Ma Hero
Dia bagai malaikat di kelurga
kami.
Tingginya 157 cm, kulitnya sawo
matang, dan memiliki rambut bergelombang yang sudah sekitar sepuluh tahun ia
sembunyikan di balik jilbabnya. Ia wanita yang
cantik, ceria dan yang terpenting ia cerdas. Teramat cerdas bahkan. Ia
baik melebihi perempuan lain sebaya dirinya. Ia berkorban demi keluarga
melebihi tanggung jawab nya. Mungkin baginya keluarga adalah segalanya.
Kecerdasan yang ia miliki membuat
keluarganya mulai bangkit dari keterpurukan. Sikapnya yang terhormat dan
pembawaannya yang tenang membuat orang-orang di sekitar menyeganinya.
Keberhsilan yang ia raih membuat keluarganya mulai disegani orang-orang. Dan
cintanya kepada keluarga membuat ayah,ibu, dan adik-adiknya berani tersenyum
dan tertawa tanpa beban.
Benar. Selama ini kami tertawa
namun ada kesedihan dan ketakutan yang kami pendam. Takut besok harus makan
apa. Takut besok tidak bisa ke sekolah karena tidak ada ongkos. Takut besok akan
ada orang marah-marah meminta uang yang kami pinjam untuk segera dikembalikan
karena tidak bisa membayar sesuai janji. Benar. Dulu hari-hari kami dipenuhi
oleh ketakutan.
Dulu aku bahkan tak berani berani bisa kuliah dengan fasilitas mewah yang kini ku nikmati. di kelas setara
ekonomi keluargaku, aku termasuk orang yang kini mewah dalam kuliah. Mewah
dalam pandanganku kini bukan seperti di kota-kota besar lainnya atau seprti
fasilitas yang dimiliki teman-teman kampus ku yang lain. Tidak. Tolong jangan
bayangkan aku mewah dalam arti aku mengendarai mobil Honda jazz ke kampus,
nongkrong di café-café elit, dan gonta-ganti
gedjet keluaran terbaru. Tidak. Tidak. Aku ke kampus menggunakan angkot
atau bus kampus karena aku memang tak punya Honda Jazz. Aku tidak pernah
nongkrong di café-café mewah karena uang jajanku menag tidak memungkinkan aku
tuk bisa melakukanny. Dan handphone ku smartphone yang hanya bisa menampung
tiga aplikasi karena memorynya yang terbatas.
Bagiku bisa kuliah dan makan
setiap hari dengan baik adalah kemewahan harganya tak terkira. Menikmati waktu
kuliah tanpa harus memikirkan apakah minggu ini ibu ada uang untuk dikirimkan
kepadaku. Aku tak perlu pusing memikirkan uang untuk membayar kosan. Aku bahkan
tidak harus mencari kosan yang murah.
“Terserah kamu mau cari kosan yang mana. Yang
penting aman dan nyaman,”suara tulus kakak di ujung telepon.
“Ada kosan yang murah Ni. Dari
halte bus jalan dulu sekitar lima menit. Kosannya lumayan bagus dan harganya ekonomis ditambah ga perlu
bayar ongkos karna bisa naik bus kampus,” jawabku.
“Ga ada kosan yang di tepi jalan?
Biar kalo telat pulang dari kampus ga harus jalan jauh,”
“ada sih Ni. Tapi lumayan mahal
dan ga bisa naik bus. Harus naik angkot,”
“Ga papa naik angkot asalkan
aman. Kalo soal uang kamu ga perlu mikirin. Nanti uni kasih juga uang buat
bayar angkot.”
Kira-kira percakapan tersebut
terjadi setahun yang lalu. Saat aku masih tinggal di asrama dan harus segera
pindah karena jatah tinggal di asrama hanya setahun.
“Assalamualaikum Ni,”
“Waalaikum salam,”
“Ni, ko Fika,”
“Oh iya ada apa ka?”
“Uni sadang sibuk? Lai ndak manggaduh ka do?”
“oh ga kok,”
“Uni, urang nio mangecek an uang kos.,”
“Oh iya bulan Mei kan?”
“iyo ni. Hehe urang takuik uni lupo tu takajuik se pas bulan Mei,”
“hmm ga kok. Uni inget. Berapa
jumlahnya? Oh oke-oke nanti awal Mei uni transfer yaa”
Itu percakapan melalui telepon
beberapa hari yang lalu dan aku menangis setelah telepon ku tutup.
*bersambung
.png)






0 komentar: