'Buta Al-quran', Tamparan Keras atas Kenyataan, Alat Pencitraan

09.42 0 Comments


Pelaksana Tugas (Plt) DKI Jakarta Basuki Tjhaja Purnama atau Ahok kian melebarkan sayapnya di media massa. Sekelumit perdebatan akan kursi nomor satu di DKI Jakarta membuat Ahok gencar menarik simpati rakyat Ibukota. Karakternya yang keras dan latar belakang agama membuat beberapa pihak tak menginginkan dirinya memangku jabatan yang sedang diperdebatkan.
Baru-baru ini kata-kata 'Buta Al-quran' yang ia lontarkan membuat saya secara pribadi ditampar oleh kenyataan. Seperti yang dikutip dari merdeka.com, ahok mengatakan "Pemprov DKI Jakarta mendorong agar warga DKI terutama yang islam tidak ada yang buta Al-quran dan juga tahu arti ayat yang dibaca."
Kalimat tersebut keluar dari mulut seseorang yang bahkan tak mengerti islam dan Al-quran. Tersirat kalimat pelecehan setidaknya untuk skop terkecil yaitu diri sendiri. Seperti mendengar dua orang yang sedang berbisik yang membuat telinga dan hati terusik. "Urang islam tu islam KTP se tu nyo. Ndak ado gai nan ngarati  isi Al-quran sabananyo do. Pandainyo maeboh-eboh mangatoan Al-quran tu pegangan iduik, tapi ndak memahami isi Al-quran. Urang islam aa loh tu, buta Al-quran."
Itu yang dapat saya ambil kesimpulan dari makna kalimat ahok yang tidak tersurat.
Dalam masa perebutan jabatan tersebut, Ahok terkesan sedang melakukan pencitraan terhadap umat islam agar nanti keberadaannya diterima denga lapang dada.
Tersirat misi terselubung saat Ahok menarik simpati muslim dengan menyadarkan muslim itu sendiri. Saya yang orang awam akan agama dan politik ini membatin licik. "Untuk apa seseorang yang beragama A, melirik kelemahan pemeluk agama B, kemudian berupaya untuk memperbaiki pemeluk agama B?" Jawabannya adalah pencitraan. Hanya itulah satu-satunya alasan 'negara seberang' berbaik hati kepada 'negara' ini. Sebab, bukankah akan lebih baik baginya dan rakyatnya untuk memperluas 'komoditi' negaranya dibanding memperbaiki kualitas 'komoditi' negara lain? Bukankah dalam keyakinannya dengan memperluas 'komoditi' negaranya, ia akan mendapatkan pahala dari 'pemilik negaranya' ? Sebaliknya, bukankah ia tahu, bahwa yang ia lakukan akan membuat 'pemilik negaranya' tak suka?
Lalu untuk apa dia bersusah payah melakukan hal itu kecuali pencitraan.
Sungguh saya mengerti dan menyadari gagasan-gagasan yang dilakukan Ahok benar adanya. Namun, akan lain maknanya jika dinilai dari persepsi yang berbeda.
Kemudian ucapannya yang juga dilansir dari merdeka.com. "Saya punya teman di DPR yang suka pakai peci dan baju koko, tapi gerakan salatnya salah." ujarnya sambil tertawa. Lagi-lagi saya mengartikannya seperti ini. "Urang islam apo lo tu, salat se ndak salasai do. Peci lai gagah rapi di kapalo."
Begini, jika memang ia menginginkan tahta tersebut, tak perlulah dengan menggadang-gadangkan perbaikan terhadap sebuah keyakinan. Tak perlu dengan pencitraan atas nama keprihatinan.
Ada konflik batin saat seorang Ahok yang mengucapkannya dan ribuan muslim mengamini apa yang dia pikirkan.
***
Curahan hati seseorang yang belum beragama dengan benar dan tak mengerti politik.
(Malam ke tiga yang idenya muncul secara tiba-tiba dan tak mengerti dengan tulisan sendiri. Hahaha)

Rafika Surya Bono

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 komentar: