Cerpen SMA "Tentang Kita Aku"
Gue punya sebuah cerpen yang dulu pernah gue tulis buat tugas Bahasa Indonesia di SMA. Sekarang gue tulis ulang. Hihihi.. ada beberapa "gaya tulisan" novelis yang gue tiru di sini.
TENTANG
KITA AKU
Zzzzzztt…
malam ini terasa begitu dingin. Satu jaket seperti tak mampu menyelimuti tubuh
ini. Tapi aku suka dingin. Sudah lama aku merindukan dingin ini. Lama, malam
tak sedingin ini. Lama. Sangat lama. Lama? Entahlah, aku juga lupa. Yang saat
ini ku ingat hanyalah dia. Ia, dia. Aku ingat bahwa aku pernah bersama dia. Ia,
bersamanya. Dulu. Iya, dulu!
Dulu…
itu dulu.
Inilah
yang aku suka dari dingin. Dingin itu membangkitkan kesedihan. Aku bisa merasa.
Ia, merasakan kesedihan. Dikala dingin, aku bisa mengenang itu semua.
Sudah
pukul sebelas malam. Malam ini begitu mencekam. Rasanya aku mengingat sesuatu.
Tapi apa? Otakku mulai bekerja begitu keras. Sesekali pikiran itu timbul namun
langsung hilang seperti angin lalu. Ah, ada apa yang sedang terjadi pada
diriku? Ku coba tenangkan jiwa. Menghirup nafas panjang, lalu ku hembuskan.
Huffffft. Aku beranjak duduk ke atas kursi berwarna merah tua nan kusam di
pojok kanan kamarku. Seperti kursi tua itu, begitulah diriku kini. Kesepian
tanpa seorangpun di sisiku.
Aku
melihat sekeliling kamarku. Kamar itu begitu hampa. Entahlah, mungkin diriku
yang terlalu hampa sehingga apapun yang aku lihat tak ada artinya.
Seketika
tatapan ku terhenti pada sebuah benda di
bawah tempat tidur 45⁰ dari
kursi yang kududuki saat ini. Entah angin apa yang mengisyaratkanku untuk
melihat ke sana. Cahaya bulan seperti mengarahkan ku pada sebuah benda. Entah
benda apa itu, hati ini berbisik. Aku mendekatinya dan mengambil sebuah dus
yang dulu pernah aku campakkan ke kolong tempat tidurku. Begitu jauh ke dalam
dan sempit sehingga menyulitkanku untuk mengambilnya. Hanya dengan itu semuanya
bisa ku kenang kembali. Hanya saat dingin, dan dus kecil itu.
“fiuuuhh.
Uhuk uhuk”. Akh, butiran debunya begitu mempesona. Membuatku semakin
menginginkan dus ini. Sebuah dus yang hamper saja aku buang dulu. Saat ruangku
begitu resah hingga terburu-buru mengakhiri segalanya. Untung aku hanya
mencampakkannya ke kolon tempat tidurku.
Aku
tertawa sendiri melihat tulisan di kardus itu. Begitu bodoh dan
kekanak-kanakann. Aku bahkan lupa pernah menulis kalimat seperti ini:
Don’t open it…! Barang yang gak penting
Dari orang yang gak penting
Jangan di buka..!!
Tapi
mala minmi aku sangat ingin membukanya. Hanya
malam ini. Mungkin inilah yang membuat banyak
orang tak bisa sukses, kawan. Melanggar janji yang pernah ia buat dengan
dirinya sendiri. Dan mungkin juga saat hati dan otak tak bisa bersatu. Otak tau
kalau itu salah, tapi hati tetap ingin mencobanya. Itulah yang saat ini sedang aku lakukan.
Sreett..
aku monyobek lakban di kardus itu. Entah apa yang sedang aku rasakan saat ini.
Pikiranku tau kalau yang sedang aku lakukan ini salah. Tapi hati tetap ingin
melakukannya. Apapun itu,lakban ini sudah aku buka. Sudah terlambat jika aku
ingin menghentikannya.
Aku
megeluarkan satu persatu barang yang ada
di dalamnya. Tidak terlalu banyak, tapi cukup bagiku untuk mengenang semuanya.
Hatiku
tersentak saat melihat sebuah diary dan beberapa lembar kertas. Ku tutup kardus
itu cepat. Terisak. Luka sepertikembali
menghujam jantungku. Seketika aku menyelasal telah membuka kardus itu.
Karena dari duku aku tau, bahwa membuka kardus ini sama saja dengan aku
menggores luka di tempat luka pernah ia goreskan. Sama saja dengan aku
menancapkan belati di hati ku sendiri.
Aku
berusaha menghentikan air mataku. Tapi air mata ini seperti tak ingin diakhiri.
Seperti angin yang terus menggila malam ini. Seperti ingin menghadirkan masa
lalu itu. Seperti ingin aku utnutk mengkaji ulang semuanya.
Dan
aku memberanikan diri untuk kembali membuka kardus itu. 3 lembar kertas HVS dan
sebuah siary. Akhh,, aku benar-benar benci jika harus mengingat semua ini. Aku
tak ingin kembali lamah. Tapi udara dingin dan seluruh isi kamarku seperti
ingin aku melakukannya. Seperti ingin ikut merasakan apa yang dulu pernah aku
rasakan.
Dan
malam ini, agar kau juga ikut merasakan kawan, akan ku lengkapi mengenang
semuanya. Biarlah, malam iniakan kuceritakan semuanya. Biarlah, dingin ini
membuatku mengenang semuanya. Biarlah, biarlah. Hanya malam ini !
Aku
mengeluarkan kertas HVS itu. Apa yang sedang kau pikirkan tentang kertas itu
kawan? Sebuah lukisan? Sebuah foto? Atau denah harta karun? Tidak kawan. Kertas
itu adalah sebuah surat cinta. Surat cinta? Engan sebuah kertas HVS? Iya, itu
surat cinta. Sederhana. Hanya ditulis dengan tulisan tangannya yang kecil dan
jelek. Aku sedikit tertawa melihat bentuk tulisannya. Tapi itulah yang membuat
kau menyukainya. Sederhana. Ia begitu sederhana. Dulu, tapi itu dulu. Dulu Ia
begitu sederhana.
Aku
membaca tulisannya. Dengan perlahan membaca kata demi kata. Pernahkah kau
tersenyum dalam menangis, kawan? Ya, itu yang sedang aku lakukan. Kata-katanya
begitu indah menurutku, dan lagi, sederhana. Begitu sederhana. Tidk ada
sedikitpun kata-kata yang memujiku. Akh, aku benci mengenang ini semua.
Otakku
seperti terus memaksaku untuk kembali ke masalalu. Iya, ini tentang masa
laluku.
Tiga
setengah tahun yang lalu, aku mengenalnya. Tidak. Tidak. Aku sudah kenal jauh
sebelum itu. Kenal dan dekat dengannya, mungkin.
Dizaman
ini, jarak yang jauh bisa menjadi dekat. Dan sabaliknya, jarak yang dekat bisa
menjadi jauh. Sebuah telepon genggam membuat aku dan dia menjadi dekat.
Beribu-ribu kata telah kami kirimkan lewat pesan singkat setiap hari. Hingga
akhirnya, aku jatuh cinta kepada dia. Iya, begitu cepat aku mencintainya. Ia
memnuatku membutuhkannya. Membuatku menginginkan setiap hari mendapatkan pesan
darinya.
Dan
mungkin Ia juga merasakan apa yang sedang aku rasakan kala itu. Hingga
terciptalah tulisan di kertas HVS ini.
Tapi semua proses begitu lamban. Butuh waktu setahun untuk kami berdua untuk
saling mengungkapkan apa yang kami rasakan. Sampai akhirnya, kami memutuskan
untuk menjalin hubungan alias berpacaran. Kau pasti tau apa yang aku rasakan
kala itu, kawan. Bahagia, sangat bahagia. Mendapatkan dia. Terlalu indah saat
aku mendapatkan dia.dunia seperti milikku, kawan.
Tapi,
seiring berjalannya waktu, semua tak seperti yang aku harapkan. Terkadang, apa
yang terjadi tidak seindah apa yang kita inginkan dan harapkan. Tidak seindah
angan-angan saat kita menghayal.
Ia
lebih indah saat menjadi seorang sahabat daripada menjadi lebih dari itu banyak
hal yang disembunyikan saat berpacaran. Banyak hal yang dituntut saat pacaran. Banyak
hal yang harus diterima. Tidak seperti bersahabat, yang selalu menerima.
Karena
sebuah moment, aku meras jenuh dengan sikapnya. Aku erasa jenuh denga pacarku
sendiri. Aku tidak menyukainya setelah aku mendapatkannya. Semua tak seindah
saat kami masih bersahabat. Hingga pada akhirnya, aku mengakhiri segalanya. Ia,
segalanya. Aku mengakhiri segalanya.
Aku
baik- baik saja. Iya, aku baik-baik saja. Tidak, aju tidak baik-baik saja.
Tapi, aku baik-baik saja. Tidak. Tidak. AKU TIDAK BAIK-BAIK SAJA. Hatiku
berkelahi.
Apa
dia baik-baik saja? Entahlah, yang aku tau Dia begitu sibuk. Karirnya meroket.
Dulu, Ia bukan siapa-siapa, dan sekarang liahtlah. Dia menjadi siapa. Dia
menjadi seseorang yang dihargai banyak orang. Ia begitu sibuk dengan
orang-orang hingga Ia lupa denganku. Lupa? Tidak! Melupkan lebih tepatnya.
Ia
menjauh dariku. Sibuk dengan segala kesibukannya. Hingga pada suatu saat, aku
tiba pada titik dimana aku sangat membutuhkan kehadirannya. Aku butuh dia,
kawan. Aku sangat membutuhkannya. Aku menginginkan dia lagi. Aku menginginkan
dia kembali peduli padaku. Hanya Dia. Aku ingin waktu kembali diulang. Betapa
bodohnya aku waktu itu. Ruangku begitu resah, hingga aku mengakhiri segalanya.
Bodoh.
Aku
memasukkan lagi barang-barang itu ke dalam kardus. Sudah cukup bagiku untuk
mengenang semuanya. Sudah cukup bagiku untuk kembali mengingat Dia. Sudah cukup
bagiku untuk tau bahwa Dia baik-baik saja tanpa aku. Dia baik-baik saja tanpa
kau kawan. Tapi lihatlah aku. Menyedihkan untuk menjadi aku. Terlalu
kekanak-kanakan dan ceroboh.
Sering
aku berdo’a kepada Tuhan. Kalimat yang sama tanpa bisa merubahnya. “Ya Tuhan,
izinkanlah aku menghilang. Pergi, dari semua kehidupan”.
Aku
rindu, tapi juga takut akan sebuah pertemuan.
Aku
mencoba untuk tenang, namun jantungku berdetak keras. Aku mencoba untuk normal,
namun semua melihat wajahku pucat. Mencoba menguatkan diri, tapi tanganku
bergetar. Pukul 1 pagi ini. Setelah mengingat semua kenangan yang menguras air
mata, membuat badan dan pikiran berjalan tidak searah. Pikiranmu tidak lagi
menguasai badanmu, dan badanmu, enggan mengenali pikirnmu.
Dan
kini, aku hampa. Aku, bagai raga tanpa jiwa. Aku, bagai hati tanpa rasa.
Kau
sedih dan menangis itu bagus. Setidaknya kau bisa merasa. Sedang aku hampa dan
kosong.
.png)





0 komentar: