Ma Hero

21.30 0 Comments

Dia bagai malaikat di kelurga kami.

Tingginya 157 cm, kulitnya sawo matang, dan memiliki rambut bergelombang yang sudah sekitar sepuluh tahun ia sembunyikan di balik jilbabnya. Ia wanita yang  cantik, ceria dan yang terpenting ia cerdas. Teramat cerdas bahkan. Ia baik melebihi perempuan lain sebaya dirinya. Ia berkorban demi keluarga melebihi tanggung jawab nya. Mungkin baginya keluarga adalah segalanya.

Kecerdasan yang ia miliki membuat keluarganya mulai bangkit dari keterpurukan. Sikapnya yang terhormat dan pembawaannya yang tenang membuat orang-orang di sekitar menyeganinya. Keberhsilan yang ia raih membuat keluarganya mulai disegani orang-orang. Dan cintanya kepada keluarga membuat ayah,ibu, dan adik-adiknya berani tersenyum dan tertawa tanpa beban.
Benar. Selama ini kami tertawa namun ada kesedihan dan ketakutan yang kami pendam. Takut besok harus makan apa. Takut besok tidak bisa ke sekolah karena tidak ada ongkos. Takut besok akan ada orang marah-marah meminta uang yang kami pinjam untuk segera dikembalikan karena tidak bisa membayar sesuai janji. Benar. Dulu hari-hari kami dipenuhi oleh ketakutan.

Dulu aku bahkan tak berani berani  bisa kuliah dengan fasilitas  mewah yang kini ku nikmati. di kelas setara ekonomi keluargaku, aku termasuk orang yang kini mewah dalam kuliah. Mewah dalam pandanganku kini bukan seperti di kota-kota besar lainnya atau seprti fasilitas yang dimiliki teman-teman kampus ku yang lain. Tidak. Tolong jangan bayangkan aku mewah dalam arti aku mengendarai mobil Honda jazz ke kampus, nongkrong di café-café elit, dan gonta-ganti  gedjet keluaran terbaru. Tidak. Tidak. Aku ke kampus menggunakan angkot atau bus kampus karena aku memang tak punya Honda Jazz. Aku tidak pernah nongkrong di café-café mewah karena uang jajanku menag tidak memungkinkan aku tuk bisa melakukanny. Dan handphone ku smartphone yang hanya bisa menampung tiga aplikasi karena memorynya yang terbatas.

Bagiku bisa kuliah dan makan setiap hari dengan baik adalah kemewahan harganya tak terkira. Menikmati waktu kuliah tanpa harus memikirkan apakah minggu ini ibu ada uang untuk dikirimkan kepadaku. Aku tak perlu pusing memikirkan uang untuk membayar kosan. Aku bahkan tidak harus mencari kosan yang murah.

 “Terserah kamu mau cari kosan yang mana. Yang penting aman dan nyaman,”suara tulus kakak di ujung telepon.

“Ada kosan yang murah Ni. Dari halte bus jalan dulu sekitar lima menit. Kosannya lumayan  bagus dan harganya ekonomis ditambah ga perlu bayar ongkos karna bisa naik bus kampus,” jawabku.

“Ga ada kosan yang di tepi jalan? Biar kalo telat pulang dari kampus ga harus jalan jauh,”
“ada sih Ni. Tapi lumayan mahal dan ga bisa naik bus. Harus naik angkot,”

“Ga papa naik angkot asalkan aman. Kalo soal uang kamu ga perlu mikirin. Nanti uni kasih juga uang buat bayar angkot.”

Kira-kira percakapan tersebut terjadi setahun yang lalu. Saat aku masih tinggal di asrama dan harus segera pindah karena jatah tinggal di asrama hanya setahun.

“Assalamualaikum Ni,”
“Waalaikum salam,”

“Ni, ko Fika,”

“Oh iya ada apa ka?”

“Uni sadang sibuk? Lai ndak manggaduh ka do?”

“oh ga kok,”

“Uni, urang nio mangecek an uang kos.,”

“Oh iya bulan Mei kan?”

iyo ni. Hehe urang takuik uni lupo tu takajuik se pas bulan Mei,”

“hmm ga kok. Uni inget. Berapa jumlahnya? Oh oke-oke nanti awal Mei uni transfer yaa”

Itu percakapan melalui telepon beberapa hari yang lalu dan aku menangis setelah telepon ku tutup. 


*bersambung

Rafika Surya Bono

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 komentar: