Tuhan Sekreatif Itu
"Dua ribu? Untuk apa uang dua
ribu?"
"Amak tidak punya uang untuk ongkos
pulang"
Aku mengerti apa yang sedang terjadi.
Sedari tadi aku menguping percakapan si pemilik kedai dengan amak yang biasa
membantu-bantu di kedai ini.
Ini adalah kedai lotek favorit kami. Kami suka menghabiskan beberapa menit
bahkan bisa sampai beberapa jam untuk sekedar makan lotek dan menghabiskan
waktu bersama.
Siang itu aku hanya berdua dengan Anggi.
Akhir-akhir ini, aku lebih suka beraktivitas sedikit lebih bersama Anggi dari
pada teman-teman lainnya. Sebab, dia gila dan apa adanya. Ku rasa untuk
berteman, aku tak punya banyak kriteria. Yang penting apa adanya dan jauh dari
berpura-pura. Bagiku, pertemanan sesederhana itu.
Aku dan Anggi memesan lotek dua porsi. Entah apa yang saat
itu aku bicarakan bersamanya, aku lupa. Yang pasti kami menikmati lotek ini.
"Kalau Mak Ijuih benar tadi menelpon ke sini dan tidak saya
angkat, pasti nomor mak Ijuih ada di daftar panggilan tak terjawab." kata
si pemilik kedai.
"Tadi saya ingin memberi tahukan kalau saya tidak bisa datang pagi.
Karena saya menghadiri rapat wali murid di sekolah si Ros." jelas Mak Ijuih
"Emangnya pergi rapat jam 7 pagi hingga tidak sempat pergi ke sini.
Piring banyak yang harus di cuci tadi pagi, dan saya yang harus
mengerjakannya." kata pemilik kedai kesal
"Iya tadi pagi saya pergi jam 7," bela Mak Ijuih
Ah, aku tahu Mak Ijuih ini berbohong. Mana mungkin rapat wali murid sepagi
itu, batinku.
"Alaahh.. Mak Ijuih. Saya tahu rapat wali murid itu seperti apa.
Mustahil rapatnya jam tujuh. Saya juga punya anak yang sedang sekolah."
ketus pemilik kedai.
Mak Ijuih hanya diam berdiri dan menatap TV.
"Sudah jam setengah satu mau ngapain lagi Mak Ijuih di sini. Pulang
saja! Percuma masih di sini." ucap pemilik kedai.
Mak Ijuih pun pergi.
Ku rasa ini memang salah Mak Ijuih hingga wajar pemilik kedai marah.
Piring Anggi sudah kosong. Sedangkan masih bersisa setengah porsi lotek
lagi di piringku.
Seorang gadis berjilbab merah membawa tumpukan piring bersih. Sepertinya
baru siap ia cuci. Ia berhenti di depan kedai ini. Aku tahu, ember berisi
piring-piring itu berat, terlihat dari mimik wajah si gadis yang menahan berat. Dia
sama dengan Mak Ijuih tadi. Profesinya sebagai penolong pemilik kedai sebelah.
( Aku orang minang. Dan di Minang, menyebut pembantu itu terasa kasar).
"Ngapain sama Amak buk." tanyanya.
Oh jadi Mak Ijuih itu ibunya, ucapku dalam hati
"Amak mu itu ada-ada saja perangainya. Aku suruh pulang saja. Sekarang
dia di mana?" \tanya pemilik kedai.
"Sedang duduk di tangga sana." Ia menunjuk dengan memonyongkan
bibirnya mengarah kanan. Sebab tangannya memegang ember berisi tumpukan piring.
"Ngapain dia duduk di sana?" tanya pemilik
kedai
"Buk, Amak minta uang dua ribu." jawabnya
"Untuk apa uang dua ribu?" Pemilik kedai kembali bertanya.
"Untuk ongkos pulang, Buk. Amak tak punya uang untuk ongkos
pulang." balasnya.
Jlebbb... bagai petir menyambar pohon kelapa. Bagai baru saja tak sengaja
bertemu seseorang yang dicintai dalam diam. Hatiku bergetar kemudian berdegub
kencang.
Ya Tuhan. Nyatakah yang baru saja ku dengar? Mak Ijuih tak punya uang dua
ribu untuk ongkos pulang. Ku harap aku salah dengar.
"Mengapa bukan dia saja yang memintanya sendiri." lanjut pemilik
kedai.
"Mungkin dia lupa buk." bela si gadis
Wahai Pemilik Bulan, ternyata ini nyata. Aku tidak salah dengar. Si pemilik
kedai memberikan uang kertas dua ribu rupiah kepada si gadis.
Setelah meletakkan ember berisi piring ke kedai sebelah, si gadis bergegas
menuju tangga tempat Mak Ijuih, ibunya, menunggu uang dua ribu untuk ongkos
pulang.
Aku menggeleng tak percaya.
Ternyata Tuhan sekreatif itu, batinku. Benar-benar kreatif. Di saat ribuan
orang di hari itu mungkin sedang berada di toko baju atau sepatu, Mak Ijuih tak
punya uang dua ribu untuk ongkos pulang.
Coba bayangkan jika tadi saat hendak ke kadai ini dia menyenggol telur
orang dan harus menggantinya. Apa yang bisa dilakukannya?
Aku tak bisa menerima kenyataan bahwa Tuhan sekreatif ini. Tak pernah
sekalipun benakku membayangkan ada kenyataan sepert ini.
Aku sadar Tuhan itu kaya. Tidak ada seorang pun yang bisa menandingi
kekayaannya. Bagaimana tidak, matahari, bulan, dan bintang itu miliknya.
Tidak ada satupun yang sanggup mengakusisi kepemilikan tersebut.
Laut dan gunung yang dipuja manusia itu baru satu per satu triliyun kekayaan
yang dimilikinya.
Namun Tuhan. Sampai detik ini kejadian tersebut masih menyisakan tanya mengapa di benak ini.
*sekian*
Keyword : Bulan
.png)






wahh...satu kejadian yang dialami orng lain dapat mnghasilkan narasi yang mnrik..
BalasHapustuhan memang kreatif, setiap harinya membrikan warna2 kehidupan yang berbeda kpda stiap hambaNYA
terimakasih sudah jalan-jalan di blog ini littaaaa :)))
Hapusoiii bonooohh, sugoiiiiiiiiiiiii :D
BalasHapusehh ada kak tata :* hahaha
Hapus