Cerpen SMA "Tentang Kita Aku"

17.28 0 Comments

Gue punya sebuah cerpen yang dulu pernah gue tulis buat tugas Bahasa Indonesia di SMA. Sekarang gue tulis ulang. Hihihi.. ada beberapa "gaya tulisan" novelis yang gue tiru di sini.  

TENTANG KITA AKU

Zzzzzztt… malam ini terasa begitu dingin. Satu jaket seperti tak mampu menyelimuti tubuh ini. Tapi aku suka dingin. Sudah lama aku merindukan dingin ini. Lama, malam tak sedingin ini. Lama. Sangat lama. Lama? Entahlah, aku juga lupa. Yang saat ini ku ingat hanyalah dia. Ia, dia. Aku ingat bahwa aku pernah bersama dia. Ia, bersamanya. Dulu. Iya, dulu!
Dulu… itu dulu.
Inilah yang aku suka dari dingin. Dingin itu membangkitkan kesedihan. Aku bisa merasa. Ia, merasakan kesedihan. Dikala dingin, aku bisa mengenang itu semua.
Sudah pukul sebelas malam. Malam ini begitu mencekam. Rasanya aku mengingat sesuatu. Tapi apa? Otakku mulai bekerja begitu keras. Sesekali pikiran itu timbul namun langsung hilang seperti angin lalu. Ah, ada apa yang sedang terjadi pada diriku? Ku coba tenangkan jiwa. Menghirup nafas panjang, lalu ku hembuskan. Huffffft. Aku beranjak duduk ke atas kursi berwarna merah tua nan kusam di pojok kanan kamarku. Seperti kursi tua itu, begitulah diriku kini. Kesepian tanpa seorangpun di sisiku.
Aku melihat sekeliling kamarku. Kamar itu begitu hampa. Entahlah, mungkin diriku yang terlalu hampa sehingga apapun yang aku lihat tak ada artinya.
Seketika tatapan ku terhenti pada sebuah benda  di bawah tempat tidur 45 dari kursi yang kududuki saat ini. Entah angin apa yang mengisyaratkanku untuk melihat ke sana. Cahaya bulan seperti mengarahkan ku pada sebuah benda. Entah benda apa itu, hati ini berbisik. Aku mendekatinya dan mengambil sebuah dus yang dulu pernah aku campakkan ke kolong tempat tidurku. Begitu jauh ke dalam dan sempit sehingga menyulitkanku untuk mengambilnya. Hanya dengan itu semuanya bisa ku kenang kembali. Hanya saat dingin, dan dus kecil itu.
“fiuuuhh. Uhuk uhuk”. Akh, butiran debunya begitu mempesona. Membuatku semakin menginginkan dus ini. Sebuah dus yang hamper saja aku buang dulu. Saat ruangku begitu resah hingga terburu-buru mengakhiri segalanya. Untung aku hanya mencampakkannya ke kolon tempat tidurku.
Aku tertawa sendiri melihat tulisan di kardus itu. Begitu bodoh dan kekanak-kanakann. Aku bahkan lupa pernah menulis kalimat seperti ini:


Don’t open it…! Barang yang gak penting
Dari orang yang gak penting
Jangan di buka..!!



Tapi mala minmi aku sangat ingin membukanya. Hanya malam ini. Mungkin inilah yang membuat banyak orang tak bisa sukses, kawan. Melanggar janji yang pernah ia buat dengan dirinya sendiri. Dan mungkin juga saat hati dan otak tak bisa bersatu. Otak tau kalau itu salah, tapi hati tetap ingin mencobanya.  Itulah yang saat ini sedang aku lakukan.
Sreett.. aku monyobek lakban di kardus itu. Entah apa yang sedang aku rasakan saat ini. Pikiranku tau kalau yang sedang aku lakukan ini salah. Tapi hati tetap ingin melakukannya. Apapun itu,lakban ini sudah aku buka. Sudah terlambat jika aku ingin menghentikannya.
Aku megeluarkan  satu persatu barang yang ada di dalamnya. Tidak terlalu banyak, tapi cukup bagiku untuk mengenang semuanya.
Hatiku tersentak saat melihat sebuah diary dan beberapa lembar kertas. Ku tutup kardus itu cepat. Terisak. Luka sepertikembali  menghujam jantungku. Seketika aku menyelasal telah membuka kardus itu. Karena dari duku aku tau, bahwa membuka kardus ini sama saja dengan aku menggores luka di tempat luka pernah ia goreskan. Sama saja dengan aku menancapkan belati di hati ku sendiri.
Aku berusaha menghentikan air mataku. Tapi air mata ini seperti tak ingin diakhiri. Seperti angin yang terus menggila malam ini. Seperti ingin menghadirkan masa lalu itu. Seperti ingin aku utnutk mengkaji ulang semuanya.
Dan aku memberanikan diri untuk kembali membuka kardus itu. 3 lembar kertas HVS dan sebuah siary. Akhh,, aku benar-benar benci jika harus mengingat semua ini. Aku tak ingin kembali lamah. Tapi udara dingin dan seluruh isi kamarku seperti ingin aku melakukannya. Seperti ingin ikut merasakan apa yang dulu pernah aku rasakan.
Dan malam ini, agar kau juga ikut merasakan kawan, akan ku lengkapi mengenang semuanya. Biarlah, malam iniakan kuceritakan semuanya. Biarlah, dingin ini membuatku mengenang semuanya. Biarlah, biarlah. Hanya malam ini !
Aku mengeluarkan kertas HVS itu. Apa yang sedang kau pikirkan tentang kertas itu kawan? Sebuah lukisan? Sebuah foto? Atau denah harta karun? Tidak kawan. Kertas itu adalah sebuah surat cinta. Surat cinta? Engan sebuah kertas HVS? Iya, itu surat cinta. Sederhana. Hanya ditulis dengan tulisan tangannya yang kecil dan jelek. Aku sedikit tertawa melihat bentuk tulisannya. Tapi itulah yang membuat kau menyukainya. Sederhana. Ia begitu sederhana. Dulu, tapi itu dulu. Dulu Ia begitu sederhana.
Aku membaca tulisannya. Dengan perlahan membaca kata demi kata. Pernahkah kau tersenyum dalam menangis, kawan? Ya, itu yang sedang aku lakukan. Kata-katanya begitu indah menurutku, dan lagi, sederhana. Begitu sederhana. Tidk ada sedikitpun kata-kata yang memujiku. Akh, aku benci mengenang ini semua.
Otakku seperti terus memaksaku untuk kembali ke masalalu. Iya, ini tentang masa laluku.
Tiga setengah tahun yang lalu, aku mengenalnya. Tidak. Tidak. Aku sudah kenal jauh sebelum itu. Kenal dan dekat dengannya, mungkin.
Dizaman ini, jarak yang jauh bisa menjadi dekat. Dan sabaliknya, jarak yang dekat bisa menjadi jauh. Sebuah telepon genggam membuat aku dan dia menjadi dekat. Beribu-ribu kata telah kami kirimkan lewat pesan singkat setiap hari. Hingga akhirnya, aku jatuh cinta kepada dia. Iya, begitu cepat aku mencintainya. Ia memnuatku membutuhkannya. Membuatku menginginkan setiap hari mendapatkan pesan darinya.

Dan mungkin Ia juga merasakan apa yang sedang aku rasakan kala itu. Hingga terciptalah tulisan  di kertas HVS ini. Tapi semua proses begitu lamban. Butuh waktu setahun untuk kami berdua untuk saling mengungkapkan apa yang kami rasakan. Sampai akhirnya, kami memutuskan untuk menjalin hubungan alias berpacaran. Kau pasti tau apa yang aku rasakan kala itu, kawan. Bahagia, sangat bahagia. Mendapatkan dia. Terlalu indah saat aku mendapatkan dia.dunia seperti milikku, kawan.
Tapi, seiring berjalannya waktu, semua tak seperti yang aku harapkan. Terkadang, apa yang terjadi tidak seindah apa yang kita inginkan dan harapkan. Tidak seindah angan-angan saat kita menghayal.
Ia lebih indah saat menjadi seorang sahabat daripada menjadi lebih dari itu banyak hal yang disembunyikan saat berpacaran. Banyak hal yang dituntut saat pacaran. Banyak hal yang harus diterima. Tidak seperti bersahabat, yang selalu menerima.
Karena sebuah moment, aku meras jenuh dengan sikapnya. Aku erasa jenuh denga pacarku sendiri. Aku tidak menyukainya setelah aku mendapatkannya. Semua tak seindah saat kami masih bersahabat. Hingga pada akhirnya, aku mengakhiri segalanya. Ia, segalanya. Aku mengakhiri segalanya.
Aku baik- baik saja. Iya, aku baik-baik saja. Tidak, aju tidak baik-baik saja. Tapi, aku baik-baik saja. Tidak. Tidak. AKU TIDAK BAIK-BAIK SAJA. Hatiku berkelahi.
Apa dia baik-baik saja? Entahlah, yang aku tau Dia begitu sibuk. Karirnya meroket. Dulu, Ia bukan siapa-siapa, dan sekarang liahtlah. Dia menjadi siapa. Dia menjadi seseorang yang dihargai banyak orang. Ia begitu sibuk dengan orang-orang hingga Ia lupa denganku. Lupa? Tidak! Melupkan lebih tepatnya.
Ia menjauh dariku. Sibuk dengan segala kesibukannya. Hingga pada suatu saat, aku tiba pada titik dimana aku sangat membutuhkan kehadirannya. Aku butuh dia, kawan. Aku sangat membutuhkannya. Aku menginginkan dia lagi. Aku menginginkan dia kembali peduli padaku. Hanya Dia. Aku ingin waktu kembali diulang. Betapa bodohnya aku waktu itu. Ruangku begitu resah, hingga aku mengakhiri segalanya. Bodoh.
Aku memasukkan lagi barang-barang itu ke dalam kardus. Sudah cukup bagiku untuk mengenang semuanya. Sudah cukup bagiku untuk kembali mengingat Dia. Sudah cukup bagiku untuk tau bahwa Dia baik-baik saja tanpa aku. Dia baik-baik saja tanpa kau kawan. Tapi lihatlah aku. Menyedihkan untuk menjadi aku. Terlalu kekanak-kanakan dan ceroboh.
Sering aku berdo’a kepada Tuhan. Kalimat yang sama tanpa bisa merubahnya. “Ya Tuhan, izinkanlah aku menghilang. Pergi, dari semua kehidupan”.
Aku rindu, tapi juga takut akan sebuah pertemuan.
Aku mencoba untuk tenang, namun jantungku berdetak keras. Aku mencoba untuk normal, namun semua melihat wajahku pucat. Mencoba menguatkan diri, tapi tanganku bergetar. Pukul 1 pagi ini. Setelah mengingat semua kenangan yang menguras air mata, membuat badan dan pikiran berjalan tidak searah. Pikiranmu tidak lagi menguasai badanmu, dan badanmu, enggan mengenali pikirnmu.
Dan kini, aku hampa. Aku, bagai raga tanpa jiwa. Aku, bagai hati tanpa rasa.

Kau sedih dan menangis itu bagus. Setidaknya kau bisa merasa. Sedang aku hampa dan kosong.

Rafika Surya Bono

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 komentar: