersamanya sejak kaos kaki masih ibu yang memasangkannya. Merancang masa depan sejak semua cita-cita adalah menjai dokter. Aku menghabiskan hampir satu per lima abad dengannya.
“Aku juga mencintaimu. Entah sejak kapan rasa ini tumbuh, tapi yang pasti aku selalu memberinya pupuk agar tetap hidup dengan baik.”
Aku benci sekali diberikan ingatan yang kuat untuk  peristiwa itu. Adakah spesies cinta yang tak ingin bersama orang yang dicintainya? Ah, ibuku dimana? Aku tak bisa ditinggal sendiri seperti ini. aku butuh seseorang yang bisa mengalihkan pikiranku pada peristiwa itu. Ibuku dimana?
**
“Hisna, kita menghabiskan hampir seluruh umur kita bersama. Sejak kita masih belum bisa mengikat tali sepatu dengan baik. Sejak menggambar adalah gambar gunung dan laut.”
“Aku bersyukur Tuhan telah menciptakanmu untukku.”
“Kau tau? Ketika waktu terus berjalan, aku semakin tidak mengerti dengan apa yang ku rasakan. Aku selalu berusaha untuk membuat kau tidak mnyukai setiap lelaki yang mendekatimu. Aku selalu brusaha membuat setiap usaha mereka adalah sia-sia”
“Aku tahu.”
“Tapi harus kau tahu bahwa semua orang itu memang tidak ada yang layak memilikimu.”
“Lalu mengapa kau biarkan Ruli hampir saja memilikiku?”
“Sebab dia mencintaimu dengan tulus. Sebabbagiku, dia adalah laki-laki yang layak mendapatkanmu.”
“Apakah hidupku kau yang menentukan? apakah layaknya seseorang di hidupku kau yang tentukan siapa?”
“Hisna, aku tak bermaksud merancang masa depanmu. aku sudah mengenalmu sejak kecil. Aku tahu apa yang kau butuhkan dan orang seperti apa yang layak bersamamu.”
“Apa matiku nanti juga kau yang putuskan kapan pantasnya?”
“Hisna mengertilah,”
“Apa aku harus mengerti seseorang yang tak pernah mengerti dengan apa yang ku rasakan? Apa aku harus mengikuti keinginan seseorang disaat dialah yang aku inginkan?”
Dia hanya diam. Menghapus air mataku saja tidak. Dia hanya berdiri seperti patung.
“Aku juga mencintaimu Hisna. Entah sejak kapan rasa ini tumbuh, tapi yang pasti aku selalu memberinya pupuk agar tetap hidup dengan baik.”
Dia memelukku erat.  Aku tahu ini pelukan basa basi

Rafika Surya Bono

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 komentar: