Sepak Bola, Bahasa Tak Terucap

"Benar kata ayah. Bahwa sepak bola berhasil menjadi bahasa tak terucap. Saat bermain bola, tidak ada beda mana miskin mana kaya."
****
Yaqub, pria empat puluh tahun bermata tak terlalu besar juga tak terlalu kecil. Beralis tebal, kulit sawo matang. Berambut lurus, memiliki tubuh yang kekar dan ideal. Ia sedang duduk di kursi VVIP bersama ribuan penonton lainnya yang memenuhi stadion. Penonton riuh meneriakkan kata "Indonesia" dan tangannnya setia di dada.
Senyumnya begitu mengembang saat kesebelasan Merah Putih memasuki lapangan. Terlebih saat anaknya, Rahmad, melambaikan tangan ke arahnya.
Ada haru yang tiba-tiba menghampirinya. Ada bangga yang tak mampu ia jelaskan dengan kata
Ia tak pernah menyangka, setelah 3 tahun mengecap pahitnya hidup, ia bisa kembali tersenyum selepas ini. Ini adalah kebahagiaan nyata yang ia rasakan tanpa embel-embel harta.
Benar. Kebahagiaan tanpa harta. Sudah 3 tahun Yaqub mengecap kejamnya hidup. Mengumpulkan botol-botol plastik, menyusun lembaran-lembaran karton, dan menjadi kuli angkat di pasar.
Pertemuan tiga puluh menit bersama para investor lainnya tiga tahun lalu telah mengubah hidup Yaqub 180 derajat. Perusahaannya bangkrut sebab Auditor kepercayaannya bermain mata dengan perusahaan lain. Memberikan laporan keuangan palsu yang membuatnya tidak mengetahui kondisi keuangan perusahaan. Uang ratusan milyar yang ia tanamkan lenyap dalam hitungan menit setelah PT Karimuntiang dinyatakan pailit. Seperti sinetron lebai indonesia lainnya, rumah dan seluruh harta benda yang dimiliki Yaqub disita bank beberapa bulan kemudian. Hingga tersisa baju yang ia pakai hari itu. Terpuruk. Pasti.
Lebih terpuruk lagi saat sang istri, Egeham, tak mampu melewati masa-masa suram bersama dirinya. Dua hari setelah penyitaan, Egeham memilih mengakhiri hidupnya dengan lingkaran tali setrika di lehernya.
Tersisa Rahmad, anak semata wayangnya yang menemani melewati sunyi yang saat itu berumur 7 tahun. Seperti cerita di novel indonesia kebanyakan, Yaqub tak mendapat pinjaman dari kolega-kolega yang dulu bermanis muka saat ia punya segalanya. Hingga hidup di jalanan adalah jalan terakhir menyambung hidup.
Untung saja Yaqub pernah diajarkan untuk tatap berdiri kokoh meski stunami menghampiri. Didikan ayahnya yang keras membuatnya bertahan meski dalam keterpurukan. Dihina mantan rekan kerja dan mantan bawahan menjadi rutinitas biasa meski hatinya menjadi kebas.
Pernah juga dimarahi pemilik warung sebab terlalu sering ngutang beras.
Sore itu, Yaqub baru saja pulang dari jalanan tuk mencari makan.
"Ayah, tadi aku mencetak dua gol di pertandingan antar kelas. Mudah saja bagiku mengelabui penjaga gawang tambun itu. Sorak-sorai, pujian, dan pelukan membanjiriku." cerita Rahmad bersemangat. Itu adalah kemenangan sepak bola pertamanya.
"Oh ya? Kau pandai bermain bola? Ayah tidak pernah melihatmu bermain dan kau juga tidak pernah bercerita." Yaqub heran. Rahmad hanya diam dan tersenyum.
"Hmm kau memang anak yang selalu bisa ayah banggakan." Ungkapnya sambil mengusap dan memeluk anaknya. Yaqub teramat menyayangi Rahmad, satu-satunya alasan ia meneruskan hidup.
"Tunggu, kakimu kenapa berdarah? Sini ayah lihat." katanya langsung memeriksa kaki Rahmad. Dengan sigap Yaqub langsung bergegas ke warung membeli perban. Dalam sekejap ia sudah memasang perban di kaki Rahmad.
"Tadi aku memakai sepatu bola Budi. Ternyata sepatunya sudah tipis. Entah bagaimana caranya aku menginjak silet di lapangan." Ceritanya sambil mengaduh sakit.
"Nak, mengapa kau tak pernah bercerita kepada ayah kalau kau menyukai sepak bola. Kalau ayah tahu, kan bisa ayah belikan sepatu" tuturnya kecewa.
"Tak apa ayah. Aku juga baru-baru ini mulai bermain bola. Lagi pula aku tidak ingin membebani ayah kalau harus membelikanku sepatu." ujarnya tersenyum.
"Siapa bilang ayah akan terbebani. Jangan sok tau kamu." katanya sambil menggelitik dan menggoda Rahmad.
Percakapan sore itu cukup membebani pikiran Yaqub. "Bagaimanapun caranya, besok aku harus bisa mengumpulkan uang untuk membeli sepatu bola." batinnya. Membahagiakan Rahmad adalah satu-satunya tujuan hidup yang ia miliki.
Semalaman ia tidak bisa tidur. Pukul Setengah empat pagi ia sudah berngkat menyusuri jalan. Mengumpulkan barang bekas dan mengangkut beras seperti di serial FTV Indoneaia alay lainnya.
Hasil kerja keras sehari ditambah pinjaman dari bos beras cukup untuk membeli sepatu bola bekas.
Rahmad menerima sepatu bola itu dengan haru. Ia memeluk ayahnya erat-erat lalu menangis. "Nak, jangan menangis. Kau adalah laki-laki. Jangan pernah menangis apapun yang terjadi dalam hidupmu. Kecuali karena satu hal."
"Satu hal?" tanya Rahmad bingung.
"Benar. Satu hal. Jika kau gagal membawa Indonesia juara di final piala dunia," katanya sedikit tertawa. (Tu yo. Indonesi Masuak Piala dunia se lah mustahil apalagi juara dunia. Hehehe).
Yaqub sering menyaksikan permainan sepak bola Rahmad sejak hari itu. Ia pulang lebih cepat dari jalanan jika rahmad mau bertanding.
Ia tak menyangka anaknya bermain sebegitu hebatnya. Menjadi pemain cadangan di tingkat kecamatan, pemain terbaik tingkat kota, peraih sepatu emas tingkat provinsi, dan lihatlah. Anaknya baru saja mencetak gol di Gelora Bung Karno.
Teriakan, sorakan, dan pujian penonton membuat air mata yang sedari tadi ditahannya, memberontak jatuh dari kelopak matanya. Ia masih tak percaya. Berada di antara ribuan penonton yang memuja anak tunggalnya. Anak yang pernah tak dianggap oleh sekitar sebab berasal dari ayah seorang pemulung.
Lihatlah.. Mentri Pemuda dan Olahraga pun memeluk anaknya saat pemasangan medali emas. Ribuan orang meneriakkan nama anak pemulung. Hal yang tak pernah diduga Yaqub sejak ia terpuruk dulu.
Yaqub menghampiri Rahmad dan memeluknya erat. Air mata meluncur mulus dari mata Yaqub. Milyaran kata tak mampu membahasakan kebahagiaan yang ia rasakan.
Cahaya kamera wartawan memecah keharuan antara Yaqub dan Rahmad. Wartawan berusaha menangkap momen luar biasa tersebut untuk dijadikan headline besok lagi. Mungkin judulnya akan seperti ini "2 Gol Anak Pemulung, Indonesia Juara".
Anak dan bapak tersebut dibanjiri pertanyaan dari pemburu berita. Hingga satu pertanyaan dari wartawan tentang bagaimana Yaqub memaknai hari ini. Sambil merangkul Rahmad.
"Rahmad hanyalah seorang anak pemulung. Tapi mungkin kakeknya benar. Dulu ayah saya juga menyukai sepak bola meski penikmat saja. Saya ingat beliau pernah berkata 'Sepak bola berhasil menjadi bahasa tak terucap. Saat bermain bola, tidak ada beda mana miskin mana kaya'. Dan ternyata itu benar adanya." ucapnya bangga.
"Rahmad hanyalah seorang anak pemulung. Tapi mungkin kakeknya benar. Dulu ayah saya juga menyukai sepak bola meski penikmat saja. Saya ingat beliau pernah berkata 'Sepak bola berhasil menjadi bahasa tak terucap. Saat bermain bola, tidak ada beda mana miskin mana kaya'. Dan ternyata itu benar adanya." ucapnya bangga.
*sekian*
Isinya lagi-lagi aneh. hahaha
Cerita ini hanya fitnah belaka. Jika ada kesamaan nama dan peristiwa hanyalah kebetulan belaka
.png)





0 komentar: