Tak lagi sama

08.52 0 Comments

Sepertinya ruangan itu tak lagi sama. Berat sekali kakiku melangkah untuk sampai di tempat selama ini kami menghabiskan hari bersama. Sulit sekali tanganku untuk bertingkah normal. Keras sekali otot lurikku untuk memindahkan tangan ini dari dada.
Aku masih tetap menekan dada agar hati ini percaya bahwa kakiku sanggup melangkah hingga ujung sana.
Selamat sore.
Ini adalah sore kedua sejak kakiku memiliki beban untuk melangkah ke tempat itu. Jalan menuju sana masih tetap ramai meski tak seramai saat terakhir kami menangis bersama.
Aku bahkan baru ingat bahwa pada hari itu jalan ini tak seramai sekarang. Jalan ini hanya kami yang menguasai. Tak perduli orang ingin menggunakannya juga, kami masih saja memonopoli jalan ini. Kami masih saja duduk lemah tak berdaya. Kami masih saja memutar memory tentang apa yang telah kami lakukan bersama. Ya Tuhan, tidak ada yang dapat kami lakukan kecuali duduk lemah tak berdaya.
Selamat sore.
Aku sedang duduk di tempat kami biasa duduk bersama. Tertawa bersama, makan goreng Teguh bersama hingga terakhir saat kami menatap mereka lemah tak berdaya.
Tempat ini tak lagi sama. Tak sama lagi dan tak akan akan pernah sama.
Sebuah kue ulang tahun meramaikan 'rumah' kami. Ada kegembiraan karna salah seorang anggota keluarga merayakan ulang tahunnya. Kami memberikannya kejutan berupa kue dan nyanyian selamat ulang tahun.
Semua anggota keluarga tampak bahagia. Semuanya. Aku juga bahagia. Bahagia juga. Berusaha untuk juga bahagia. Aku berusaha untuk tampak bahagia juga lebih tepatnya.
Setelah perayaan usai, kami kembali duduk di tempat biasa yang telah aku ceritakan sebelumnya.
Aku duduk. Diam. Tersenyum. Mencoba untuk membaur dengan keluarga lainnya.
Tapi wajahku tak cukup pintar untuk menyembunyikan kesedihan di hati ini. Wajahku tak cukup lihai untuk bersandiwara dan mengatakan aku baik-baik saja. Karena sungguh aku sedang tak baik. Aku sungguh merasakan kehampaan yang tak mampu ku jelaskan. Aku tak bisa menyembunyikan kesedihan atas nama kehilangan.
Aku sibuk menatap layar handphone. Tidak ada pesan, bbm atau apapun yang mengharuskanku untuk menatap layar hp ini.  Aku berusaha untuk menghilang dari hiruk-pikuk kegembiraan. Aku ingin menghilang. Itulah yang aku inginkan. Sungguh otakku bekerja keras saat melihat orang-orang masih bisa tertawa seperti biasa di hari kedua. Sungguh hatiku bertanya-tanya makna air mata di hari-H.
Atau mungkin aku terlalu naif untuk memikirkan orang-orang yang (mungkin) telah melupakan hari bersejarah itu. Atau mungkin juga karena aku berlebihan memaknai perpisahan ini. Entah karna aku memendam rasa sedih dalam hati hingga rasa sedih ini bernaung terlalu lama. Aku tak mengerti, sungguh tak mengerti.
Setidaknya air mata yang berlinang dan satu isakan membuatku kembali merasakan kehilangan. Seseorang menyadari kediaman dan tingkah lakuku yang tak berbaur. Seseorang baru saja memergoki kehampaanku. Seseorang yang menyadarkanku hingga membuatku terisak dalam satu senyuman. Seseorang yang mungkin mendengar apa yang sedang hatiku teriakkan.
Bersambung...
*sore kedua 260814

Rafika Surya Bono

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 komentar: