"Atau mungkin, gue pindah jurusan aja kali ya ?"

09.52 0 Comments

Untuk mulai menulis catatan malam kedua ini, gue membutuhkan rangsangan secangkir cappuccino dan biskuit roma kelapa agar mata mau bersahabat. Mungkin orang-orang benar, bahwa kopi/cappucino bisa membunuh gue.
"Setidaknya kopi sudah mau berbaik hati membantuku membunuh rindu." itu yang selalu hati gue ucapkan.
Sudah pukul 22.47 wib dan Amoy sudah nge-post di kompasiana.
Sedangkan gue sedang berusaha untuk membuat mata ini tidak menyatu dalam rindu #eh
Baiklah, sebelum jam 12 malam tulisan ini sudah harus di publish. Tulisan ini disponsori oleh 'kegelisahan' gue berada di kampus. Di mana isinya (lagi-lagi) tak sesuai dengan judul. Cekidot
"Atau mungkin, gue pindah jurusan aja kali ya?" Kalimat ini yang beberapa bulan belakangan selalu terngiang dalam pikiranku. Aku sedang duduk di Lantai Lima Perpustakaan salah Universitas terbaik negeri ini. Sendiri, menatap sekeliling dengan sepi. Aku tau, di sini teramat ramai, tapi peduli apa dengan keramain jika mata tetap tak mampu menangkap bayangmu.
Aku sedang berusaha menemukan uang berupa angka-angka yang bagiku nista. Membunuh saraf -saraf  di kepala yang membuat  tubuh malas berkarya. Kepala sudah berontak meminta berhenti sedari tadi, tapi hati meyakini jurnal ini harus diakhiri. Seperti pikiran yang susah-payah memaksa hati untuk berhenti mencintai, namun hati meyakini kalau ia bisa mengakhiri dengan baik. Namun jurnal ini tak kunjung ku selesaikan dengan benar. Ada sisa-sisa aktiva yang dengan manja minta diperhatikan lebih, dan aku membencinya. Seperti sisa-sisa rindu, yang tak bisa ku kendalikan dengan benar dan (terkadang) aku membencinya.
Aku menutup buku Akuntansi dengan kasar. Seperti menampar wajah sendiri, sakit. Karena berada di sini adalah pilihan meski tak sepenuhnya dari hati. Sebab, jika menuruti semua kata hati, akan ada sisa-sisa yang akan menyakiti. Itulah mengapa terkadang lebih baik memilih apa kata logika daripada mengikuti semua kehendak hati.
Aku menuruni anak-anak tangga dengan hampa. Aku butuh rindu penghapus pilu, keluhku.  Gedung abu-abu adalah saksi bisu betapa aku mau hadirmu.
***
Pukul 11.27 siang.  33 menit lagi mata kuliah ini akan berakhir. Berada di kelas Manajemen Keuangan yang berbicara tentang mengatur keuangan perusahaan. 'Uang ku saja tak mampu aku mengaturnya, apalagi keuangan perusahaan," batinku jengkel. Aku sungguh malas berlama-lama di kelas, apapun pembahasannya. Dengan slide-slide Akuntansi dan para kroni. Membicarakan masa depan ekonomi negeri ini. Memenjarakan keinginan-keinginan yang selama ini berada di list mimpi.
"Aku tak pernah membayangkan akan berada di kelas untuk menghitung harga saham obligasi, mempelajari peperangan pemasaran perusahaan odol gigi dan sabun mandi, dan jurnal-jurnal akuntansi lainnya." teriak batin ini yang hanya bisa menyalin slide-slide dari pemberi materi.
Ternyata kuliah serumit ini. Jurnal-jurnal Akuntansi yang hobi membuatku depresi. Salahku mungkin, sebab lebih memilih Akuntansi dibanding (syalalalala). Kebebasan berimajinasi jadi seperti ilusi yang berkompromi melemahkan batin ini.
Berkali-kali aku mencari celah untuk lari dari Akuntansi.  Tapi ke mana pun aku lari, aku tetap tak bisa lari dari diriku sendiri apalagi Akuntansi
Satu hal yang selalu ku yakini bahwa kini aku sedang tersesat. Tersesat di jalan yang benar, pasti.
Hingga kalimat "Atau mungkin, gue pindah jurusan aja kali ya?" hanya ilusi yang kian diucapkan kian menusuk hati. Sebab ku sadari, aku tak akan bisa lepas dari Akuntansi. Sama. Seperti aku tak akan mampu membunuh rindu.
11.56 Wib. Kelas berakhir lebih cepat.
###
Gaje malam ini berakhir sampai di sini.
Maaf karna lagi-lagi tak mampu menulis dengan benar. Pffftt

Rafika Surya Bono

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 komentar: